Love By Mistake

Love By Mistake
Arnold


__ADS_3

‘’Maaf untuk?’’ Anastasya mengangkat kepalanya menatap wajah Al.


‘’Maaf sudah membuatmu mengandung anak kita sementara kau masih harus kuliah.’’ Al mengelus lembut kepala Anastasya.


‘’Kau sudah tau aku hamil?’’


Al mengangguk. ‘’Dan sepertinya anakku tak ingin jauh dariku, buktinya kau akan selalu merasa nyaman hanya saat didekatku.’’


Anastasya menganggukan kepalanya beberapa kali. Benar apa yang diucapkan Al, dia akan merasa sangat nyaman saat pria itu berada disampingnya.


‘’Sya aku janji akan manjaga kamu dan anak kita dengan baik.’’


Anastasya sama sekali tak merespon ucapan itu. berdiri dari pangkuan Al karena tidak merasakan mual lagi lalu dengan cepat mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Sejujurnya Anastasya sama sekali tidak percaya dengan kata cinta lagi setelah apa yang dialaminya.


Dulu juga Raka sering mengatakan cinta padanya, tapi apa yang didapatnya? Hanya penghianatan.


*****


Anastasya berjalan menuju meja makan, disana sudah ada Al yang menunggunya dengan senyum yang begitu cerah sedang kedua orang tuanya entah kemana mereka pergi.


‘’Hai bae.’’ sapa Al sedikit kikuk.


Anastasya tak membalas sapaan itu, duduk di samping Al dengan diam dan makan dengan diam seolah Al tidak ada.


‘’Bae aku antar ke kampus ya?’’ tawar Al setelah mereka selesai makan.


Masih diam, Anastasya sama sekali tak membuka mulutnya untuk berbicara, mengambil tasnya, berlalu meninggalkan Al dan masuk kedalam mobilnya lalu meninggalkan rumah itu sedang Al masih terpaku di tempatnya melihat sikap dingin Anastasya.


Sejak hari itu Al tidak bertemu Anastasya lagi sampai hari ini, hari yang sudah ditetapkan menjadi hari pernikahan mereka.


Sementara di rumahnya, Anastasya menangis tersedu-sedu saat mamanya mengatakan hari ini hari pernikahannya dan Al. Anastasya menolak dan terus menangis.


‘’Sayang, mama dan papa melakukan semua ini untukmu juga, kau ingin melahirkan tanpa seorang suami disampingmu? Apa kau siap jika semua orang mencibirmu karena hamil tanpa seorang suami?’’ mama mencoba memberi pengertian pada putrinya itu.


Anastasya terlihat berpikir mendengar perkataan itu, memang dialah yang akan sangat menderita jika menolak pernikahan ini, setidaknya jika memiliki suami ia akan terhindar dari banyak cibiran yang akan menghampirinya dan anaknya nanti.

__ADS_1


Anastasya pun pasrah saat seorang perias masuk dalam kamarnya. Anastasya masih terdiam kaku saat sampai di gereja yang akan menjadi saksi pernikahan mereka.


‘’Kamu pasti bisa Sya, ini untukmu dan juga anakmu.’’ gumannya memberi semangat pada dirinya sendiri sambil mengelus perutnya.


Hampir dua jam mereka melewati semua prosesi pernikahan, sekarang Anastasya dan Al sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


Al memperlihatkan wajah bahagianya sedang Anastasya memperlihatkan wajah sendunya. Bahkan di hari pernikahannya, kedua sahabatnya tidak berada disampingnya.


‘’Kamu kenapa bae?’’ Al panik melihat wajah Anastasya yang sudah dipenuhi air mata.


‘’Aku…aku.’’ tangis Anastasya pecah. Al menarik tubuh wanita itu dalam pelukannya.


‘’Maaf.. Maafkan aku.’’ Al ikut menangis sambil mengelus kepala Anastasya. Setelah dirasa tenang, Al melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata diwajah Anastasya. ‘’Jangan menangis lagi, nanti orang tua kita akan berpikir bahwa aku menyiksamu.’’


‘’Kau memang menyiksaku dengan cara memaksakan perasaanmu padaku.’’ Sindir Anastasya sedang Al tak bisa mengeluarkan kata lagi karena apa yang diucapkan Anastasya benar adanya.


‘’Maaf.’’ Ucap Al lagi.


