
Bab ini terdapat adegan (21+) jadi jika tak menyukainya dilewat aja ya😁
Happy Reading.....
‘’Pak Al kau menyakitiku jika seperti ini, dimana cinta yang selama ini kau katakan padaku?’’ Al baru saja akan melahap gunung kembar Anastasya tapi kegiatannya terhenti saat mendengar ucapan dan isak tangis Anastasya.
‘’Oh. ****!!.’’ Al mengumpat dirinya sendiri kemudian berjalan ke kamar mandi dengan hanya menggunakan boksernya.
Al menonjok-nonjok dinding kamar mandi untuk melampiaskan kekesalannya.
Karena tak bisa menahan emosi hampir saja ia menyakiti Anastasya. Al mandi sedikit lama dari biasanya, karena harus merenungkan kesalahannya terlebih dulu.
Al keluar saat Anastasya sudah tertidur lelap. Al mengelus wajah Anastasya hatinya sakit melihat sisa air mata diwajah cantik itu.
Mungkin Anastasya lelah menangis sampai tertidur seperti itu, bahkan Anastasya tertidur hanya dengan menggunakan pakaian dalamnya.
‘’Maaf aku menyakitimu.’’ Al mencium kening Anastasya dan membenarkan tidur wanita itu lalu ikut berbaring di samping Anastasya dengan memunggunginya, Al tak kuat melihat tubuh molek Anastasya tanpa menyentuhnya.
Hampir jam tiga pagi Anastasya terbangun karena haus.
‘’Astaga aku tidur dengan pakaian seperti ini?’’ Anastasya melangkah besar menuju ruang ganti, setelahnya memutuskan ke dapur untuk mengambil minum.
Saat akan menaiki ranjang Anastasya melihat posisi tidur Al yang membelakanginya, Anastasya kemudian memindahkan tubuhnya di depan Al dan masuk dalam dekapan Al. Al sedikit menggeliat dan mempererat pelukannya.
Pagi tiba, Al mulai mengerjabkan matanya,sedikit kaget dan bingung meilhat wajah Anastasya berada tepat di depan wajahnya dengan jarak yang sangat dekat.
‘’Lihatnya biasa aja dong.’’ perlahan Anastasya membuka matanya. ‘’Istrimu ini memang sangat cantik.’’ bukannya bangun Anastasya malah membenamkan wajahnya di dada bidang Al.
‘’Sungguh kau adalah suami yang sangat menyebalkan, bagaimana bisa kau meninggalkan istrimu sendiri dirumah yang sangat besar ini, sebagai suami yang baik, harusnya kau membawaku kemanapun kau pergi bukannya meninggalkanku sendiri. Kalau masuk pencuri gimana? Mending kalau yang diambil TV atau barang berharga lainnya nah kalau yang diculik akunya gimana? Apa kamu bisa hidup tanpa aku?’’
Oceh Anastasya sedang Al masih diam menangkap ucapan Anastasya sambil tersenyum lebar.
‘’Kamu kenapa diam sih?’’ Anastasya mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Al.
‘’Kamu kenapa ninggalin aku disini sendiri?’’ Tanya Anastasya.
‘’Áku hanya ingin memberi jarak untukmu karena kau pasti tidak senang terus-terusan berada disampingku.’’
‘’Jadi kalau misalnya aku menyuruhmu menjauh maka kau akan menjauh? Kalau aku menyuruhmu menceraikanku maka kau akan menceraikanku?’’ Anastasya bangun dan duduk disamping Al yang masih berbaring.
__ADS_1
‘’Enak saja kalau ngomong, sudah berapa kali kukatakan kau itu milikku dan jangan pernah berharap pergi dariku jadi sampai kapanpun jangan pernah berharap aku menceraikanmu.’’
Al juga bangun dari tidurnya dan duduk menghadap Anastasya dengan mata tajamnya.
‘’Tapi dengan caramu menghindar dariku bukankah kau berniat meninggalkanku?’’
‘’Siapa yang akan meninggalkanmu? Jangan berharap tentang itu.’’
‘’Kupikir kau akan meninggalkanku bahkan kemarin kau membiarkanku saat dipeluk pria lain.’’
‘’Karena aku begitu baik maka aku memberikan waktu untuk kalian, aku tau kau masih begitu mencintainya.’’
Anastasya tertawa. ‘’Ternyata kau sangat bodoh, bagaimana bisa kau membiarkan pria lain memeluk istrimu, apa kau tidak mencintaiku lagi?’’
‘’Kau tau aku begitu mencintaimu tapi aku juga cukup tau kau begitu mencintai pria itu.’’
