
Andri? Kamu Andri kan?"
Aku menoleh mendengar namaku disebut. Seorang pria paruh baya berdiri tak jauh dariku setelah kepergian Suster tadi.
"Bapak siapa? Maaf Pak, saya sedang sibuk. Saya--"
"Saya Direktur Rumah Sakit ini," potongnya. "Kamu tunangannya putrinya Darma kan?"
"Bagaimana Bapak bisa tau?" Aku mengernyit menatapnya.
"Saya temannya Darma. Waktu acara tunangan saya juga datang. Apa--"
"Tunggu Pak!" potongku. "Bapak temannya Ayahnya Tisa?!"
Pria paruh baya itu menatapku dan mengangguk.
"Berarti Bapak punya nomornya Ayahnya Tisa?!"
Meski terlihat bingung, pria itu tetap mengangguk.
Segera aku meminjam hpnya untuk menghubungi Ayah dan Bunda Tisa.
Aku benar-benar berterimakasih kepada Tuhan yang telah mengirimkan pria paruh baya ini untuk menyapaku tadi.
_________
Meski Tisa sudah mendapatkan donor darah dan sudah melewati masa kritis, dia tak kunjung bangun.
Sudah dua hari dia terbujur di ranjang rumah sakit.
Darah Tisa yang ada di bajuku bahkan sudah mengering.
Aku menatap wajah pucat itu. Matanya terus menutup. Tak ada lagi wajah kesal atau sedang cemberut.
"Bangun Sa. Apa kau tidak capek tidur terus?" Aku mengusap pipi Tisa.
Terdengar pintu yang dibuka. Aku tak sedikitpun tertarik untuk menoleh dan melihat siapa yang masuk.
"Ndri, ini sudah dua hari. Pulang dan mandilah. Biar Mama yang jaga Tisa," itu suara Mama.
Aku ingin membantah, tapi Mama kembali membuka suara.
"Tisa pasti sedih melihatmu yang seperti ini. Pulang dan mandilah. Apa kau akan menyambut Tisa yang sadar nanti dengan keadaan kacau seperti ini?!"
Akhirnya aku menurut. Dengan langkah lunglai aku berjalan keluar, pulang ke kos-kosan.
__ADS_1
Setelah mandi, aku berjalan ke dapur untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. Aku bahkan lupa kemarin minum atau nggak.
Tiba-tiba hpku berdering.
"Halo Pit?" sapaku setelah membaca nama si penelfon dan mengangkatnya.
Dia berkata kenapa tidak memberitahunya tentang apa yang terjadi pada Tisa.
"Maaf, aku tidak sempat mengabarimu," jawabku.
[ Terus bagaimana kondisi Tisa sekarang? ]
"Tisa masih belum sadar."
[ Kirimkan alamat Rumah Sakit Tisa dirawat. ]
"Iya."
Setelah itu sambungan telfon terputus. Aku menyadarkan punggung di sandaran kursi.
Segera kuusap air yang keluar dari sudut mata dan gegas keluar dari dapur. Aku kembali ke rumah sakit.
Saat masuk ke ruang dimana Tisa dirawat, lagi-lagi yang kulihat hanya tubuh yang terbaring lemah di sana.
Aku duduk di samping ranjang dan meriah tangan Tisa.
"Bangun Sa... kamu pasti kuat! Ayo bangun. Bukankah kita akan menikah?!" Aku berbicara pada tubuh yang terus menutup matanya ini.
Aku tetap menangis meski mendengar suara pintu terbuka. Aku tak peduli.
"Kau bilang, kau mencintaiku. Jadi kau harus segera bangun agar kita bisa menikah!" ucapku lagi sambil terus menggenggam tangan Tisa.
Rupanya yang masuk barusan adalah Ayah dan Bundanya Tisa.
"Maafkan Ayah Sa. Jika saja Ayah tak merencanakan drama bodoh itu, mungkin sekarang kamu sudah menikah dan ini semua tak kan terjadi," ucap Ayahnya Tisa serak, terdengar seperti orang yang sedang menangis.
Tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam ruangan.
"Mohon maaf, jam besuk habis. Kami akan memeriksa kondisi pasien," ucapnya yang membuatku melepas tangan Tisa dan keluar dari ruangan.
Di luar ada ternyata ada Pipit yang baru sampai. Ada Papa dan Mama juga.
Tak ada pembicaraan. Hanya air mata dan suara orang menangis yang terdengar.
Lihat Sa! Semua menangisimu! Jadi kau harus cepat bangun!
__ADS_1
_________
Ini sudah hari ketiga. Tisa masih setia menutup matanya.
Aku yang tidak tidur selama beberapa hari membuat kepalaku terasa berat.
Aku yang duduk di samping Tisa menaruh kepala di bibir ranjang dengan tangan tetap menggenggam tangan Tisa.
_________
Dengan heran, aku menatap sekitarku yang berwarna serba putih. Sunyi dan tenang, itu yang kurasakan.
Aku terus berjalan meski tak tahu mau kemana. Hingga akhirnya aku melihat seorang perempuan berjalan di depanku. Dari belakang aku sudah mengenali siapa dia.
"Tisa!" panggilku.
Perempuan itu menoleh. Segera aku berlari menghampirinya.
"Tisa! Kamu mau kemana?!"
"Aku mau ke sana!" tunjuknya ke arah pintu yang mengeluarkan cahaya.
"Tidak boleh!" tegasku. Aku merasa jika dia masuk kesana, maka dia tak akan kembali.
"Kenapa?" Tisa mengernyit bingung.
"Kau bilang, kau mencintaiku?"
"Iya! Aku mencintaimu Ndri! Tapi aku ingin kesana!"
"Tidak Sa! Kau tidak boleh pergi! Kau harus ikut denganku! Kita akan menikah!"
"Benarkah?" Tisa tersenyum menatapku.
"Iya!" Aku mengangguk mantap. "Makanya, kau harus ikut denganku!" Aku mengulurkan tanganku pada Tisa.
Tisa terlihat tahu untuk menggapai tanganku. Dia menoleh ke pintu tadi lalu kembali menatapku.
"Ndri, aku mencintaimu! Tapi aku akan ke sana!" Tisa tersenyum lalu pergi meninggalkanku.
"Tidak Sa! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" teriakku saat dia terus berjalan ke arah pintu itu.
Tisa terus berjalan dan menghiraukan teriakanku.
"Jangan tinggalkan aku Sa! Tisaaa!"
__ADS_1
Hap!
Aku berhasil menangkap tangan Tisa sebelum kakinya melangkah ke pintu itu.