Love By Mistake

Love By Mistake
Dilihat pak Erik


__ADS_3

Mendengar itu Andrea malah tersenyum senang ya senang karena sahabatnya yang paling bawel paling manja mendapatkan sosok suami yang begitu mencintainya.


Memang benar kata orang kita akan merasa senang saat orang-orang yang kita sayangi bahagia dan itulah yang dirasakan Andrea sekarang.


‘’Ardy kemana sih, kenapa jam segini belum datang?’’ Tanya Anastasya pada Andrea


‘’Emangnya lo nggak baca WA, hari ini kan Ardy nggak masuk karena katanya ada kerjaan mendadak di surabaya dan mungkin dia disana selama tiga hari.’’


‘’Woi kabar gembira, hari ini pak Budi nggak jadi masuk katanya sakit.’’ Ucap seseorang sambil berteriak di depan kelas dengan wajah yang begitu senang dan jelas saja semua mahasiswa berteriak kesenangan dan satu-satu dari mereka mulai keluar meninggalkan kelas.


‘’Astaga gw nggak abis pikir kita begitu merasa senang karena pak budi nggak masuk padahal pak budi kan nggak masuk karena sakit berarti kita bersyukur dong akan sakit yang diderita pak Budi, iya nggak sih?’’


Tanya Andrea dan setelahnya ia dan Anastasya kompak tertawa lalu keluar dari kelas itu dan sekarang tujuan mereka adalah perpustakaan mencari bahan-bahan untuk menunjang skripsi mereka.


Tak seperti biasanya hari ini perpustakaan begitu ramai sampai tak ada satupun tempat duduk kosong hingga Anastasya dan Andrea memutuskan hanya meminjam buku yang mereka perlukan lalu berjalan menuju taman yang berada di kampus dan duduk santai di sana sambil menyicil membuat skripsi.


‘’Bae kenapa dari tadi chatku nggak dibales.’’ Tanya Al begitu Anastasya mengangkat teleponnya


‘’Sorry hubby tadi lagi sibuk jadi lupa bales."


‘’Kamu dimana sekarang? Datang ke ruanganku kita makan siang sama-sama tadi aku udah beliin kamu bakso.’’


‘’Aku lagi ditaman bikin skripsi sama Andrea, baksonya diantar kesini aja ya.’’


Mendengar Anastasya sedang membuat skripsinya mau tak mau Al tak bisa memaksa Anastasya ke ruangannya karena tak mau mengganggu niat Anastasya yang tiba-tiba datang.


Ya Anastasya memang tergolong orang yang mood moodan dalam melakukan sesuatu termasuk dalam mengerjakan skripsi juga.

__ADS_1


Terkadang Al malah harus memaksa Anastasya untuk menyicil sedikit demi sedikit skripsinya tapi wanita itu sangat keras kepala dan biasanya lebih memilih menonton drama kesukaannya daripada membuat skripsinya karena katanya ia ingin menyusun skripsi disaat perasaannya ingin agar nanti fokusnya tak terbagi dengan hal lain dan kalau dipaksa yang ada ia malah akan menyusun skripsinya itu dengan ogah-ogahan.


Dengan terus memperhatikan sekeliling pelan-pelan Al menghampiri Anastasya untuk mengantar makan siangnya tak lupa Al membawa tiga porsi.


Tiga porsi itu bukan untuk mereka bertiga loh tapi hanya untuk Anastasya dan Andrea karena Anastasya lah yang akan memakan dua porsi, sejak kehamilannya nafsu makan Anastasya naik berkali-kali lipat.


‘’Makan yang banyak kalau perlu sesuatu telepon aku aja.’’ setelah memberikan makanan dengan cepat Al pergi dari tempat itu tak mau ada yang melihat apa yang tengah dilakukannya, bukan karena ia belum siap hanya saja Anastasya yang belum siap kalau pernikahan mereka diketahui banyak orang dan Al mendukung keputusan itu.


‘’Itu bukannya pak Al, kenapa dia bertemu diam-diam dengan kedua mahasiswa itu?’’


