KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Rencana Pernyataan


__ADS_3

Saat jam pulang kantor, aku tiba-tiba kebelet ke toilet.


Semoga aja Tisa menungguku dan tidak pulang duluan.


Tapi sepertinya keadaan tak berpihak padaku.


Saat aku sudah keluar dari toilet. Tisa sudah tak ada di ruangan.


Dan ketika aku sampai di lantai bawah, aku sudah melihat Tisa yang dibonceng motor Pak Yosua.


"Aish! Kenapa Tisa pulang bareng Pak Yosua sih?!"


Aku langsung menuju parkiran yang kebetulan hari ini aku membawa motor.


Langsung saja aku tancap gas mengejar mereka.


"Eh eh. Kenapa nih motor?!"


Motorku mendadak oleng-oleng. Dan ternyata bannya bocor di tengah perjalanan.


"Sial!!" Aku mengumpat kesal melihat Tisa yang sudah tak kelihatan.


"Tau gini tadi aku bawa mobil aja!"


Aku bawa motor niatnya supaya pas boncengin Tisa, aku akan ngebut lalu Tisa pegangan pada pinggang aku!


Tapi aku malah apes gini.


Dan sialnya lagi, di sana nggak ada bengkel. Membuatku harus menuntun motorku untuk mencari bengkel.


_________


Aku pulang ke kosan dengan keadaan badan gerah, hati kebakar karena nggak ada pemadam kebakaran yang datang, ditambah lagi perut laper gara-gara ngelewatin makan siang karena sibuk ngurusin mesin fotokopi.


Aku jadi semakin kesal saat melihat kamar Tisa yang tertutup rapat. Yang pastinya penghuninya belum pulang.


"Ck! Sebenarnya Tisa pergi kemana sih sama Pak Yosua?!"


Aku menutup pintu kamarku dengan membantingnya.


"Aish!! Sebenarnya Tisa kemana sih?!"


Aku uring-uringan karena Tisa tak kunjung pulang setelah satu jam.


Setelah dua jam, aku mendengar suara motor matic di depan ketika aku sedang menyeduh teh melati di dapur.


Aku mengintip dari pintu dapur, melihat ke arah gerbang.


Tisa turun dari motor Pak Yosua. Terlihat di sana ada Pipit juga yang baru datang.


"Aku pikir dia lupa pulang!"


Aku kembali duduk. Menyesap teh yang rasanya pahit. Ternyata aku lupa tidak memberinya gula.


"Biarlah! Ini nggak lebih pahit dari pada yang aku rasain sekarang!"


Aku kembali menyesap teh lagi. Kemudian Tisa masuk ke dapur. Dia sudah ganti baju.


Awalnya aku ingin mengabaikannya. Tapi mulut ini gatal ingin bertanya. Aku penasaran mereka pergi kemana.


"Baru pulang?"


Akhirnya aku bertanya juga. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kesalku ketika bertanya.

__ADS_1


"Iya."


"Tadi aku lihat kamu pulang sama Pak Yosua." Aku melirik Tisa. "Kamu pergi kemana sama dia?"


"Aku ke rumahnya, pinjam sesuatu."


Sejak kapan mereka sedekat itu sampai Tisa main ke rumah Pak Yosua?!


"Kayaknya kamu akrab banget ya, sama dia."


Tisa hanya mengerutkan alisnya menatapku.


"Ada yang marahan, ey ey!"


Tiba-tiba Tante Sarah, istrinya Om Hendra masuk ke dapur sambil bernyanyi ria.


"Cieee yang lagi marahan!" ucap Tante Sarah sambil melangkahkan kakinya masuk ke dapur. "Ada masalah apa nih? Kayaknya Andri cemburu karena Tisa jalan sama cowok lain deh!"


Dia tahunya kan aku dan Tisa pacaran.


"Lagian kamu Tis! Udah punya cowok, masih aja jalan sama cowok lain!"


Betul banget tuh! Eh? Tapi kan aku bukan siapa-siapanya Tisa! Tau ah!


Aku jadi tambah merasa kesal. Aku langsung bangkit dari kursi dan berlalu dari dapur meninggalkan Tisa.


_________


Aku yang tak bisa tidur memutuskan untuk main gitar.


Tiba-tiba aku jadi teringat malam dimana Tisa request lagu. Ketika kami belum akrab.


Aku pun memutuskan untuk memainkan lagu Sadness and Sorrow. Lagu sedih di Naruto.


