
BUAGH!
Aku meninju Yogi dengan sekuat tenaga hingga membuatnya terjerembab ke samping.
Aku pikir ada apa dengan matanya yang terasa aneh saat menatapku. Kupikir dia tidak menyukaiku seperti kata Romi. Tapi ternyata ini malah sesuatu yang lebih gila.
Gegas aku bangkit berdiri. Aku mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu karena kuncinya sudah dibuang oleh Yogi.
HAP! BRUGG!!
Yogi menangkapku lagi dari belakang hingga kami terjatuh dengan Yogi yang menindihku.
"Jangan pergi Ndri!"
"Dasar nggak waras!! Lepasin!!"
Mataku melotot kala ia mendekatkan wajahnya hendak menc1umku.
Aku mengepalkan tangan hendak meninju wajahnya.
GREP!!
Yogi yang duduk di perutku dengan mudahnya menahan pukulanku.
"Yogi!! G1LA KAMU!!" teriakku kala ia menahan kedua tanganku ke atas kepalaku. Lalu dia kembali mendekatkan wajahnya lagi.
Aku menelan ludah dengan segala kengerian.
DUAGG!!
Yogi mengerang kesakitan saat kubenturkan kepalaku sendiri ke kepalanya sekeras mungkin.
Saat dia lengah, segera kudorong tubuhnya menjauh dariku.
Sesuatu terasa mengalir dari hidungku. Saat kuseka, ternyata itu darah.
Saat kutatap Yogi, dia malah menatapku dengan penuh kasih yang membuatku semakin ngeri.
"Aku menyukaimu Ndri!"
BUGG!!
Satu bogeman dariku kembali mendarat di wajahnya.
"Kau belum sadar juga. Sepertinya pukulanku kurang keras ya!"
"Tidak Ndri! Aku sadar sepenuhnya. Aku tahu apa yang aku ucapkan. Aku mencintaimu Ndri!" Yogi bangkit dan hendak memelukku lagi.
DUAG!!
Kutendang dia hingga jatuh terjengkang. Saat ia hendak bangkit lagi, aku langsung memukulinya lagi.
Aku baru berhenti memukul saat ia sudah tak bergerak lagi. Yogi pingsan. Aku segera menyingkir dari tubuhnya yang aku tindih.
"Dia nggak mati kan?!"
Aku bernafas lega saat melihat dadanya naik turun yang artinya dia masih bernafas.
__ADS_1
Apa aku terlalu berlebihan sampai membuatnya pingsan? Tidak! Jika mengingat apa yang akan dia lakukan padaku, aku melakukan ini sebagai bentuk pertahanan diri!
Sekarang, gimana caranya aku harus keluar dari kamar ini sedangkan Yogi sudah membuang kuncinya.
Aku sudah mencoba untuk mendobraknya tetapi tidak terbuka juga.
Mataku menangkap kursi milik Yogi. Mungkin jika knopnya rusak, makan pintunya akan bisa terbuka.
Kuraih kursi itu dan menyeretnya ke pintu.
BRAG!!
Aku menghantamkan kursi itu ke knop pintu.
Satu kali masih belum rusak. Dua kali, tiga kali, empat kali baru knop pintu rusak. Akhirnya pintu itu bisa kubuka.
Biarlah pintu itu rusak. Yang penting aku bisa keluar dari sana.
Aku masuk ke dalam kamar Romi dan langsung menguncinya. Aku tidak mau orang gila itu menerobos masuk ke dalam kamar.
Aku pun langsung merebahkan tubuhku.
"Haaah.."
Aku nggak nyangka Yogi ternyata orang yang seperti itu.
Siapa yang bakal menduga cowok yang dikenal cuek seperti dia malah menyukai cowok?
Tadi itu hampir saja!
_________
Ketukan keras di pintu membangunku.
Itu bukan Yogi kan?!
"Ndri buka pintunya!" terdengar suara Romi dari luar membuatku bernafas lega. Dengan segera aku membuka pintu.
"Ini baru jam sembilan. Kenapa pintunya sudah dikunci?" protes Romi yang masuk ke dalam kamar.
Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Apa aku katakan saja yang sejujurnya tentang Yogi ke Romi?
"Tunggu Ndri! Itu tangan kamu kenapa? Kamu habis berantem sama siapa sampai merah gitu? Apa kamu ketemu sama Papamu lagi dan berantem sama dia?!" cerca Romi dalam satu tarikan nafas.
