KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Semua Pasti Akan Baik-baik Saja


__ADS_3

"Sa? Tisa?" Aku masih setia mengetuk pintu Tisa dengan perasaan khawatir.


Sebenarnya kenapa aku merasa seperti ini?


Aku merasakan akan terjadi sesuatu.


"Mas! Tolong saya!" seru seorang wanita dari arah pagar kosan.


Saat menoleh, aku terkejut melihat bajunya yang terkena noda darah.


"Tolong teman saya Mas!" ucapnya dengan menangis. Badannya gemetar.


"Ada apa Mbak? Mbak kenapa?" Aku segera menghampirinya.


"Tolong teman saya Mas! Di ada di sana! Ayo ikut saya!" tanpa menjelaskan apa yang terjadi, wanita itu berlari.


Segera aku mengikutinya. Dia terus menangis sambil terus berlari.


Sebenarnya apa yang terjadi? Perasaanku semakin tak enak saja!


"Mana orangnya Mbak?" tanyaku padanya karena dia terus berlari tanpa mengatakan apapun.


Gimana kalau ternyata ini penipuan?


"Itu Mas di sana!" ujarnya sambil sesenggukan.


Segera aku mengikutiku arah pandangannya.


Nafasku tercekat begitu melihat tubuh tergelak di ujung gang sana. Dari jauh aku sudah mengenali postur tubuh itu.


Nggak! Bisa saja cuma posturnya aja yang sama!


Aku berusaha berpikir positif sambil terus berlari menghampiri tubuh tergeletak itu.


Tapi nyatanya percuma aku berpikiran positif. Karena itu memang dia.


"TISA?!" seruku tercekat. "Tisa! Apa yang terjadi?! Kenapa perutmu berdarah?!" segera aku meraih kepalanya dan menaruhnya dipangkuan.

__ADS_1


Jadi ini alasan kenapa perasaanku tidak enak tadi.


"Tadi ada jambret Mas. Mbaknya ditusuk jambret!" jelas wanita tadi.


"Cepat telfon ambulance!"


"Sudah Mas, tapi kita harus keluar dari gang dan ke jalan raya. Karena mobil ambulance nggak bisa masuk sini!"


"Ndri..." Tisa mengeluarkan suara dengan air mata mengalir di sudut matanya.


"Jangan menangis, kamu akan selamat!" segera aku mengangkat tubuh Tisa dan menggendongnya.


Tisa akan baik-baik saja. Aku yakin itu!


Aku terus berusaha membisikkan kata-kata itu meski di lubuk hatiku ada rasa takut.


"A-aku takut Ndri..." lirih Tisa.


"Jangan takut Sa, ada aku di sini! Kamu akan selamat! Aku ada di sini!"


Kupercepat langkahku. Aku harus segera sampai ke jalan raya.


Saat menunduk melihat Tisa, dia hendak menutup matanya.


"Tidak Sa! Jangan tutup matamu! Buka terus matamu!" Tisa membuka matanya mendengar suaraku. "Ya, seperti itu! Terus lihat aku dan jangan tutup matamu!" air mata yang sedari tadi kutahan-tahan akhirnya keluar juga.


Aku tak bisa menghapusnya karena kedua tanganku menggendong Tusa. Padahal aku tak ingin menangis di depan Tisa agar dia tetap merasa tenang ada aku sampingnya.


Aku terus berlari. Entah kenapa jalan yang biasanya terasa dekat kini terasa begitu jauh.


Aku mendengar Tisa seperti bergumam sesuatu.


"Ada apa Sa? Bertahanlah sebentar lagi!"


"Berhentilah sebentar..." lirih Tisa membuat langkahku terhenti.


"A-aku mencintaimu Ndri..." lirih Tisa. "A-aku minta maaf... a-aku tak benar-benar marah padamu..."

__ADS_1


Air mataku kembali luruh, tak kuasa lagi aku terus menahannya. "Aku juga mencintaimu Sa. Maka dari itu, bertahanlah sebentar lagi!"


"Maaf ya Ndri..." lirih Tisa lagi.


"Kenapa kau minta maaf. Semua akan baik-baik saja. Kau akan selamat, dan kita akan menikah!"


Kulihat Tisa hendak menutup matanya.


"Tidak Sa! Jangan tutup matamu! Buka matamu Sa! Kau tidak boleh meninggalkanku! Kita akan menikah Sa!" Tisa tak menghiraukan ucapanku, dia menutup matanya.


"Tisaaa! Bangun Saaa!"


__________


"Semua akan baik-baik saja. Tisa akan bangun sebentar lagi. Dia pasti baik-baik saja!" kata-kata itu terus aku ucapkan sambil mondar-mandir di depan ruang operasi.


Kalau saja wanita yang ditolong Tisa tak menegurku untuk segera membawa Tisa ke rumah sakit, mungkin aku masih ada di gang itu menangisi Tisa.


Tiba-tiba seorang suster keluar dari ruangan operasi.


"Apa anda keluarga pasien?"


"Iya sus, ada apa?"


"Pasien kehilangan banyak darah. Dan segera membutuhkan donor darah. Darah pasien O, dan kebetulan di rumah sakit sedang kehabisan stok darah O!"


"Golongan daraku bukan O!" jawabku.


"Kalau begitu, segera hubungi keluarga pasien yang lain. Karena pasien harus segera mendapatkan donor darah!"


"Aku harus menghubungi Ayah!"


Aku merogoh saku celana, tapi tak kutemukan hpku di sana.


"Sial! Aku meninggalkan hpku di kosan!" Aku mengacak-acak rambutku sendiri.


Bagaimana ini?! Apa yang harus kulakukan?! Tisa harus segera mendapatkan donor darah!

__ADS_1


"Siaal! Lagian ini rumah sakit besar! Bagaimana bisa kehabisan stok darah?!" teriakku marah.


__ADS_2