
‘’Kita tidur bersama disini dikamar ini, diranjang ini. Bahkan aku memelukmu sampai pagi.’’
Anastasya melompat dari ranjang itu. ‘’Kau gila, benar-benar gila, kau alien, kau pria brengsek yang sangat menyebalkan. Aku semakin tak ingin bersamamu.’’Anastasya Hendak berbalik keluar dari kamar itu tapi tanganya sudah dicekal terlebih dulu.
Al membawa kembali tubuh Anastasya keatas ranjang lalu mencium bibirnya. Kedua tangan Anastasya dicengkram kuat sehingga tidak bisa melepaskan diri.
‘’Pria brengsek ini selalu membuatku kesal. Ingin sekali kubuang ke kandang buaya biar menjadi santapan para buaya.’’
‘’Morning kiss baby, biar semangat kerjanya.’’ Al mengedipkan satu matanya dan kemudian ia mencium kening Anastasya lagi.
‘’Cepat mandi, kita ke kampusnya bareng.’’ Al turun berniat meninggalkan Anastasya.
‘’Aku tidak membawa baju satupun kesini.’’
Al tersenyum, membawa Anastasya ke arah lemari pakaian dan membuka lemari itu, entah sejak kapan tapi dalam lemari itu sudah banyak pakaian wanita yang ukuranya sangat pas di tubuh Anastasya.
‘’Ini milik siapa? Apa tidak pa-pa jika aku menggunakannya?’’ Tanya Anastasya, tak enak jika menggunakan pakaian orang lain tanpa meminta izin langsung pada pemiliknya.
‘’Semua pakaian itu milikmu jadi kau bisa menggunakan apapun yang ada.’’
‘’Milikku? Apa kau bercanda?’’
Al memeluk Anastasya dari belakang sesekali mencium tengkuk wanita itu. ‘’Itu milikmu baby, aku menyiapkannya karena yakin suatu saat kau akan memerlukannya.
‘’Tapi darimana kau tau ukuranku? Bahkan kau juga menyiapkan pakaian dalam untukku.’’
‘’Jangankan ukurannya, bahkan letak beberapa tahi lalat di tubuhmu pun aku tahu.’’ Ucapnya bangga.
Blush.. Wajah Anastasya merona merah padahal saat ini ia tidak sedang menggunakan perona pipi.
‘’Yaudah kau mandilah nanti terlambat, ingat jam pertama adalah mata kuliahku.’’
‘’Ah mendengar hal itu aku jadi tidak berselera masuk kampus, yang ada aku akan masuk rumah sakit karena darah tinggi jika harus terus bertemu dengannya.’’
‘’Baby kenapa malah melamun?’’ Al menggigit ujung hidung Anastasya dengan gemas.
‘’Astaga apa yang pak Al lakukan?.’’
‘’Kau sangat menggemaskan baby, aku jadi tak tahan.’’
__ADS_1
‘’Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, aku bukan pacarmu.’’
‘’Kau memang bukan pacarku tapi calon istriku, calon ibu dari anak-anakku.’’ Dengan gerakan cepat Al mengecup bibir Anastasya kemudian berlari keluar meninggalkan kamar itu.
‘’Dasar pria sialan.’’ Teriak Anastasya.
Tak ingin berlama-lama Anastasya berjalan hendak memasuki kamar mandi. Namun, kakinya berhenti saat mendengar dering telepon dari tasnya.
Andrea calling..
Anastasya bingung harus mengangkatnya atau tidak, pasti semalam Andrea mengkhawatirkannya, ia sudah berjanji menginap dirumah wanita itu tapi tak datang bahkan tanpa memberi kabar. Dengan menghembuskan napas berat Anastasya menggeser tombol hijau.
‘’Woi lo kemana aja semalam, kenapa telpon gw nggak diangkat-angkat?’’
‘’Bicaranya pelan-pelan dong, kuping gw sakit nih.’’ Anastasya sampai menjauhkan ponsel nya dari telinga akibat teriakan Andrea.
‘’Habisnya gw khawatir Sya, lo nggak bisa dihubungi, gw mikirnya lo nggak jadi datang tapi semalam nyokap lo nelpon nanya lo udah tidur belum, makanya gw jadi khawatir banget, gw pura-pura nanya Ardy, dia juga nggak tau lo dimana, jadi jelasin lo semalam nginap dimana?’’
‘’Terus lo jawab apa Rea?’’
‘’Ya terpaksa gw bilang lo udah tidur dari sejam yang lalu, emangnya semalam lo kemana? Gw butuh penjelasan ya, kalo nggak gw kasih tau Ardy, lo mau?.’’
