Love By Mistake

Love By Mistake
Kehamilan Anastasya


__ADS_3

Perlahan Anastasya membuka matanya, melihat wajah mama yang tampak khawatir. Berusaha bangun dari tidurnya. Namun, tubuhnya terasa sangat lemas.


‘’Awh.’’ Ringis Anastasya sembari memegang kepalanya yang terasa pusing. Tiba-tiba perutnya terasa mual, perlahan mencoba bangun dari ranjangnya, berjalan dengan pelan menuju kamar mandi.


Anastasya berjongkok di depan closet dan memuntahkan sebagian isi perutnya.


‘’Kamu kenapa sayang?’’ Mama menepuk pelan punggung Anastasya dengan wajah yang begitu khawatir.


Anastasya menggeleng kemudian bersandar di kaca transparan samping closetnya.


‘’Nggak tau ma, tapi kepala Sya pusing banget terus merasa mual juga.’’ Ucap Anastasya dengan suara lemas sambil memejamkan matanya.


‘’Yaudah kamu istirahat lagi, mama mau telpon dokter Shanti dulu.’’ Mama mencoba membopong tubuh Anastasya. Namun, sebelum tubuh itu terangkat sempurna Anastasya merangkak pelan dan membuang muntahnya lagi dicloset.


‘’Papa.. Papa.’’ teriak mama kencang dari kamar mandi yang ada di kamar Anastasya.


‘’Kenapa teriak-teriak ma?’’ tanya papa begitu sampai di kamar Anastasya.


‘’Kamu dimana ma?’’ tanya papa yang tak mendapat istrinya didalam kamar itu.


‘’Kamar mandi pa, ini anakmu lagi sakit. Tolong hubungi dokter Shanti.’’ Pinta mama sedang papa cukup syok melihat keadaan Anastasya yang terlihat begitu lemah dengan wajah yang sangat pucat.


Papa ingin mengangkat tubuh Anastasya dan membawanya ke kamar tapi Anastasya menolak karena rasa mual yang selalu datang membuatnya lebih nyaman berada didekat closet.


Tak beberapa detik Anastasya muntah-muntah lagi membuat papa dan mama lebih panik. Kebetulan papa membawa ponsel di sakunya hingga dengan cepat papa menelpon dokter Shanti dan menyuruhnya datang untuk memeriksa kondisi Anastasya.


Mama terus melap keringat Anastasya yang sejak tadi berjatuhan. Mama menangis, panik, takut Anastasya menderita suatu penyakit.


Hampir 30 menit dokter Shanti sudah berada di kamar itu, dengan cepat memeriksa kondisi Anastasya. Dokter itu sedikit terkejut dengan diagnosisnya, ia cukup tau Anastasya belum menikah tapi apa yang terjadi?


‘’Sya kalau boleh saya tau kapan terakhir kamu menstruasi?’’ tanyanya pada Anastasya.


Anastasya tampak terkejut dan berpikir, tapi lupa kapan terakhir ia mendapatkan menstruasi.


‘’Sya lupa dok, apakah sakit Sya terkait dengan menstruasi dok?’’ Tanya Anastasya dengan suara lemah.

__ADS_1


Dokter Shanti kemudian mengalihkan pandangannya pada mama dan papa Anastasya yang terlihat sangat khawatir sambil menunggu diagnosisnya.


‘’Bu, pak, kalau menurut saya Sya sekarang sedang mengandung, tapi lebih baik diperiksakan langsung pada dokter obgyn agar hasilnya lebih akurat.’’


Bagai disambar petir ketiga orang itu ternganga dengan apa yang disampaikan dokter Shanti, bahkan papa tak bisa menyembunyikan rasa marah dan kecewanya.


Dokter Shanti pun pamit pulang. cukup tau keadaan saat ini tidak mungkin membuatnya berlama-lama di tempat itu.


Mama menghampiri Anastasya mengusap lembut kepala wanita itu, walau kecewa mamanya mencoba untuk tak terbawa emosi.


‘’Sayang tolong katakan pada mama dan papa, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa ayah dari anak yang kau kandung itu?’’


Anastasya diam, bibirnya tertutup sangat rapat hanya air mata yang terus menetes di pipinya.


‘’Anastasya.’’ Teriak papa tak bisa lagi menahan emosinya.


‘’Katakan dengan siapa kau melakukannya?’’ tanya papa dengan suara besar penuh emosi.


‘’Maaf pa, ma’’ Anastasya memejamkan matanya, hanya satu kata itu yang terucap dari bibirnya.


