Love By Mistake

Love By Mistake
Kembang kota


__ADS_3

‘’Sya lo dari mana aja sih?’’ Tanya Andrea karena ingin meminta tolong Anastasya untuk menemaninya ke toilet.


Belum juga sampai toilet, di tengah perjalanan seseorang sudah menghalang mereka.


‘’Malam bu dokter.’’ Ucap keduanya kompak tapi bukannya menjawab dokter intan malah mencibir Anastasya.


‘’Kamu.’’ Dokter intan menunjuk Anastasya. ‘’Saya peringatkan untuk jangan pernah bersikap ganjen pada pak Al.’’ Ucap dokter Intan membuat Anastasya dan Andrea saling pandang tak percaya dengan ucapan dokter yang baru satu hari mereka kenal itu.


‘’Hei saya tuh lagi ngomong sama kamu.’’ Dokter Intan mendorong kecil tubuh Anastasya.


‘’Hedeh kelar satu datang satu lagi, kenapa begitu banyak wanita nggak tau diri sih?’’ Ucap Anastasya dengan nada besar sambil menghadap Rea lalu keduanya tertawa kompak.


‘’Kamu bilang apa barusan? Kamu ngehina saya ya? Dengar anak kecil saya memperingatkanmu biar kamu nggak sakit hati nantinya karena sebentar lagi pak Al pasti akan menjadi milik saya.’’


‘’Aduh kenapa pada suka bermimpi sih, apa karena udah malam ya?’’ Anastasya memegang kepalanya menirukan ekspresi orang pusing lalu menatap dokter Intan dengan tatapan sombongnya dan cenderung meremehkan.


‘’Dengar anak kecil saya ini bunga desa disini jadi sudah tentu pak Al akan tertarik dengan kecantikanku.’’ Ucap dokter Intan tak kalah sombongnya.


Mendengar itu Anastasya membungkukkan tubuhnya, memegang perutnya lalu tertawa dengan keras sampai beberapa orang melihat padanya bahkan saking kerasnya Anastasya sampai mengeluarkan sedikit air mata dari sudut matanya.


Setelah puas tertawa, Anastasya meluruskan tubuhnya lagi, menghapus sisa air mata di kedua sudut matanya, merapikan rambutnya, mengatup-ngatupkan bibirnya lalu berjalan lebih mendekat pada dokter Intan.


‘’Tadi katanya dokter Intan kembang desa ya disini?’’ Anastasya memberikan satu tangannya.


‘’Kalau begitu perkenalkan nama saya Anastasya Daley dan saya adalah kembang kota di kota tempat saya tinggal, jadi dokter Intan jangan terlalu sombong karena posisi saya beberapa tingkat di atas bu dokter.’’


Anastasya menampilkan senyum smirknya sedang dokter Intan yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan tindakan wanita didepannya.


‘’Hei anak kecil kamu tuh nggak ada sopan-sopannya ya apa ini yang diajarkan orang tuamu?’’


‘’Anak kecil?’’ Anastasya melihat remeh dokter Intan dari ujung kaki sampai ujung rambut.


‘’Tau nggak pesona anak kecil ini lebih menggoda daripada wanita tua seperti dokter, aku kasih dokter intan satu rahasia deh biar dokter sadar diri.’’


Anastasya mendekatkan mulutnya di telinga dokter Intan.

__ADS_1


‘’Pak Al itu lebih suka daun muda daripada daun tua yang sudah kuning, layu dan hampir jatuh dari rantingnya.’’ Setelah mengatakannya Anastasya kembali tertawa.


Merasa kalah dokter Intan memilih pergi.


Anastasya menyatukan kedua telapak tangannya sambil menggerak-gerakannya seperti tengah membersihkan debu dari telapak tangannya itu lalu tertawa sambil melihat punggung dokter Intan.


‘’Hahahahhaha lagian dia pikir dia siapa berani melawanku, nggak punya kaca kali ya dia bahkan tak ada setengahnya dari kecantikanku, cih kembang desa katanya… apa-apaan wajah nggak terlalu cantik juga.’’


‘’Sya lo gila ya, kalau dia bawa orang satu desa buat ngeroyok lo gimana?’’ Tanya Andrea menepuk pundak Anastasya.


‘’Ya kalau dia bawa orang satu desa maka gw bakalan bawa orang satu kota, lo lupa gw ini kembang kota.’’ Ucap Anastasya lalu keduanya tertawa.


‘’Eh ba**ke gw sampai lupa mau ke toilet.’’ Dengan cepat Andrea menarik tangan Anastasya karena merasa sudah tak tahan lagi.


