Love By Mistake

Love By Mistake
Ada apa dengan Anastasya?


__ADS_3

‘’Enak nggak?’’ Tanya Anastasya yang diangguki  Ardy. setelahnya mereka kembali ke dalam ruangan Ardy. dan ternyata Andrea sudah tertidur pulas di ruangan itu.


‘’Astaga kita bahkan hanya meninggalkannya sekitar 10 menit.’’ Ardy membenarkan posisi tidur Andrea dan membuka sepatu wanita itu.


‘’Dy besok lo sibuk nggak?’’ Tanya Anastasya sambil memakan makanan yang tadi dibelinya bersama Andrea.


‘’Nggak sih, kenapa?’’


‘’Bagus kalo gitu, berarti besok lo bisa ikut gw sama Rea dong kebutik.’’


‘’Ngapain?’’


‘’Aduh lo terlalu sibuk sih jadinya ketinggalan berita deh, jadi gw sama Rea itu mau ikut lomba fashion show jurusan kita, kan sayang Dy kalo kecantikan gw sama Rea nggak dipergunakan dengan baik.’’ Anastasya menaik turunkan kedua alisnya.


‘’Hhmm terserah lo berdua ajalah.. Tapi menurut gw pasti si Stevi yang bakalan menang, secara kan dia cantik terus dewasa nggak seperti lo berdua.’’ Ledek Ardy yang langsung mendapat pukulan di punggungnya.


‘’Eh begok, nggak ada hubunganya kali kedewasaan sama fashion show, lagian cuma lo doang yang bilang Stevi lebih cantik dibanding gw sama Rea, katarak kali lo, periksa deh sebelum lebih parah.’’


‘’Menurut gw tetap Stevilah.’’ Kekeh Ardy membuat Anastasya jengkel.


Plak


Satu pukulan lumayan keras di kepala Ardy yang berasal dari Andrea yang ternyata sudah bangun sekitar 30 detik yang lalu.


‘’Astaga Rea, lo kalo mukul kira-kira dong, ini sakit banget tau.’’ Ringis Ardy sambil mengelus belakang kepalanya.


Rea bangun dari tidurnya dan duduk di samping Ardy. ‘’Siapa suruh lo nyebelin, mana bisa lo bilang Stevi lebih cantik dibanding kita berdua.’’ Andrea santai merangkul pundak Anastasya tanpa merasa bersalah.


‘’Astaga ini namanya penyiksaan tau nggak, masa gw nggak bisa mengeluarkan pendapat gw.’’ Protes Ardy.


‘’Lo bisa berpendapat kalau seseorang lebih cantik dari gw dan Rea tapi itu hanya bisa lo lakukan dalam hati dan nggak bisa dikeluarin karena gw sama Rea akan tersinggung mendengar kata-kata itu.’’ Timpal Anastasya.


‘’Astaga lo berdua aneh tau nggak, gimana nanti kalau gw punya pacar masa gw nggak bisa muji pacar gw hanya karena kalian berdua.’’


‘’Lo bisa muji dia tapi saat berduaan, nggak saat sedang bersama kita, karena walaupun lo punya pacar atau istri nanti tetap saja lo harus mengakui gw sama Rea yang lebih cantik dari pacar atau istri lo itu.’’ Kekeh Anastasya.


‘’Hedeh, terserah lo berdua aja deh, kalah gw… menyerah…’’ Ardy mengangkat kedua tangannya di udara mewakili kata menyerah yang diucapkannya.

__ADS_1


‘’Gitu dong.’’ Anastasya mengusap belakang kepala Ardy. ‘’Eh tunggu dulu, tadi kata lo Stevi cantik? Jangan bilang selama ini lo suka sama Stevi.’’ Tebak Anastasya.


Ardy tak mengatakan apa-apa, memilih memakan siomaynya untuk menghindari pertanyaan itu.


Anastasya menjadi curiga dengan tingkah Ardy, lalu mendekatkan wajahnya pada Ardy dan menarik sendok dari tangan Ardy membuat pria itu berhenti dari acara makannya.


‘’Jawab gw Dy, lo suka kan sama Stevi?’’ Tanya Anastasya lagi dengan mata penuh selidik pada Ardy.


‘’Ngomong apaan sih.’’ Ardy gelagapan dan memilih berdiri dari duduknya.


Merasa tak mendapat jawaban yang membuatnya puas, Anastasya berdiri dan mengikuti Ardy yang sedang berdiri sambil meletakan satu tangannya di dinding kaca ruangannya.


