
Selesai makan bakso, aku gegas ke dapur untuk mengambil air minum.
"Bunga dari siapa nih?!"
Aku urung masuk ke dapur begitu mendengar suara Pipit. Kakiku macet di ambang pintu.
Pipit sedang membelakangiku dengan membawa bunga mawar yang tadi kubeli di lampu merah.
Tisa terlihat bingung mau menjawab apa.
"Nggak mungkin banget kalau kamu yang beli bunga ini. Ayo ngaku! Bunga dari siapa ini?!" tanya Pipit lagi.
Belum Tisa menjawab, Pipit udah nyerocos lagi.
"Kamu bukan tipe orang yang akan membeli bunga. Aku tahu kamu Tis! Kamu akan lebih membeli sesuatu yang bisa dimakan ketimbang yang beginian!" Pipit mengacungkan bunga itu ke Tisa.
"A-aku memang lebih suka cilok daripada bunga. Tapi tadi pas di lampu merah ada anak kecil yang jual nih bunga. Karena kasihan, makanya beli!"
Rupanya Tisa tak ingin mengatakan kalau bunga itu dariku. Dia juga tak menyadari keberadaanku yang berdiri di ambang pintu.
"K-kalau kamu mau, ambil aja!"
Bertepatan dengan mengatakan itu, Tisa menyadari keberadaanku. Dia terlihat terkejut melihatku yang sudah berdiri di ambang pintu.
Aku menatapnya.
Kenapa kau malah memberikan bunga dariku ke Pipit?!
Itulah yang kukatakan ke Tisa lewat mata kaki. Eh, mata batin maksudku.
Kuubah ekspresi wajahku sesedih mungkin. Biar Tisa tau, kalau aku sedih jika dia memberikan bunga itu ke orang lain.
Dan sepertinya aktingku berhasil. Karena detik berikutnya, Tisa meraih bunga itu dari tangan Pipit.
"Nggak jadi deh Pit. Jangan diambil bunganya!"
Dua sudut bibirku terangkat keatas.
"Ck. Gimana sih Tis?! Tadi dikasih, sekarang nggak jadi!" cibir Pipit yang masih membelakangiku.
"Yaudah sih, cuma bunga doang. Nih bakso kamu! Kita makan di kamar aja ya," Tisa menyodorkan mangkuk berisi bakso ke Pipit.
"Eh, Andri! Ngapain berdiri di situ sambil senyum-senyum sendiri?" tanya Pipit setelah dia berbalik dan melihatku.
"Ahaha. Senyum kan ibadah!" Aku melangkah masuk ke dapur.
"Ayo Pit, kita makan baksonya. Nanti kuahnya keburu dingin." Tisa menarik tangan Pipit agar keluar dari dapur.
"Oh iya, yuk!" Pipit keluar mendahului Tisa.
"Tunggu Sa!" Aku mencekal lengan Tisa saat dia akan keluar dari dapur.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tunggu sebentar ya!"
Aku meraih botol minuman yang ada di meja dapur dan membuang airnya yang masih tinggal seperempat botol.
Kemudian aku gunting botol itu menjadi setengah.
"Sini bunganya."
Tisa memberikan bunga itu padaku.
Setelah botol yang sudah aku gunting tadi kuisi dengan air, aku memasukkan bunga mawarnya.
"Dengan begini, bunga yang kuncup ini akan mekar. Ini!" Aku menyodorkan botol berisi bunga itu ke Tisa.
"Kenapa dikasih ke aku? Kau sendiri bisa merawat bunga itu. Jadi bunga itu untukmu saja!"
"Tisa! Kenapa kau lama sekali di dapur?!" tiba-tiba Pipit nongol di ambang pintu.
"Ah, rupanya Andri sedang membuatkan tempat untuk bungamu ya. Makasih ya Ndri. Sini aku bantu membawanya ke kamar!" Pipit meraih bunga yang kusodorkan untuk Tisa.
"Makasih ya Pit," ucapku.
Kalau Pipit tak datang, Tisa pasti menolak bunga itu dan mengembalikannya padaku.
"Kebalik, Tisa tuh yang harusnya ngomong terimakasih sama kamu!"