‘’Sudahlah maafmu tak berguna lagi, semuanya sudah terlambat. Kita bahkan sudah resmi sebagai suami istri. Tapi ingat pak Al walau aku istrimu jangan pernah kau memaksa aku untuk menyukaimu atau mencintaimu.’’


‘’Tapi kau istriku, siapa lagi yang akan kau cintai kalau bukan aku suamimu.’’


Al begitu geram mendengar ucapan Anastasya. Wanita itu selalu saja berkata seenaknya tanpa berpikir terlebih dulu.


‘’Terserahmu saja.’’ Al meninggalkan Anastasya dengan perasaan kesal.


Sepulang dari gereja, Al langsung membawa Anastasya kerumah pribadinya. Disanalah Anastasya akan tinggal mulai hari ini.


‘’Apa kita akan tidur dikamar yang sama?’’ tanya Anastasya begitu mereka memasuki rumah.


Al mengangguk. ‘’Apa kau pernah lihat suami istri yang tidur pisah kamar?’’


‘’Iya aku sering melihatnya di drama, beberapa pasangan yang tidak saling mencintai akan tidur diranjang yang terpisah dan bukankah kita seperti itu juga?’’ Anastasya melangkahkan kakinya melewati Al yang masih terpaku akan ucapannya.


‘’Kita akan tidur di kamar yang sama dan sepertinya kau harus berhenti menonton drama karena itu memberi pengaruh buruk padamu.’’


‘’Bukan drama yang menjadi pengaruh buruk untukku tapi keberadaanmu.’’ Anastasya menunjuk Al tepat didepan hidungnya.

__ADS_1


Al terkekeh pelan melihat tingkah istrinya. Kadang wanita itu membuatnya sangat jengkel tapi tak dapat dipungkiri ia lebih banyak tersenyum saat wanita itu ada didekatnya.


‘’Pak Al tidur di sofa aja ya?’’ Pinta Anastasya.


Mendengar itu, Al dengan cepat membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan menarik tubuh Anastasya hingga jatuh dalam pelukannya, dengan tubuh anastasya berada diatas tubuhnya. ‘’Kenapa aku harus tidur di sofa, aku ingin tidur di ranjang sambil memelukmu seperti ini sampai pagi.’’ bisik Al dibelakang telinga Anastasya.


‘’Ih.. Lepasin aku dong, gerah tau.’’ Anastasya mencoba keluar dari pelukan Al.


‘’Bagaimana kamu bisa gerah baby kita bahkan belum memulainya.’’ Al tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan kedua alisnya.


‘’Memulai apa? Apa pak Al sedang merencanakan sesuatu?’’


Al mengangguk. ‘’Aku ingin mempertemukanmu dengan Arnold lagi baby.’’


Anastasya memutar malas bola matanya. ‘’Arnold lagi.. Arnold lagi, aku bahkan tidak tau siapa itu Arnold dan kami bahkan belum pernah bertemu.’’


‘’Apa kamu ingin bertemu dengannya?’’


‘’Apa dia seorang anak laki-laki yang lucu?’’ Tanya Anastasya dengan wajah polosnya.


Al terbahak membuat Anastasya mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang membuat Al terbahak seperti itu.


‘’Apa kau menertawakanku?’’ selidik Anastasya.


Al merapikan anak rambut Anastasya yang sedang tengkurap santai di atas tubuhnya. ‘’Aku tidak menertawakanmu baby, aku hanya kasihan pada Arnold karena pemiliknya tidak mengenalnya.


Anastasya mengerutkan keningnya lagi. ‘’Pemilik? Apa Arnold itu sebuah benda?’’


‘’Ya dia adalah benda mati yang akan membuatmu berteriak keenakan seperti sedang melayang di udara.’’


‘’Ha!! Memangnya ada benda seperti itu pak? Apa dia semacam pesawat atau helikopter? Apa pak Al bisa membelinya untukku?’’ Anastasya terlihat begitu girang membayangkan Arnold.


‘’Aku tidak perlu membelinya baby karena memang Arnold sudah menjadi milikmu sejak saat pertama kita bertemu.’’


‘’Benarkah? Lalu kapan aku bisa menaikinya?’’ Anastasya merubah posisinya menjadi duduk, sekarang Anastasya sedang duduk santai diatas dada bidang Al dengan kedua kakinya disilangkan.


Bersambung.....

__ADS_1


Berikan kritik dan saran kalian agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...


Jangan lupa like dan komennya...


__ADS_2