
Tisa terus saja tersenyum sambil memandangi amplop berisi uang yang aku beri pagi ini.
Ck! Aku nggak nyangka, ternyata pesonaku kalah dengan pesona uang!
Ya. Seusai janjiku kemarin, aku memberikan gaji Tisa ditambah dengan bonus.
Apa makhluk yang menawan ini benar-benar tidak menarik perhatiannya?!
Tapi, setidaknya aku suka melihatnya tersenyum seperti itu.
"Sa."
"Ya?" Tisa segera memasukkan amplop coklat itu ke dalam tasnya.
"Tuh amplop ngggak usah dipelototin! Nggak bakalan nambah isinya!"
Tisa hanya meringis menanggapi ucapanku.
"Tolong kamu foto kopi dokumen-dokumen ini ya. Masing-masing dua lembar." Aku menyerahkan beberapa dokumen ke Tisa.
Dia segera berlalu ke ruang mesin fotokopi.
Sudah beberapa menit berlalu, tapi Tisa tak kunjung kembali.
"Apa memfotokopi membutuhkan waktu selama ini? Biasanya Romi nggak lama kok waktu fotokopi!"
Aku melihat jam yang melingkar di tanganku.
Aku pun memutuskan untuk keluar menyusul Tisa.
Saat melewati kubikel beberapa karyawan, aku mendengar mereka sedang bergosip ria.
"Kayaknya kulkas dua belas pintu kita udah rusak deh!"
"Hah? Maksudnya?" salah satu perempuan lainnya menautkan alis.
"Iya, rusak. Buktinya dia udah nggak dingin kayak dulu lagi! Tapi sayangnya dia gitu cuma sama satu orang!"
"Kamu ngomong apa sih?!" sahut temannya tak mengerti.
Aku juga bingung arah pembicaraan mereka.
Eh? Tapi kok aku jadi ikutan gabung ke gosip mereka ya? Ya, meskipun cuma diam-diam.
"Yang aku omongin itu Pak Yosua! Si kulkas berjalan! Kamu tahu kan dia sedingin apa?"
Temannya itu cuma mengangguk.
"Baru-baru ini aku liat tuh Manager kulkas senyum! Dan kamu tahu, dia senyum sama siapa?? Sama asisten barunya Pak Andri!!"
Sama Tisa?
"Kayaknya Pak Yosua suka deh sama asistennya Pak Andri. Kalau ngomong sama dia, Pak Yosua itu kek ramah banget! Udah kayak dua orang yang beda!"
"Snif snif, aku rasa cewek satu kantor bakalan patah hati deh!"
"Tapi nggak papa lah. Mereka keliatan serasi kok!" timpal yang lainnya.
Apa?! Serasi?! Nggak!
"Yang satu ganteng, yang satu cantik!"
"Udah selesai arisannya?" Aku menegur mereka dengan ketus.
__ADS_1
"M-maaf Pak." Sontak mereka langsung kembali ke kubikel masing-masing.
Rasanya dalam hati seperti ada kobaran api. Entah siapa yang sedang main bakar-bakaran.
Aku langsung pergi ke ruangan mesin fotokopi.
Kalau aku ingat-ingat, sikap Pak Yosua memang agak lain ke Tisa.
Dia yang biasanya tak pernah berekspresi ketika ngobrol, jadi mendadak punya banyak ekspresi kalau lagi ngobrol dengan Tisa.
Belum lagi waktu dia nawarin Tisa pulang bareng kemarin.
Apa maksudnya coba?! Dia mau sampingan jadi tukang ojek?!
Aish! Bikin kesel aja deh!
"Lagian kenapa Pak Yosua SKSD sama Tisa sih?! Bukannya kemarin-kemarin dia udah kayak kanebo kering ya? Kenapa sekarang mendadak kanebonya jadi basah?!"
Aku terus ngedumel sampai akhirnya aku terbelalak melihat pemandangan di dalam ruang fotokopi.
"KALIAN BERDUA LAGI NGAPAIN?!!"
Aku melihat Tisa yang sedang digendong Pak Yosua.
Teriakanku membuat Pak Yosua menurunkan Tisa.
Sungguh pemandangan yang membuat mata dan hati panas.
"Tadi Tisa mau ambil sesuatu di atas lemari. Karena nggak nyampek, dia naik kursi. Aku yang melihatnya akan jatuh, segera menangkapnya." Pak Yosua langsung memberi penjelasan.
Aku menatap Tisa, dia hanya mengangguk membenarkan ucapan Pak Yosua.