Aku menatap buku-buku jariku yang memar karena memukuli Yogi tadi. Aku bahkan tidak menyadarinya.
"Aku akan pindah dari sini Rom!" ucapku mengabaikan pertanyaan Romi.
"Apa?! Kenapa tiba-tiba? Kan aku udah bilang nggak usah. Kamu di sini aja. Aku nggak keberatan kok!"
Aku menghela nafas panjang. "Nggak bisa. Yogi itu belok!"
"Ha? Maksudnya?" Romi mengernyitkan alisnya bingung.
"Dia itu suka sama cowok! Baru beberapa jam yang lalu dia nyatain perasaannya ke aku!"
__ADS_1
Romi malah tertawa mendengar ucapanku. "Kamu ini pasti lagi ngigau karena barusan bangun tidur kan Ndri? Masa iya Yogi gitu?"
"Aku nggak ngigau Rom! Ini beneran!"
"Kalau Yanto yang bilang suka ke kamu sih, aku percaya-percaya aja. Lah, masalahnya ini Yogi. Orang yang setahuku irit banget kalau bicara! Kek orang yang pakek odol, tapi odolnya udah tinggal dikit!"
"Kalau nggak percaya lihat aja dia di kamarnya!"
Meskipun terlihat bingung, Romi tetap keluar untuk melihat Yogi di kamarnya.
Tak berapa lama kemudian dia kembali lagi.
"Ndri! Kamu apain anak orang sampek bonyok gitu?!"
"Bodo amat! Orang dia tadi mau ny1um aku!"
"Apa?!" Romi terbelalak tidak percaya.
"Iya! Makanya aku pukulin dia! Ketimbang nanti malah disosor!"
"Itu pintu kamarnya juga rusak. Kamu juga yang rusakin?"
"Iya. Yogi mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya ke luar jendela!"
"Gila!! Sulit dipercaya! Apa jangan-jangan selama ini dia cuek saat digodain cewek di lantai satu karena ternyata dia belok ya?" Romi bermonolog sendiri. "Jangan-jangan yang booking Yanto juga dia lagi! Gilaa!! Gimana kalau nanti dia juga ngincer aku?!"
"Emangnya selama ini dia kayak gimana sih Rom? Kamu kan udah lama tinggal di sini? Masa nggak tahu kalau dia itu belok?"
"Kan udah kubilang, dia itu kalau ngomong irit banget! Senyum aja kayak udah punah dari wajahnya! Aku nggak nyangka kalau dia kayak gitu! Gimana awalnya bisa kejadian gini Ndri?!"
Aku pun menceritakan kejadian tadi ke Romi. Dia terlihat benar-benar tidak menyangka bahwa Yogi seperti itu.
Kalau dia aja yang udah lama tinggal di sini nggak tahu tabiat sebenarnya Yogi, apalagi aku?
_________
Dok dok dok!
Aku terbangun mendengar suara palu dari kamar sebelah. Sepertinya itu kamar Yogi. Mungkin lagi renovasi pintu kamar yang aku rusakin tadi malam.
Romi masih ngorok di bantalnya. Hari ini tanggal merah katanya. Makanya dia masih tidur karena kantor libur.
Aku yang pengangguran, buta tentang kalender. Sepertinya Papa juga lupa kalau hari ini tanggal merah. Masa iya dia nyuruh anaknya ke kantor saat libur.
Aku mengemasi barang-barangku ke dalam tas.
Rencananya siang ini aku akan pergi lihat-lihat tempat yang cocok untuk kutinggali.
Aku membuka pintu kamar sedikit. Melongokkan kepala di celah pintu. Mengintip kamar sebelah, celingak-celinguk mencari keberadaan Yogi.
Setelah kurasa aman, aku langsung bergegas ke kamar mandi.
Bodo amat kalau dia ngelaporin aku ke Ibu kos kalau aku yang ngerusakin pintu itu. Toh aku juga akan keluar dari kosan ini.
Baru juga aku masuk ke salah satu kamar mandi, seseorang mendorongku dan juga ikut masuk.
BRAGG!!
__ADS_1
Yogi menyudutkanku ke dinding kamar mandi. Aku mendelik ke arahnya.
Apa semalam pukulanku kurang keras?! Sepertinya otaknya masih geser!