
Tisa terlihat panik dan berusaha menarik cincin itu.
Lihat Sa, cincinnya aja nggak mau lepas sama kamu. Dia tau kalau kita itu memang harus bersatu.
"Ndri, gimana dong?" Tisa mengadu panik. Membuatku gemas melihatnya.
"Coba sini!" Aku menawarkan bantuan karena tak tega melihatnya panik. Dengan pelan, aku mencoba menarik cincin itu.
"Adu-duh! Sakit Ndri! Pelan-pelan dong!" Aku pun sedikit memelankan tarikan.
"Andai saja aku mendengar percakapan ini saat kalian ada di dalam kamar atau ruangan, aku pasti akan mengira kalau kalian sedang main kuda-kudaan," pegawai laki-laki itu malah terkekeh.
"Itu otak kayaknya harus difilter deh, supaya nggak omes!" sungut Tisa. "Orang kesusahan bukannya ditolongin!"
"Kayaknya ini pertanda deh Sa!" bisikku ke Tisa.
"Hah? Pertanda apaan Ndri?" wajah paniknya itu sangat lucu menurutku.
"Pertanda kalau kamu akan jadi istri keduaku!"
"Ish Andri! Yang serius dong!" Aku terkekeh saat Tisa memukulku. "Lagi genting gini malah bercanda!"
"Aku nggak lagi bercanda Sa, aku serius. Siapa tahu kalau kamu jadi istri keduaku Papa setuju." Aku kembali menggodanya.
"Ndri, sekali lagi kamu ngomong ide gila itu aku tinju ya!"
Aku kembali terkekeh."Tangan kecil gitu mana sakit kalau ninju?'
"Oh, ngeremehin ya!" Tisa mengambil ancang-ancang meninju. Tapi entah kenapa dia tak jadi meninjuku.
"Udah ya Ndri, aku lagi nggak mau bercanda nih! Cepet pikirin solusinya, sebelum Indah datang kesini!" ucapnya
Triririring!
Tiba-tiba hpku berdering. Indah yang telfon.
"Indah Sa!" sengaja aku memberitahunya. Biar dia panik.
Terlihat Tisa tolah-toleh. Mungkin dia mencari keberadaan Indah yang sedang menelfonku.
"Halo Ndah?"
[ Aku pulang. Sekarang kesempatan Kakak buat berdua sama Kak Tisa! ]
Loh! Kok jadi gini rencananya?! Rencananya sebenarnya itu nggak gini!
Ayah minta bantuan Indah itu karena tubuh Indah sama persis dengan Tisa. Jadi Indah bisa mencoba gaun untuk Tisa.
Dan tujuan kita ngajak Tisa, supaya Tisa yang milih mana baju yang sesuai seleranya dengan dalih minta bantuan.
Lah ini si Indah malah lepas tanggung jawab! Gimana ini?!
Aku menatap Tisa dan mencoba untuk tenang.
__ADS_1
"Jadi ini kamu sekarang ada dimana? Terus ini baju pengantinnya gimana? Kita pending dulu kah?" tanyaku masih meneruskan akting.
[ Kakak tenang, jangan panik. Jangan dipending juga. Buat alasan supaya Kak Tisa yang nyoba gaun itu sendiri. Yang mau nikah dia, masa aku yang nyoba gaunnya. Iya, aku tahu badan kami sama. Tapi tetap aja rasanya nggak afdol! ] Indah terus aja nyerocos.
Padahal di sini aku udah panik. Alasan apa aku.
[ Gini aja deh, biar aku ngomong sesuatu sama Kak Tisa. Kak Andri kayaknya nggak bisa diandelin! ]
Aku menatap Tisa yang masih setia menatapku dengan raut penasaran.
"Kenapa?" tanya Tisa.
Aku menaruh jari telunjukku di bibir.
[ Kak! Buruan! ]
"Iya iya, sebentar." Aku menyodorkan hpku ke Tisa.
Tisa tak segera menerima hpku. Wajahnya bingung menatapku.
"Indah mau ngomong sama kamu!" setelah aku ngomong itu, dia mau menerima hpku.
"Halo Ndah, kenapa?" tanya Tisa.
Aku pasrah aja sama rencana dadakan Indah. Dahi Tisa nampak berkerut. Entah apa yang diucapkan Indah.
