
Tapi bukannya memfotokopi berkas yang aku minta, Tisa malah keluar dari ruangan.
"Dia mau kemana?"
Aku mencoba untuk tidak kepo kemana perginya Tisa.
Tapi karena Tisa tak kunjung kembali, aku bergegas untuk menyusulnya.
Aku cari dia di pantry tapi nggak ada. Tapi begitu aku melewati ruang fotokopi, eh ternyata Tisa lagi berduaan sama Pak Yosua.
"Ehem!" Aku berdehem sedikit keras. Membuat mereka langsung menoleh ke arahku yang berdiri di ambang pintu.
"Ini masih jam kerja! Kalau mau pacaran, nanti pas pulang kerja!"
"Maaf Pak, tapi ka--"
Aku mengangkat tanganku. Menghentikan ucapan Pak Yosua.
"Tisa, kembali ke ruangan! Bukankah aku menyuruhmu untuk foto kopi?!"
"Tapi aku kesini untuk ngambil tinta karena tintanya habis!"
"Udah. Jangan alasan lagi!" Aku langsung meninggalkan mereka berdua.
Enak aja mau mesra-mesraan. Aku tidak akan membiarkan Tisa bisa bermesraan dengan Pak Yosua.
Tapi gimana kalau di luar kantor? Aku kan tidak bisa mencegahnya?!
Ah, sudahlah! Yang penting sekarang, minimal aku bisa mencegahnya saat di kantor.
Tapi rupanya Tisa segera mengikutiku masuk ke ruangan kerja.
"Maksud kamu apa ngomong kayak tadi itu?!" tanyanya.
"Apalagi? Aku hanya memberi tahu kalau ini tuh masih jam kerja! Jadi bukan waktunya untuk pacaran!" sahutku dingin.
"Yang pacaran itu siapa?!"
"Ya kamu sama Pak Yosua!"
"Kata siapa aku pacaran sama Pak Yosua?!"
"Bukan kata siapa-siapa! Aku melihat sendiri kamu dipeluk sama Pak Yosua di hari kamu mengembalikan jaketnya! Bukankah itu berarti kamu menerima cintanya?!"
Sedetik kemudian eskpresi wajah Tisa berubah seperti orang yang mau tertawa.
"Kalau nggak tahu apa-apa itu jangan sembarangan nyimpulin!" ucapnya dengan sedikit terkekeh.
Alisku menyatu karena tak mengerti apa yang dia ucapkan.
"Waktu itu aku nolak dia! Dia bilang dia ingin memelukku. Belum juga aku mengiyakan, dia udah main peluk aja. Dan pada saat itu lah kamu melihat kami!"
Aku berusaha mencerna apa dikatakan Tisa.
"Jadi kamu nolak dia?!" tanyaku.
__ADS_1
"Iya! Makanya kalau orang mau jelasin tuh dengerin! Biar nggak salah paham!!"
Mendung yang tadinya aku rasakan seketika hilang karena cahaya matahari.
"Jadi kamu beneran nggak pacaran sama Pak Yosua?!"
"Iya Bos Andri!!" ucapnya dengan sedikit penekanan.
"Syukur deh kalau gitu!" gumamku kecil. Rupanya aku cuma salah paham.
"Hah? Apa?" tanya Tisa.
"Ah, nggak. Bukan apa-apa!" sahutku.
Harusnya waktu itu aku dengar penjelasan Tisa.
Tapi sudahlah, yang penting Tisa nggak jadian sama Pak Yosua.
_________
"Tisa, aku senang kamu menolak Pak Yosua."
Kupandangi foto Tisa sambil rebahan di kasur.
Foto yang kuambil di atas bianglala. Senyumnya yang dia berikan ke arah kamera. Aku ingin senyum itu dia tujukan padaku.
Aku akan menyatakan perasaanku. Segera aku bangkit duduk untuk menelfon pihak kafe dekat kantor. Aku akan menyewa tempat itu dan menyatakan perasaanku. Besok, setelah pulang kerja.
Kenapa aku harus repot-repot menyewa kafe segala? Ya karena aku ingin memberikan suasana romantis yang tidak akan pernah Tisa lupakan.
_________
Keesokan harinya aku jadi sering senyum-senyum sendiri karena nanti, ketika jam pulang, aku akan menyatakan perasaanku.
Semoga kali ini tak ada hambatan atau halangan dari siapapun itu.