‘’Itu kan menurutmu bapak Al yang terhormat, kemarin aku sudah mengatakan padanya bahwa aku sudah memiliki seorang suami, dan bukankah sebagai seorang suami kau lebih berhak atasku dibanding Raka yang hanya mantan pacar?’’
Anastasya bangun, berniat meninggalkan tempat tidur tapi Al menarik tangannya.
‘’Maksud kamu… kamu lebih memilih pernikahan kita dibanding pria itu.’’
‘’Benarkah? Kau tidak sedang membohongiku kan?’’ Al memastikan.
‘’Untuk apa aku membohongimu, sudah aku mau mandi dulu.’’ Anastasya menyingkirkan tangan Al dan berlalu ke kamar mandi.
‘’Mandi bareng bisa nggak, aku udah mau terlambat nih.’’ Al berlari menyusul Anastasya kedalam kamar mandi.
‘’Pak Al ngapain? Tanya Anastasya yang hendak menyalakan shower.
‘’Mandi Sya, waktunya mepet hampir telat ke kampus.’’
‘’Alasan aja, ini masih sangat pagi ya pak Al.’’ Anastasya membalik tubuh Al dan mendorongnya keluar dari kamar mandi tapi karena kekuatannya yang tidak seberapa tubuhnya malah sudah terkunci oleh tangan Al.
‘’Sya aku bisa nggak nyium kamu sekarang?’’
Anastasya mengerutkan keningnya. ‘’Tumben pake nanya, biasanya nyosor aja.’’
Al terkekeh mendengar ucapan itu. ‘’Soalnya aku pengen nyium kami di sini,sini,sini,sini.’’ Al menunjuk bibir, leher, dada dan perut Anastasya.
__ADS_1
‘’Masih pagi udah mesum aja sih.’’ Anastasya mendorong tubuh Al tapi Al sudah lebih dulu membungkam bibirnya. Dengan kedua tangan yang sudah memijat pelan aset kembar Anastasya.
Antasya mendesah saat Al menghisap ujung pa******nya yang berwarna pink itu.
‘’Pak satu lagi dong jangan itu mulu yang dihisap.’’ Rancau Anastasya membuat Al sedikit terkekeh tapi dengan cepat melakukan apa yang dikatakan Anastasya.
Perlahan ciuman Al turun ke perut dan sekarang Al sudah berjongkok di depan Anastasya dengan mata berbinar memandang kain segitiga yang berwarna merah yang masih melapisi area favorit Al.
‘’Al mengangkat wajahnya keatas. ‘’Bisakah aku memegangnya saja?’’
‘’Astaga kenapa kau harus bertanya seperti itu kau membuatku malu saja.’’ wajah Anastasya sudah semerah tomat.
Seakan ingin menikmati moment, Al menurunkan segitiga merah itu dengan perlahan sampai menampilkan pemandangan yang sangat indah, milik istrinya sangat bersih, tidak ada bulu yang menempel di area itu.
Al mulai memasukan tangannya ke area sempit sang istri dan bermain main disana membuat Anastasya mendesah keenakan.
Al berdiri dan mencium bibir Anastasya lagi. ‘’Baby bisakah kita melakukan hal itu pagi ini?’’
Anastasya menggeleng. ‘’Kita harus ke kampus pak Al, kita bisa melakukannya nanti malam.’’
Al membuang nafas berat karena harus menahan hasratnya lagi. Merasa kasihan melihat wajah sendu Al, Anastasya mendekat dan mencium bibir Al. ‘’Kau bisa melakukannya tapi jangan terlalu lama.’’
Wajah Al yang tadinya sendu menjadi begitu cerah mendengar ucapan Anastasya dan jadilah pertempuran panas itu selama hampir satu jam, Al sangat tidak rela menghentikan kegiatan menyenangkan itu hanya saja ia memiliki tanggung jawab lain yang harus dilakukannya.
‘’Apa kau senang bertemu Arnold lagi?’’ tanya Al yang sudah mencium tengkuk Anastasya sedang wanita itu masih sibuk menutup kissmark di lehernya menggunakan foundation.
‘’Arnold?.’’ Anastasya berpikir. ‘’Oh iya dulu pak Al pernah berjanji akan membiarkanku bertemu Arnold dan menaikinya, jadi kapan aku bisa menaiki Arnold?’’
Al terkekeh mendengar pertanyaan polos istrinya. ‘’Nanti malam, aku janji kau bisa menaikinya sepuasnya.’’
‘’Benarkah?’’ Anastasya bersorak girang sedang Al hanya tersenyum penuh arti.
‘’Jangan pake warna itu bae.’’ Al merampas lipstik merah dari tangan Anastasya dan menggantinya dengan lipstik nude dan Anastasya pun tak memprotesnya.
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...
Jangan lupa like dan komennya...
__ADS_1