_________
Pagi harinya, baru juga keluar dari kamar mandi, aku melihat Tisa keluar dari kamarnya dengan dua tangkai bunga mawar yang diangkat tinggi-tinggi. Tangannya mengarah ke tong sampah.
"Mau diapakan bunganya Sa?"
Tisa menoleh ke arahku. Dan seketika bunga tadi langsung diturunkan.
Dia malah mematung sambil menatapku.
"Sa?" panggilku lagi.
"Ahaha. Enggak, ini lho.. Aku hanya mengagumi keindahan bunga mawar ini. Aku baru tahu kalau bunga lebih indah dari cilok!"
Aku menatapnya bingung.
Dia ngomong apa sih? Lagi ngelindur ya? Kayaknya dia juga baru bangun tidur.
"Kan bunga mawar sama cilok bentuknya emang beda Sa."
"Ahaha. Iya, aku tahu!" Tisa malah cengengesan nggak jelas. "Oh iya Ndri! Hari ini kan kita ada janji untuk survey ke hotel yang hendak kita ajak kerja sama!! Karena janjiannya pagi, aku harus cepet-cepet mandi! Udah dulu ya, bye!" Tisa segera masuk ke kamar meninggalkanku yang baru ingat kalau hari ini memang ada janji.
"Oh iya-ya. Janjinya kan pagi ini. Aku juga harus siap-siap nih!" Aku buru-buru masuk ke kamar.
__ADS_1
_________
Aku memarkirkan mobil ke parkiran. Tisa menolak untuk berangkat bareng. Katanya mau naik angkot aja.
Baru juga diomongin eh udah nongol.
Terlihat Tisa akan masuk ke kantor. Baru saja aku akan berteriak memanggilnya, seseorang sudah berteriak duluan memanggil Tisa.
"Tis!" siapa lagi kalau bukan Pak Yosua.
Kenapa sih Pak Yosua selalu datang di saat yang tidak tepat?!
Dia berlari menghampiri Tisa dengan tangan menenteng paper bag. Lalu menyodorkan paper bag itu ke Tisa.
Sedangkan aku berdiri tak jauh dari mereka.
"Ini, baju kamu kemarin ketinggalan di rumah," ucap Pak Yosua. Itu pasti baju Tisa yang ketumpahan air kemarin.
Tapi para karyawan yang mendengar ucapan Pak Yosua itu malah salah paham.
Mereka yang awalnya sedang lalu lalang ingin masuk ke kantor langsung berhenti dan menoleh ke Tisa dan Pak Yosua. Terdengar mereka berbisik-bisik.
Itu tidak bisa disebut berbisik-bisik, karena aku bisa mendengarnya.
"Sudah kuduga kalau mereka pacaran! Buktinya Mbak Tisa nginap di rumah Pak Yosua!"
"Iya, kamu benar!"
Ck. Sepertinya Pak Yosua emang sengaja deh ngomong kayak gitu di depan para karyawan supaya mereka salah paham terus.
"Ada apa nih?! Kenapa pada berhenti di depan pintu gini?!" tegurku.
Mereka yang sedang berbisik-bisik, maupun Tisa dan Pak Yosua langsung menoleh ke arahku.
Segerombolan karyawan yang sedang berbisik-bisik tadi seketika langsung bubar dan masuk ke kantor.
Aku menatap Pak Yosua.
Kau pikir aku akan membiarkanmu mendekati Tisa?!
Aku beralih menatap Tisa. "Tisa, kamu telat!" tukasku.
"Hah? Telat?" Tisa langsung mengecek jam di hpnya. "Nggak kok, aku nggak telat. Di hpku masih kurang satu menit lagi!"
"Tapi di hpku kamu telat satu menit! Dan sebagai hukumannya--"
"Tolong jangan potong gajiku!" potong Tisa sebelum aku melanjutkan ucapku.
"Nanti akan aku pikirkan hukuman yang tepat untukmu. Sekarang ayo kita berangkat ke hotel yang mau kita survei!"
Tisa segera mengikutiku ke parkiran mobil, meninggalkan Pak Yosua yang masih berdiri di tempat tadi.
__ADS_1
Sebenarnya Tisa nggak telat. Itu cuma akal-akalanku aja supaya Tisa lekas meninggalkan Pak Yosua dan ikut denganku.