
Bab ini terdapat adegan (21+) jadi untuk yang tak menyukainya bisa langsung dilewati saja😁
Happy Reading
‘’Kau sangat hebat baby.’’ Al mencium kening Anastasya sedang wanita itu hanya menatapnya kesal.
‘’Karena tadi kau sudah memuaskanku sekarang giliran aku yang memuaskanmu.’’ Ucap Al dengan wajah mesumnya sedang Anastasya sedikit menjauhkan badannya dari Al.
‘’Come on baby biar kita sama-sama puas, tak adil rasanya bila hanya aku saja yang puas sedang kau tidak.’’ dan tanpa aba-aba Al menarik Anastasya dan langsung menyingkap kaosnya dan mulutnya sudah menempel sempurna pada bukit kembar kesukaannya sedang Anastasya hanya bisa memutar bola matanya dengan sikap mesum yang dimiliki suaminya.
Bagaimana bisa dosen yang begitu dingin saat di kampus atau saat sedang bersama orang lain menjadi begitu mesum saat bersamanya.
‘’Baby, kalau nanti anak kita lahir kau harus bersikap adil padaku jangan lebih mementingkan anak kita dibandingkan aku.’’ Ucap Al dengan nada manjanya.
‘’Astaga anaknya saja belum lahir dan dia sudah bersikap cemburu seperti ini.’’
‘’Baby bagaimana nanti kalau aku dan anak kita memperebutkan benda ini?’’ Tanya Al dengan tangannya masih bermain nakal di bukit kembar kesukaannya itu.
Anastasya ingin sekali tertawa dengan sikap Al lalu berucap sambil mengelus rahang Al. ‘’Maka sebagai papa yang baik kau harus mengalah padanya karena dia lebih membutuhkannya.’’
‘’Kata siapa dia lebih membutuhkannya, kau tau baby aku bahkan bisa pusing dan tidak semangat kerja jika satu hari saja tak menyusu darimu.’’ Ucap Al tak mau kalah membuat Anastasya tertawa karena tak bisa lagi menahannya. Sungguh saat ini wajah suaminya itu sangat menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merajuk.
‘’Astaga hubby anak kita bahkan belum lahir dan kau sudah membicarakan hal ini, nanti jika dia lahir maka selama enam bulan kedua benda ini adalah miliknya, karena aku ingin anakku tumbuh dengan baik dan aku tak ingin membagi sumber kehidupannya dengan papanya."
Ucap Anastasya mengerjai Al dan jelas saja Al terpancing dengan perkataannya itu terbukti dengan ekspresi tak terima yang ditampilkan Al.
‘’Enam bulan? Yang ada disaat anakku tumbuh sehat malah aku yang sakit-sakitan karena kau tau benda ini juga salah satu sumber kehidupanku.’’
Ucap Al dan langsung menghisap benda itu lagi dengan rakus sedang Anastasya hanya bisa membiarkan tingkah suaminya tanpa mau mencegahnya.
‘’Sudah puas? Itu bekal untuk enam bulan kedepan.’’ Ucap Anastasya tertawa dan Al hanya mengendus kesal pada istrinya yang sedang mengerjainya.
‘’Baby apa kau yakin tidak ikut ke kantor papa besok?’’ Tanya Al lagi yang dibalas gelengan kepala oleh Anastasya.
__ADS_1
‘’Aku pasti akan sangat merindukanmu.’’ Al memeluk Anastasya dan membenamkan kepalanya pada perut Anastasya. ‘’Anakku sayang papa sangat mencintaimu, maaf papa baru bisa menjengukmu tadi tapi papa janji akan lebih banyak mengunjungimu nanti.’’ Al mencium lama perut Anastasya sambil mengusapnya.
‘’Iya pa, nggak pa-pa kok aku malah senang kalau papa nggak menjengukku setiap hari dan cukup sekali-kali saja.’’ Ucap Anastasya berbicara seolah kata-kata itu diucapkan oleh anak mereka.
‘’Mana ada seperti itu, aku yakin anakku pasti sangat senang setiap kali aku mengunjunginya.’’ Al tak terima dengan ucapan Anastasya. Tiba-tiba…
Ting…ting..ting..ting..ting..ting..ting..ting..ting..ting..