*****


Dari sudut lain Stevi geram melihat Ardy yang dari tadi sibuk mengurus kedua sahabatnya bahkan Ardy sama sekali tak menghampiri atau menegurnya.


Stevi kemudian berdiri menghampiri Ardy yang sedang berjalan sambil membawa dua botol minum.


Stevi berdiri di depan Ardy dengan wajah marahnya berharap pria itu akan lebih memilihnya daripada kedua wanita yang menjadi musuhnya tapi ternyata reaksi Ardy diluar dugaannya, Ardy sangat marah padanya. Bagaimana tidak Stevi dengan lancangnya mengatakan kedua sahabatnya dengan sebutan bi*ch.


‘’Lo denger Stev jangan pernah sekali kali lo nyebut mereka seperti itu.’’


Ancam Ardy dengan suara sedikit keras hingga mahasiswa yang ada di tempat itu melihat ke arah mereka.


Dengan marah Stevi menahan lengan Ardy saat pria itu akan meninggalkannya.


‘’Gw pacar lo ya jadi gw minta lo jauhin dua wanita itu sekarang juga karena gw nggak suka lo lebih perhatian pada mereka dibanding gw.’’


‘’Lo memang pacar gw Stev tapi lo nggak punya hak buat ngelarang gw buat dekat sama mereka.’’


‘’Sebenarnya ada apa dengan hubungan kalian kenapa lo begitu perhatian ke mereka dibanding gw pacar lo, apa kalian sering menghabiskan waktu diranjang bersama hingga tak bisa lepas satu sama lain.’’ Tuduh Stevi seenaknya.


Mendengar hal itu Anastasya berniat menghampiri Stevi namun tangannya ditahan Andrea dan Andrealah yang menghampiri Stevi.

__ADS_1


Dengan tatapan begitu mematikan Andrea menampar pipi kanan Stevi.


‘’Bi*ch kata lo? Sorry gw sama Sya wanita baik-baik dan gw harap lo jangan asal bicara kalo nggak tau apa-apa.’’


‘’Nggak usah muna deh, gw yakin lo berdua memuaskan Ardy dengan tubuh lo berdua makanya Ardy begitu baik pada kalian’’


Stevi tertawa meremehkan persahabatan mereka membuat Anastasya yang dari tadi diam tak bisa lagi menahan emosinya.


Plak..plak


Anastasya menampar pipi kiri dan kanan Stevi dengan keras membuat beberapa mahasiswa di tempat itu meringis saat melihat tanda merah yang tertinggal di pipi Stevi.


‘’Kalo lo nggak suka sama cara Ardy memperlakukan gw dan Rea harusnya lo ngomong baik-baik sama Ardy dan cari solusinya bukan dengan cara memfitnah gw sama Rea seperti ini.’’


‘’Gw sama sekali nggak peduli dengan persahabatan bangsat yang terjalin antar lo bertiga yang jelas Ardy pacar gw jadi lo berdua harus menjauh darinya sekarang.’’


Hahahaha


Anastasya tertawa mendengar ucapan Stevi lalu menghadap Ardy dengan mengangkat kedua pundaknya.


‘’Stev udah dong, gw janji akan lebih memperhatikan lo lagi.’’ Ardy menggenggam satu tangan Stevi tapi ditepis wanita itu.


‘’Gw nggak butuh perhatian lo kalo lo masih membagi semua itu dengan kedua wanita menyebalkan ini, seharusnya lo tau gw sama sekali tak menyukai mereka jadi lo sebagai pacar yang baik harusnya menuruti perkataan gw dan harus menjauh dari dua wanita ular ini.’’


Ardy hanya tersenyum tumpul sambil menggeleng.


‘’Lo tau Stev, gw berani meminta lo jadi pacar gw karena setidaknya mereka pernah mengatakan akan mendukung apapun pilihan gw jadi kalau untuk menjauh dari mereka hanya untuk menyenangkan lo sorry gw nggak bisa karena menurut gw pacar gw nggak lebih berarti dari dua sahabat gw ini, karena gw sadar disaat gw terpuruk pasti mereka akan selalu ada disamping gw dan memberi gw semangat sedangkan gw nggak yakin lo akan melakukan hal itu bahkan saat gw sakit dan minta lo buat ngurus gw aja lo nggak mau dan lebih memilih bersenang-senang di club bersama teman-teman lo.’’


Ucap Ardy panjang lebar mengingat beberapa hari sebelum berangkat ke desa ia mengalami demam selama satu malam tanpa ada seorangpun yang merawatnya disampingnya.


Bersambung.....


Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....


Jangan lupa like dan komennya.....

__ADS_1


__ADS_2