Anastasya terisak pilu. ‘’Papa, mama tolong jangan paksa, Sya tidak mau mengingatnya lagi dan Sya akan menggugurkan bayi ini karena Sya sama sekali tidak menginginkannya.’’


Plak..


Satu tamparan yang lumayan keras hinggap di pipi Anastasya. Wanita itu refleks memegang pipinya yang terasa begitu perih. Ini pertama kalinya ia mendapat tamparan dari mamanya.


‘’Anastasya dari mana kamu belajar hal sekeji itu? Kamu ini ibunya, bisa-bisanya kamu memiliki pikiran untuk membunuhnya.’’ ucap mama dengan wajah yang marah dan penuh kekecewaan terhadap Anastasya.


Anastasya terus terisak, benar kata mamanya, ibu macam apa dia, tega-teganya ingin membunuh anaknya padahal anak itu sama sekali tidak bersalah.


‘’Maaf.. Maaf…maaf.’’ Anastasya terisak sambil mengelus perutnya dengan tangan yang bergetar.


Papa dan mamapun tak tega melihat Anastasya seperti itu, mereka memeluk dan mendekapnya. Mereka sadar sekarang bukan saatnya mereka menyalahkan Anastasya tapi harus memberikan kekuatan agar putri kesayangan mereka itu bisa melewati semuanya dengan baik.


‘’Yaudah kamu istirahat aja dulu.’’ mama mencium kening Anastasya, menarik selimutnya kemudian mama dan papa keluar dari kamar itu.

__ADS_1


Malam ini papa dan mama sengaja mengundang Yoga dan Ami untuk membicarakan perihal pernikahan anak-anak mereka yang kemungkinan besar akan dibatalkan. Mereka tak mungkin meneruskan rencana pernikahan itu sementara Anastasya sedang hamil.


Pukul tujuh malam pak Yoga, istri beserta Al sudah tiba dirumah keluarga Anastasya sementara Anastasya masih Asyik tidur dalam kamarnya.


‘’Yoga, Ami, Al, maaf tapi sepertinya kami harus membicarakan ini sebelum semuanya terlambat.’’ Ucap papa Anastasya dengan wajah sendunya.


Ketiga orang yang disebutkan tadi hanya diam menunggu apa yang akan disampaikan.


‘’Sepertinya kita harus membatalkan acara pernikahan Al dan Anastasya.’’ ucap papa Anastasya dengan rasa bersalah.


‘’Tapi kenapa om? bukannya om sangat setuju kalau Al menikahi anak om?’’ tanya Al yang sekarang sudah berjongkok di hadapan papa Anastasya sedang Yoga dan Ami masih diam di tempatnya.


Papa Anastasya mengusap kasar wajahnya tak tega melihat Al yang sepertinya begitu tak ingin membatalkan pernikahan itu, sangat terlihat bahwa pria itu sangat mencintai putrinya. Hingga membuatnya semakin tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya.


‘’Maaf Al tapi sekarang keadaan Anastasya tidak memungkinkan untuk menjadi istrimu.’’ papa Anastasya menggenggam erat tangan Al mencoba memberi pengertian.


‘’Memangnya ada apa dengannya om? Apa dia sakit?’’ Tanya Al lagi dan mendapat gelengan kepala dari papa Anastasya.


‘’Lalu dia kenapa om? Apa yang terjadi padanya tolong katakan pada Al.’’ ucap Al dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


‘’Anastasya hamil Al jadi kalian tidak mungkin melanjutkan pernikahan ini.’’ Ucap papa dengan suara sedikit pelan, tak tega pada Al.


Al terduduk lemas di lantai sambil menangis, menekuk kakinya sebagai sandaran untuk kedua tangannya lalu membenamkan wajahnya dicela kedua tangan itu sambil terus terisak.


‘’Yang sabar sayang, mungkin kalian memang tidak berjodoh.’’ Mama Al mengusap punggung Al mencoba memberi kekuatan pada Al yang terlihat begitu sedih.


‘’Maafkan Al om, tante.’’ Al mengangkat wajahnya, mencoba melihat kedua orang tua Anastasya.


‘’Al…Al.. tidak sengaja sudah merusak masa depan putri kesayangan om dan tante. Al..Al.. ayah dari anak yang dikandung Sya sekarang.’’ Ucap Al jujur membuat kedua orang tuanya dan orang tua Anastasya kaget mendengar pengakuannya itu.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA...

__ADS_1



__ADS_2