Ternyata pak Erik tidak sengaja melihat saat pak Al memberikan makanan pada Anastasya dan Andrea niatnya pak Erik akan pergi ke mushola tapi tak sengaja melihat pak Al dan mulailah timbul rasa curiga dalam hati dan benak pak Erik.


Hari hampir sore, Anastasya memutuskan menghampiri Al diruangannya karena Anastasya sudah tak memiliki jadwal kuliah sedang Al masih harus satu kali mengajar lagi.


Anastasya tiba di ruangan Al bertepatan dengan Al yang akan keluar untuk mengajar.


Tok..tok..tok


Pintu diketuk dari luar hingga Anastasya kaget, Anastasya sedikit mengintip melihat siapakah gerangan yang sedang mengetuk-ngetuk pintu ruangan Al dan sedikit terkejut  saat melihat ibu Irenlah yang sedang mengetuk pintu ruangan itu.


Dengan santai Anastasya kembali duduk di sofa dan mulai membuka ponselnya untuk sedikit menghilangkan rasa penat.


karena tak mungkin juga ia membuka pintu untuk bu Iren nanti yang ada dosen itu pingsan saat melihat kehadiran Anastasya di ruangan Al.


tak lama ketukan itu tak terdengar lagi mungkin bu Iren sudah pergi. Lagian dosen itu sangat aneh seharusnya jika beberapa kali mengetuk dan tak dibukakan harusnya dari tadi dia sudah meninggalkan tempat itu tapi bu Iren malah terus mengetuk pintunya.


*****

__ADS_1


‘’Hai pak Al.’’ Bu iren menyapa pak Al saat pria itu keluar dari kelas yang tadi diajarnya, wah ternyata bu Iren menyusul dan menunggu pak Al sampai pelajarannya selesai.


‘’Ada apa bu iren?’’ Tanya Al to the point tapi tetap meneruskan langkahnya sedang bu Iren dengan senang berjalan disamping Al tanpa memperhatikan raut wajah Al yang tidak suka dengan keberadaannya.


‘’Dari tadi saya menunggu pak Al karena ingin menumpang pulang, tadi mobil saya masuk bengkel dan kebetulan rumah kita kan searah jadi saya ingin menumpang di mobil pak Al.’’


Mendengar itu Al menghentikan langkahnya dan melihat pada bu Iren yang sedang tersenyum senang padanya sambil sesekali memasukan anak rambutnya ke belakang telinga.


‘’Maaf bu Iren saya sudah ada janji dengan istri saya, mungkin bu Iren bisa meminta tolong pada pak erik atau mungkin bu Iren bisa memesan taxi online.’’


Al meneruskan kembali langkahnya sedang bu Iren masih tidak kehilangan akal dan terus mengejar Al yang kini mulai membesarkan langkahnya hingga bu Iren harus mengejarnya dengan setengah berlari.


‘’Maaf pak Al tapi saya nggak enak kalau harus meminta tolong pada pak Erik karena sejujurnya saya tidak begitu dekat dengan pak Erik.’’


Bu iren berucap dengan suara yang dibuat sangat lembut tapi tetap saja tak mampu menarik perhatian Al.


‘’Maaf bu Iren sepertinya kita juga tidak sedekat itu dan mobil saya hanya saya khususkan untuk istri dan keluarga saya. Jika bu Iren berkenan mungkin saya bisa memesankan taxi online untuk bu Iren.’’


Al sudah sangat malas menanggapi bu Iren tapi sebisa mungkin ia menahannya karena walau bagaimana pun wanita itu adalah rekan kerjanya.


Al terus melangkah kemudian senyum terukir di wajahnya saat melihat pak Erik yang sedang berjalan ke arahnya sepertinya pak Erik akan pulang hingga Al menghentikan langkahnya untuk menyapa pak Erik.


Al meminta pak erik untuk mengantarkan bu Iren dan tanpa keberatan pak Erik setuju untuk mengantarkan bu Iren hanya saja bu Iren menjadi sangat jengkel karena rencananya pulang bersama Al tak berhasil.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya.....


__ADS_2