‘’Dy jawab pertanyaan gw, kenapa dari tadi lo ngehindar? Tebakan gw bener kan?’’


Mau tak mau Ardy mengangguk dan mengakuinya.


‘’OMG.’’’Anastasya menganga dan menutup sedikit mulutnya menggunakan dua tangannya. Sementara Andrea juga kaget dengan pengakuan Ardy.


Andrea yang tadi hanya berdiam diri di sofa berjalan mendekat pada Ardy dan Anastasya. ‘’Sejak kapan Dy? Kenapa gw sama Sya nggak pernah tau tentang ini?’’


‘’Baru empat hari yang lalu, gw bahkan belum yakin sama perasaan gw tapi beberapa hari ini gw sering memikirkan Stevi.’’ Jawab Ardy jujur.


‘’Nggak terjadi apa-apa sih tapi nggak tau kenapa belakangan ini dia selalu mencuri perhatian gw.’’


‘’What!! Lo serius Dy, masa sih dari sekian banyak wanita di kampus kita lo sukanya sama Stevi sih.’’ Ucap Anastasya sedikit tak terima.


‘’Ya namanya perasaan Sya kan nggak bisa memilih siapa yang akan kita sukai, semuanya itu tumbuh dengan sendiri tanpa kemauan gw.’’


Anastasya menggaruk kepalanya. ‘’Iya juga sih, tapi kenapa harus dia Dy? Nggak bisa diganti apa? Siapa kek, ah si Saras anak sastra Dy dia kan cantik baik lagi.’’ Anastasya memberi saran karena tak ingin Ardy menyukai Stevi si wanita menyebalkan yang selalu membuatnya jengkel.


Ardy menoyor pelan kening Anastasya. ‘’Eh ba**ke, lo main tawar menawar lagi tentang perasaan gw, memangnya lo pikir gw pria apaan.’’


‘’Terus gw sama Rea harus bagaimana dong? Apa harus mulai berbaikan dengannya karena lo menyukainya?’’


Ardy mengangguk. ‘’Itu lebih baik karena gw nggak mau kalian bertengkar dengan wanita yang gw sukai.’’


‘’Yaudah nanti gw usahain, tapi nih kalau misalnya si Stevi duluan yang nyari gara-gara jangan salahin ya kalau gw sama Rea membalasnya, karena lo tau kan gw sama Rea nggak akan cari gara-gara kalo dia nggak nyari gara-gara duluan.’’

__ADS_1


‘’Eh Sya pulang yuk, gw lupa gw punya janji malam ini.’’ Ajak Rea tiba-tiba membuat Anastasya dan Ardy mendekat padanya.


‘’Emangnya lo mau kemana?’’ Tanya Ardy penuh selidik.


‘’Hari ini gw janji mau makan malam sama orang tua gw.’’


‘’Oh, yaudah ayo.’’ Ajak Anastasya.


*****


‘’Udah pulang Sya?’’ Tanya mama menghampiri Anastasya yang baru akan memasuki pintu rumahnya.


Tanpa menjawab Anastasya langsung memeluk mamanya dan meletakan kepalanya di dada mamanya.


‘’Sayang kamu kok pucat banget sih.’’ Mama menangkup wajah Anastasya, memperhatikan wajah pucatnya.


‘’Mungkin Sya kecapean ma, tadi maen-maen ke kantor Ardy soalnya.’’


‘’Yaudah kamu ke kamar, nanti mama telepon dokter Shanti biar kesini.’’ Mama berjalan menghampiri telepon rumahnya tapi sudah lebih dulu dicekal.


Anastasya menggeleng pada mamanya. ‘’Nggak usah panggil dokter Shanti ma, Sya mau istirahat aja besok pasti sudah baikan kok.’’


‘’Kamu yakin sayang? Tapi kamu pucat banget lo ini.’’


‘’Sya nggak pa-pa kok ma, Sya ke kamar dulu ma.’’ Pamit Anastasya lalu berlalu menuju kamarnya sementara mama masih memperhatikan punggungnya.


Sampai dikamar Anastasya langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang, memijat lembut kepalanya yang terasa sangat pusing.


Karena lelah dan pusing yang dirasakannya ia memutuskan untuk tidur tanpa membersihkan diri terlebih dulu berharap besok keadaannya akan segera membaik.


*****


‘’Sya bangun sayang.’’Mama menggoyang kecil lengan Anastasya.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya..


__ADS_2