Aku sering curi-curi pandang melihat es batu yang sibuk dengan laptopnya.
Tunggu saja es batu kecil. Aku akan mencairkanmu!
"Yuk Sa, makan siang bareng!" ajakku ketika jam makan siang tiba. "Aku yang traktir!"
"Waduh, kalau ditraktir sih nggak nolak!" Tisa bergegas membereskan berkas-berkas yang ada di mejanya. "Ada acara apa nih, kok tiba-tiba mentraktir aku?"
"Ya, nggak ada acara apa-apa. Kalau kamu nggak mau ditraktir yaudah.." Aku berlalu meninggalkannya.
"E-eh! Mau-mau, aku mau kok!"
Aku hanya melirik Tisa dengan senyum yang terbit di bibirku ketika dia bergegas menyusulku.
Aku mengajaknya untuk makan di kafe dekat kantor. Sementara kafe yang aku pesan, adalah cabang dari kafe ini yang ada tepat di sebelah.
Tak sabar rasanya menunggu waktu pulang.
"Kok akhir-akhir ini mbak Tisa jarang makan bareng Pak Yosua ya? Apa mereka berantem?"
__ADS_1
Aku mengernyit mendengar suara perempuan yang duduk di meja belakang kami.
"Iya, aku juga udah jarang ngeliat mereka makan bareng lagi! Jangan-jangan mereka putus lagi!" sahut yang lainnya.
Aku langsung menoleh ke arah mereka.
"Woy! Kalau nggak tahu apa-apa itu, jangan gosip deh!" ujarku menimpali mereka. "Tisa sama Pak Yosua itu nggak ada hubungan apa-apa tahu!"
Mereka langsung terdiam. Sementara Tisa malah terkekeh.
"Kamu juga Sa, jangan diem aja dong kalau digosipin!"
Tisa hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
Saat kembali ke kantor dan melewati pantry, lagi-lagi kami mendengar karyawan yang bergosip tentang hubungan Tisa dan Pak Yosua.
"Pak Yosua kayaknya putus deh sama Mbak Tisa! Mereka udah jarang makan siang bareng!"
"Emangnya mereka pacaran?!"
"Yaelah! Ketinggalan berita lu!"
"Setiap hari mereka makan siang bareng! Apalagi namanya kalau bukan pacaran?!"
"Sering makan bareng bukan berarti pacaran!" sahutku ikut nimbrung. Seketika mereka langsung terdiam.
Geregetan deh jadinya karena banyak yang ngira Tisa pacaran sama Pak Yosua.
"Aku tekankan ya, Tisa sama Pak Yosua itu nggak ada hubungan apa-apa! Kalau nggak tahu apa-apa jangan nyebar gosip yang aneh-aneh di kantor ini!" ucapku penuh penekanan biar mereka ingat.
Tapi lagi-lagi Tisa malah terkekeh sambil mengikutiku yang kembali ke ruangan kerja kami.
"Kenapa kamu hanya terkekeh?! Harusnya kamu jelasin dong ke mereka!" Aku menoleh padanya saat sudah masuk ke dalam ruangan.
"Apa aku harus nyamperin satu-satu karyawan di sini buat jelasin semuanya?!" sahutnya. "Percuma Ndri! Lagian cuma gosip kayak gitu, palingan dapat sebulan gosipnya juga bakalan kadaluarsa dan dilupain!"
Aku tak habis pikir dengan Tisa yang kepalang santai dan tak ambil pusing karena digosipkan dengan pacaran sama Pak Yosua.
Aku menghela nafas panjang dan menatapnya.
"Tapi aku yang keberatan Sa!"
Tisa terlihat terkejut.
"Hah?! Apa Ndri?!" dia balik menatapku.
"Aku yang keberatan kalau kamu digosipkan dengan Pak Yosua!"
Sudah cukup. Aku tidak bisa menunggu sampai pulang nanti. Aku nggak bisa. Aku akan mengatakannya sekarang juga.
Aku berjalan mendekat ke Tisa dan meraih kedua tangannya.
"Aku keberatan mendengar orang lain mengira kamu pacaran sama Pak Yosua! Aku juga cemburu ketika kamu dekat dengan Pak Yosua!"
Kutatap kedua manik milik es batu di depanku. Bisa kurasakan tangannya berkeringat.
__ADS_1
"Tisa, aku menyukaimu!"