KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI

KISAH DI KOS-KOSAN CAMPURAN VERSI ANDRI
Pertemuan Di Makan Malam


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan pulang dari wahana permainan, Tisa ketiduran. Dan ketika kami sudah sampai di parkiran kantor, Tisa masih belum bangun juga.


Aku yang merasa tak tega membangunkannya, membiarkan Tisa bangun dengan sendirinya nanti.


"Faiz?!"


Tiba-tiba saja Tisa menyebut nama Faiz di dalam tidurnya.


Alisku menyatu mendengar dia menyebut nama itu. Bahkan di mimpinya pun dia bertemu dengan Faiz.


Karena tak tahan dia terus mengigau menyebut nama Faiz, aku pun jadi tega untuk membangunkannya.


"Tisa? Tisa!" Aku mengguncang lengan Tisa. Tapi Tisa tetap bergeming.


"Tisa!" sekali lagi aku kembali mengguncangnya.


"Eh?!" Tisa tersentak kaget dan langsung membuka matanya.


Meskipun sebenarnya tak tega, tapi aku tidak rela Tisa berlama-lama mengobrol dengan Faiz di alam mimpi.


"Dimana ini?" tanya Tisa.


Aku terkekeh kecil mendengar pertanyaan Tisa.


"Kenapa kamu mendadak amnesia? Tentu saja kita masih di dalam mobil!"


Tisa menatapku bingung.


"Waktu pulang dari wahana tadi, kamu ketiduran. Mungkin gara-gara kamu habis muntah, makanya kamu pulas banget tadi. Tapi tiba-tiba saja kamu ngigau-ngigau nama Faiz!" jelasku.


Tisa sedikit menghela nafas panjang. Entah mimpi apa barusan dia. Terlihat raut kelegaan di wajahnya.


"Kamu tadi mimpi apa sampai ngigau nama Faiz?" tanyaku menyelidik.


"Harus banget ya aku jawab?"


"Ya, nggak kamu jawab juga nggak papa sih. Siapa tahu kamu malu mengatakan kalau kamu sedang memimpikan Faiz dalam hal yang mesum!"


"Apa?!" Tisa langsung menoleh menatapku. "Aku nggak mimpi yang mesum-mesum ya!"

__ADS_1


Tanpa kuminta lagi, Tisa menceritakan mimpinya. Katanya dia mimpi kalau Faiz itu adalah orang yang dijodohkan sama dia.


"Kenapa kamu bisa mimpi Faiz adalah jodohmu?" tanyaku tak terima.


"Ya mana aku tahu? Emang mimpi bisa diatur? Kalau seandainya bisa, aku mau mengaturnya agar aku selalu mimpi berduaan sama Naruto!" jawab Tisa tanpa menatapku.


Di saat itulah aku mengirimi pesan Tisa menggunakan hp penyamaranku.


[ Jangan lupa nanti malam ya. Jangan telat! ]


Bersamaan dengan pesan yang kukirim itu, hp Tisa berbunyi.


Wajahnya berubah kesal setelah membaca pesan dariku.


Aku jadi tak sabar bagaimana nanti. Apalagi kata camer aku akan didandani sehingga Tisa tak mengenaliku.


_________


Dan di sinilah aku berada sekarang. Duduk menghadap kaca dengan wajah yang nggak tau diapain.


Wajahku dipasangi kayak semacam kulit gitu, nggak tau namanya apa.


Rambut agak panjang, brewok tipis, belum lagi tahi lalat kecil dibawah mata.


Jangankan Tisa, aku aja pangling liat wajahku sendiri.


"Nggak sia-sia aku bayar kamu!" terdengar nada puas dari suara Ayah. Dia memuji tangan pria gemulai yang merubah wajahku jadi seperti ini.


"Siapa dulu? Mike gitu loh!" pria itu tersenyum bangga.


"Aku yakin Tisa nggak akan mengenalimu Ndri."


"Iya Yah. Aku aja juga pangling sama wajah sendiri!" Aku terkekeh pelan.


Mulai sekarang, aku disuruh membiasakan diri untuk memanggil Om Darma Ayah.


"Oh iya, pakai ini juga Ndri!" Ayah menyodorkan sesuatu padaku.


Begitu aku membuka wadah kecil itu, ada gigi palsu di dalamnya.

__ADS_1


"Pakai itu untuk menutupi gigi gingsulmu. Kita harus totalitas dalam sandiwara ini!"


Aku menurut dan memakai gigi palsu itu.


"Kau segera pulang lah Mike. Anakku sebentar lagi akan datang. Jangan sampai dia melihatmu!"


"Ck. Habis manis sepah dibuang. Diusir aku nih ceritanya?" Mike memonyongkan bibirnya.


"Bibir nggak usah dimaju-majuin gitu. Yang terpenting uang sudah masuk rekening kan!"


Mike hanya terkekeh dan segera membereskan peralatannya.


Sebentar lagi Tisa pasti akan sampai. Aku bersiap-siap untuk berganti pakaian.


Aku memilih kemeja serta celana yang sama-sama warna hitam.


Kenapa aku tak memakai kemeja warna maroon agar samaan dengan baju yang dipakai Tisa? Bukankah aku menyuruh Tisa memakai dress warna maroon?


Aku sengaja memakai yang warna hitam karena sudah mendengar rencana Tisa bersama Pipit waktu di kosan tadi sore.


Dia berencana memakai celana training dan hoodie warna hitam. Sengaja berpenampilan amburadul agar aku ilfeel katanya.


Kita lihat saja apa yang terjadi nanti.


________


Tepat pukul delapan malam, terdengar suara Tisa di ruang tamu. Sementara aku masih berada di kamar dimana tadi aku didandani tadi.


"Kenapa bajumu seperti ini? Bukankah Ayah sudah mengatakan jika kita akan makan malam bersama dengan jodohmu?" terdengar suara Ayah Tisa ketika aku membuka pintu kamar.


"Apa yang salah dengan bajuku Ayah. Bukankah baju ini terlihat sopan?" itu suara Tisa.


Kini aku sudah sampai ke ruang tamu. Tisa berdiri membelakangiku.


"Tentu saja salah! Mana ada perempuan yang memakai pakaian seperti ini saat akan makan malam bersama dengan calon suaminya?!Cepat ganti paka--"


"Ayah, sudahlah. Tidak apa-apa jika Tisa lebih nyaman seperti ini," potong Bunda lembut.


Pasti Tisa senang mendapat dukungan dari Bundanya.

__ADS_1


"Tidak papa Ayah, aku juga suka yang apa adanya kok!" ucapku membuka suara.


__ADS_2