Tapi tetap saja ini salah! Harusnya aku yang menangkap Tisa! Bukan Pak Yosua!
_________
Aku tak makan siang demi sibuk mengurusi pembelian mesin fotokopi baru. Khusus untuk aku taruh di ruanganku sendiri.
Jadinya, kejadian seperti tadi tidak akan terjadi lagi.
Aku juga nggak mau Tisa ketemu dan ngobrol berduaan saat akan memfotokopi.
Enak Pak Yosua kalau gitu.
Aku terus mengecek hpku. Mesin fotokopi yang aku pesan belum datang.
Aku berjalan ke jendela kaca besar yang mengarah ke jalan raya.
Mataku menajam melihat ke bawah. Ada Tisa di bawah sana. Dia akan menyebrang jalan untuk kembali ke kantor.
Saat Tisa akan melangkahkan kakinya, sebuah motor melaju kencang ke arahnya.
"AWAS TISAA!!" Aku berteriak sendiri.
Tapi aku langsung bernafas lega. Seseorang menarik tangan Tisa. Menyelamatkannya dari pengendara motor tadi.
Tapi aku langsung menatap tak suka saat tahu siapa yang menolong Tisa.
"Kenapa harus Pak Yosua lagi sih yang nyelamatin Tisa?!"
Aku geram melihat Tisa yang dipeluk Pak Yosua.
Tapi saat melihat Tisa yang menarik diri menjauh dari Pak Yosua aku tersenyum sinis.
__ADS_1
"Hemh! Jangan harap bisa deketin Tisa!"
Bagus Sa! Jangan deket-deket sama orang itu!
Mataku kembali melotot saat Pak Yosua meraih tangan Tisa dan menggandengnya.
Tisa terlihat berusaha menarik tangannya, tapi Pak Yosua enggan melepaskan. Dan mereka mulai menyebrang dengan bergandengan tangan.
Apa-apaan itu?! Ini nggak bisa dibiarin!
Aku langsung ngibrit masuk ke lift dan turun ke lantai bawah.
Aku nggak akan membiarkan modus Pak Yosua mulus seperti jalan tol!
"Tau nggak, tadi aku lihat Pak Yosua makan bareng sama asistennya Pak Andri!"
Aku mendengar gosip itu saat melewati resepsionis.
Apa?! Jadi Tisa makan bareng sama Pak Yosua?!
Saat aku akan membuka pintu kaca di depanku, Tisa dan Pak Yosua sudah menyebrang jalan. Kini mereka ada di depan kantor.
Aku melihat Tisa menarik tangannya dari genggaman Pak Yosua.
Tapi modus Pak Yosua tak berhenti di situ saja.
Pak Yosua malah membandingkan tangannya dengan tangan Tisa.
Bilang tangan Tisa kecil lah, imut lah!
Aish! Apa sih maksudnya! Biar apa banding-bandingin tangan segala?! Biar bisa megang-megang tangan Tisa terus?!
"Kenapa tangan Tisa?!" Aku yang sudah tak tahan langsung bergabung dengan mereka.
"Nggak kenapa-napa kok Pak!" jawab Pak Yosua. "Kami hanya membandingkan tangan saja."
"Jam makan siang sudah hampir habis, jadi sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu!" ucapku ke Pak Yosua. "Dan kamu Tisa, ayo kita kembali ke ruangan sekarang!"
Saat hendak masuk ke ruangan, ternyata mesin fotokopi yang kupesan sudah datang.
Aku langsung mengintruksi dua orang yang sedang membawa mesin fotokopi itu untuk menaruhnya di ruanganku.
"Ini apa?" tanya Tisa.
"Mesin foto kopi."
"Iya, aku tahu. Maksudku, kenapa ada mesin foto kopi di sini?"
"Aku membeli mesin foto kopi yang baru! Enaknya ditaruh di sebelah mana ya?"
"Beli baru?"
Aku mengangguk.
"Memangnya mesin foto kopi yang lama kemana?!"
"Ya ada, di ruangan foto kopi!"
"Lalu kenapa kamu beli mesin foto kopi?!"
"Aku beli mesin foto kopi ini, khusus untuk ditaruh di ruangan kita. Jadi kita nggak perlu keluar ruangan lagi kalau mau foto kopi sesuatu!"
Aku nggak mau Pak Yosua sok jadi pahlawan buat kamu!
__ADS_1
Aku nggak mau kejadian tadi pagi terulang lagi!