"Tapi kan aku nggak tau ukuran tubuh kamu Ndah," sahut Tisa kemudian.
Aku menebak Indah sedang membujuk Tisa untuk mencoba gaun pengantin untuknya, yang sejatinya gaun itu adalah untuk Tisa.
"Kamu tanyain aja sendiri!"
Aku meraih hp dan menempelkan ke telinga.
"Halo Ndah?"
[ Aku udah meyakinkan Kak Tisa buat nyoba gaun pengantinnya. Bujuk dia lagi ya. ]
Telfon ditutup secara sepihak. Benar-benar si Indah. Kalau Tisa tetap nggak mau gimana coba.
"Gimana Sa? Kamu mau kan bantu kita?"
Tisa terdiam menatapku lama.
"Nggak," jawabnya membuat mata ini membulat.
Rencana Indah gatot! Gagal total!
"Aku nggak mau bantu kalian. Yang mau nikah itu kalian, kenapa harus aku yang repot? Tak bisakah kalian cari bajunya besok aja pas Indah udah nggak sibuk?!" jelas Tisa.
Duh!! Otak, cepat mikir!!
Di saat aku bingung, mata ini tak sengaja melihat sebuah sebaran yang ditempel di tembok. Mengatakan ada promosi.
__ADS_1
Alhamdulillah pas banget!
"Hari ini tuh ada promosi potongan harga! Makanya Papa nyuruh aku milih baju pengantinnya di sini. Dan ini hari terakhir promosi. Kalau nggak percaya, lihat tuh di belakang kamu!"
Tisa menoleh ke selebaran yang aku tunjuk.
Sebenarnya alasan ini nggak terlalu masuk akal. Apalagi yang ngomong Direktur kayak aku.
Belum ada sejarahnya Direktur mempermasalahkan uang dan promosi. Tapi yaudahlah, udah terlanjur. Semoga Tisa percaya.
"Maaf Ndri, itu bukan urusanku."
Aku hampir putus asa saat Tisa hendak meninggalkanku.
"Aku bakal kasih kamu bonus bulanan dua kali lipat!" ucapku spontan
Aku tersenyum saat Tisa menghentikan langkahnya dan menoleh padaku.
"Maaf Ndri. Tapi ini bukan soal uang!"
Senyumku langsung hilang ketika mendengar ucapannya. Tisa kembali melangkah hendak meninggalkanku.
"Aku naikin jadi tiga kali lipat!" seruku. Aku udah nggak kepikiran ide lain lagi.
Langkah Tisa kembali terhenti. Dia tak menoleh kali ini. Entah apa yang sedang dia pikirkan.
Mungkinkah dia sedang menghitung uang yang akan didapatnya?
Tiba-tiba Tisa balik arah dan berjalan mendekat.
"Okeh deh. Aku mau bantu karena hatiku baik, tak sejahat hatimu!"
"Cih! Baik hati apanya?!" Aku mencebik.
"Ayo! Mau kubantu atau kubanting?!" tanya Tisa dan berjalan mendahuluiku.
"Eh Mbak, Bang! Cincinya itu gimana?! Kan belum dibayar!" teriakan karyawan laki-laki tadi menghentikan langkah kami.
Aku dan Tisa menatap cincin yang masih melekat di jari Tisa. Dan setelah itu tawa kami meledak.
Dari tadi aku berusaha membujuk Tisa sampai lupa masalah tentang cincin.
"Gimana nih Mas?" tanya Tisa ke karyawan itu. "Gimana kalau aku ke kamar mandi dulu, siapa tahu kalau dikasih sabun cincinnya bakal lepas."
"Ya nggak bisa gitu dong Mbak. Ini tuh cincin mahal. Masa habis dicuci dibalikin lagi!"
"Ya kan ini salahnya Mas sendiri. Tiba-tiba Mas langsung pakein cincinnya tanpa aku minta!" Tisa tak terima.
"Tapi Mbak--"
"Udah lah Sa. Nggak usah diperpanjang." Aku menengahi. "Berapa harganya Mas?"
Aku membayar cincin itu supaya cepet kelar masalahnya. Dan tanpa sepengetahuan Tisa, aku memesan cincin dengan model yang sama dengan ukuran yang pas di jari kami.
__ADS_1
Sekarang tinggal milih gaun untuk Tisa.