‘’Gw janji bakalan jelasin semuanya, tapi nggak sekarang karena gw harus buru-buru, bisa apes gw kalau terlambat lagi.’’
Anastasya pun setengah berlari memasuki kamar mandi, jika terlambat ia yakin Al akan menggunakan hal itu untuk mengerjainya.
Al menunggu Anastasya di meja makan. Suara high heels yang menapaki anak tangga, membuatnya menoleh pada wanita itu.
Anastasya terlihat sangat cantik dengan menggunakan dress berwarna putih, rambutnya dibiarkan tergerai, kulitnya yang putih seakan menyatu dengan warna dress yang digunakannya.
‘’Cantik.’’ Ucap Al
Asyik melihat wajah cantik itu, Al sampai tak sadar Anastasya sudah berdiri didepannya. Sekarang ia bisa mencium wangi tubuh wanita itu. Aroma yang sama dengan tubuhnya.
Al menarik Anastasya hingga terduduk dipangkuannya, kemudian menarik tengkuknya, melu mat lembut bibir ranum itu. Lewat ciuman Al berusaha menyampaikan betapa ia mencintai wanita di depannya ini.
‘’Kau milikku dan selamanya akan begitu. Ayo kita menikah, aku janji akan selalu mencintaimu di masa depan.’’
‘’Lepaskan.’’ Anastasya hendak turun dari pangkuan Al. namun, al sudah lebih dulu menahannya.
__ADS_1
‘’Kau milikku dan aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap disisiku seperti ini kau tidak bisa menolakku, paham!!.’’
‘’Aku tidak sudi menikah denganmu.’’
‘’Aku tidak meminta pendapatmu, aku hanya memberitahukan padamu dan kau tidak bisa menolaknya, kupastikan dua minggu lagi kau akan menjadi nyonya di rumah ini menjadi nyonya Kennard dan menjadi istriku.
‘’Alvaro Kennard kau sangat menyebalkan.’’
Al tidak memperdulikan hal itu, ia bahkan tak membiarkan Anastasya turun dari pangkuannya.
Akhirnya mereka makan dari piring dan sendok yang sama, Anastasya yang memang sudah merasa lapar menerima saja ketika Al menyuapnya toh menolak juga percuma. Pria itu pasti akan terus memaksanya.
*****
‘’Pak Al tolong turunkan aku di persimpangan jalan depan.’’ Pintanya.
‘’Kita searah, aku akan menurunkanmu di kampus.’’
‘’Pak..please….’’ Ucapnya memohon.
‘’Aku akan melakukannya asal kau mau mencium pipiku.’’
Anastasya mencebik dalam hati. Namun, tak bisa menolak. Ia tak ingin seluruh kampus bergosip tentangnya jika melihat ia datang bersama pak Al. Anastasya menutup matanya saat Al mendekatkan pipinya.
Cup.. Anastasya mencium dengan cepat. Apa ini? Kenapa sangat lembut? Anastasya mencoba membuka matanya.
Ternyata tadi ia tidak mencium pipi Al tapi mencium bibirnya. Anastasya memundurkan kepalanya untuk memisahkan bibir mereka yang sedang bertemu sapa.
‘’Tidak segampang itu baby.’’ Al menarik kembali tengkuk Anastasya dan mulai melu mat bibir itu lagi, tak terlalu lama tapi hal itu membuat Al tersenyum bahagia.
‘’Oh ya tuhan kapan aku bisa terbebas dari pria brengsek psychopath ini?’’ sebelum keluar Anastasya melirik kaca spion terlebih dulu untuk membenarkan lipstiknya, dengan ragu-ragu juga ia mengusap sudut bibir Al yang terdapat noda lipstiknya.
Al tersenyum dan mengusap lembut kepala Anastasya. ‘’Hati-hati ya, sampai berjumpa di kelas. Ingat jangan terlambat’’ Ucapnya lalu mencium kening Anastasya.
‘’Hhmm..’’ Jawabnya lalu turun dari mobil itu. Dari jarak tak jauh Andrea melihat Anastasya yang turun dari mobil, entah mobil siapa Andrea juga tidak tau. Ia memutuskan menghentikan mobilnya di depan Anastasya.
‘’Masuk Sya.’’ Ucapnya saat menurunkan kaca mobilnya.
Anastasya pun menaiki mobil itu, ia cukup yakin tadi Andrea melihatnya sehingga ia tidak banyak bertanya dan langsung masuk.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya ya😉