Karena nggak fafal nadanya, aku pun mencarinya di Paman Googel. Kenapa nggak di Mbah Google? Karena Mbah Google udah tidur.


Semoga Tisa belum tidur dan denger lagu yang aku mainin. Dia pasti tahu lagu apa ini.


Biar dia tahu kalau cuaca hatiku lagi mendung. Eaaa. Lebay amat. Ya biarin. Suka-suka aku dong!


Dan benar saja, setelah beberapa menit, aku mendengar suara Tisa dari tembok sebelah.


"Ndri, kamu kenapa sih?!"


Aku tak menjawab.


"Susah beol kamu ya?! Makanya jadi sedih gini!"


Aku tetap tak menjawab.


"Heran deh aku sama orang-orang. Kalau mereka sedang sedih, harusnya mereka dengerin musik yang gembira. Bukannya malah dengerin musik sedih! Udah tahu lagi sedih, malah dengerin lagu sedih. Ya jadi tambah sedih lah!" ucapnya lagi.


Aku masih diam, hingga beberapa detik kemudian aku menjawab.


"Kalau gitu, mainkan lagu yang gembira untukku!"


"Aku pikir kamu lagi puasa bicara, karena dari tadi nggak ada sahutan!" celetuknya


"Mainkan lagu gembira dengan gitar ini untukku, mungkin nanti suasana hatiku sedikit membaik!" ucapku modus. Padahal cuma pengen liat Tisa.


"Aku nggak bisa main gitar!" jawabnya.


"Kalau gitu, mau aku ajari?"

__ADS_1


"Memangnya apa yang kudapat jika aku memainkan lagu gembira untukmu?"


"Aih? Kan aku yang ngajarin main gitar, kenapa jadi kamu yang minta imbalan?! Harusnya aku dong yang dapat imbalan!"


"Ya kan untuk mengubah suasana hati harus ada imbalannya dong!"


"Emm, apa ya? Gimana kalau aku traktir makan siang pas di kantor besok?" tawarku.


"Ok deal!"


Aku girang dan langsung keluar membawa gitar. Kemudian disusul Tisa yang juga keluar dari kamarnya.


Kami pun duduk di lantai di depan kamarku.


"Jadi, kamu mau lagu apa?" Tisa mengambil alih gitar dari tanganku.


"Jiah!! Lagu apa, lagu apa, kuncinya aja kamu belum tahu kan?!"


"Kata siapa aku nggak tahu! Kunci engkol, kunci T--"


"Kamu pikir mau maling motor, pakek kunci T segala!" potongku.


"Untuk main gitar, pertama-tama kamu harus menghafal kunci-kuncinya dulu." Aku mengambil kembali gitarku darinya. "Ini namanya kunci A Mayor."


Tisa memperhatikan jari-jariku yang sedang menekan beberapa senar.


"Coba kamu tekan senar yang aku tekan tadi!" ucapku ke Tisa.


Tisa mengambil gitarku dan mulai mencoba menekan senar seperti yang aku ajarkan.


"Ini susah! Jari-jariku nggak nyampek!"


"Bukan senar itu yang ditekan! Tapi ini!" Aku membetulkan letak jari Tisa.


"Jari kelingkingmu kecil sekali!" ucapku saat membetulkan letak jari kelingkingnya di senar nomor dua dari bawah.


"Ya kalau gede itu jempol!"


Aku terkekeh mendengar ucapan Tisa.


"Muridnya galak amat sih!" cibirku.


Saat letak jarinya sudah benar, Tisa pun menggenjrengnya.


Jreeng!


Sudut bibirnya terangkat saat berhasi menggenjreng senar gitar. Kemudian dia menggenjrengnya lagi.


"Aww!" pekik Tisa saat senar gitar putus dan malah melukai jarinya.


Aku reflek menarik jari Tisa dan menghisap darahnya.


"Aku nggak nyangka Ndri, ternyata kamu vampir! Jangan coba-coba kau meminum darahku!!" selorohnya.


Aku terkekeh dengan jarinya yang masih ada di mulutku.


Bisa juga nih es batu ngelucu!


"Darahmu manis Nona!" selorohku memperagakan peran vampir yang menghisap darah lewat jari.


Nggak ada sejarahnya vampir ngisap darah lewat jari. Tapi kalau aku menghisap leher Tisa. Bisa dipentung pakai gitar aku.


Aku menatapnya yang sedang terkekeh.

__ADS_1


Aku harus segera mengungkapkan perasaanku.


Besok aku akan menyewa kafe dekat kantor dan menyatakan perasaanku padanya.


__ADS_2