Begitu banyak notifikasi chat yang masuk ke ponsel Anastasya membuat Al penasaran.
Dengan cepat Al berdiri dan mengambil ponsel Anastasya yang terletak di meja depan sofa yang berada di kamar itu dan tanpa bertanya Al membuka semua Chat itu yang ternyata berasal dari kedua sahabat Anastasya, ternyata mereka saling mengirim meme lucu dan beberapa percakapan acak.
‘’Hubby sebenarnya besok aku dan Ardy akan mengunjungi mama Rea yang sudah beberapa hari ini sakit makanya aku tidak bisa ikut denganmu besok nggak pa-pa kan?’’ Tanya Anastasya dengan wajah sedikit bersalah.
Al mendudukan anastasya dipangkuannya dan kedua tangannya mengelus-ngelus punggung Anastasya.
‘’Nggak pa-pa bae aku ngerti kok.’’
walau sering cemburuan dan bersikap posesif tapi Al tak ingin membatasi interaksi Anastasya dengan kedua sahabatnya karena dia cukup mengerti bagaimana kedekatan mereka apalagi kedua sahabat itu sudah sangat lama menemani sang istri.
‘’Mau aku antar atau Ardy yang akan menjemputmu?’’ tanya Al lembut.
‘’Ardy yang menjemputku.’’ Anastasya girang dan langsung memeluk Al, meletakan dagunya di bahu Al.
‘’Aku senang banget kamu nggak pernah ngelarang atau membatasi kedekatanku dengan Ardy, terimakasih karena sudah mempercayaiku dan aku janji tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanmu itu.’’ Ucap Anastasya lalu dengan reflek mencium leher Al.
‘’Jangan mancing loh bae.’’ Al tertawa pelan sedang Anastasya sedikit menjauhkan tubuhnya.
‘’Dasar mesum, dicium sedikit aja udah kepancing.’’
*****
‘’Hubby nanti sepulang kantor bawakan martabak manis untukku dan nanti jemput aku dirumah Rea ya.’’
__ADS_1
Pinta Anastasya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan membuat Al tak tahan dan dalam sekejap Al menggigit ujung hidung Anastasya saking gemesnya dengan sang istri.
‘’Ih....’’ Protes Anastasya sedang Al hanya tersenyum santai.
‘’Nanti jangan lupa kirimin alamat rumah Andrea.’’
‘’Kupikir kau tidak memerlukannya hubby, bukankah kau pernah berkata akan menemukanku dimanapun aku berada jadi untuk apa kau memerlukan alamatnya.’’ Ucap Anastasya dengan wajah polos dan pura-pura bego.
‘’Astaga baby nggak gitu juga kali konsepnya.’’ Al sedikit terbahak
‘’Terus konsepnya gimana? Coba jelasin biar aku ngerti.’’
‘’Tau ah pikir aja sendiri.’’ karena malas Al menurunkan Anastasya dari pangkuannya, meninggalkan kamar dan pergi ke ruang kerjanya karena sesungguhnya ia memiliki kerjaan yang tak bisa ditunda.
*****
‘’Morning.’’ Ucap Al yang sudah siap dengan setelan jasnya.
Al mendekat pada Anastasya dan memberikan dasi padanya meminta Anastasya untuk memakaikan dasi itu setelahnya Al mencium kening Anastasya dan mengambil tas kerjanya yang sudah tersedia diatas meja.
‘’Aku berangkat sekarang ya.’’ Al kembali menghampiri Anastasya untuk mencium bibir dan keningnya lalu berlalu keluar dari kamar.
Hari ini Al harus membantu papanya dengan menggantikan sang papa untuk memimpin meeting.
*****
‘’Pagi pak Alvaro.’’ beberapa karyawan menyambut kedatangan Al dengan membungkukan badan mereka sedang Al berjalan memasuki perusahaan itu dengan tampang datar dan dinginnya.
Penampilannya yang terkesan dingin malah membuat banyak wanita tertarik padanya apalagi dengan wajah tampannya.
Tidak ada satupun wanita yang tidak jatuh dalam pesonanya hanya istrinya saja yang selalu menolaknya walau akhirnya setelah banyak perjuangan Al mendapatkannya juga.
Bersambung.....
__ADS_1
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennya.....