
‘’Cewe aneh.’’ hanya satu kalimat itu yang keluar dari pria yang kini tengah menatap punggung Anastasya yang mulai menjauh dari tempatnya.
‘’Lo kenapa Sya?.’’ Tanya Andrea.
‘’Nggak kok, nggak penting nggak usah dipikirin, lebih baik sekarang kita ke cafe depan mumpung Ardy masih sibuk sama kerjaannya.’’
‘’Untung aja sekarang si Ardy udah sibuk ngurus bisnis keluarganya kalo nggak mana mungkin kita bisa cuci mata gini.’’ Ucap Andrea saat mereka sampai di cafe itu.
‘’Hahaha emang, kalo tau kita kesini dia pasti akan mengomel. Dia bahkan lebih protektif dari bokap gw.’’
Kedua wanita itu kompak tertawa.
‘’Saya bisa numpang duduk sini?.’’ Tanya seorang pria menghentikan tawa kedua wanita itu.
‘’Silahkan pak.’’ Jawab Andrea canggung.
Anastasya melihat sekeliling, semua meja terisi penuh.
‘’Bapak ngapain disini sih? Mending balik ke ruangan nanti kesini lagi pas udah ada meja kosong.’’
Andrea menyenggol lengan Anastasya. ‘’Nggak sopan, kalo nilai lo dikurangin gimana? Mau lo?.’’
Anastasya santai mengalihkan wajahnya pada Al.
‘’ini kan bukan jam kuliah dan sedang tidak berada dalam kampus. Kalau di kampus mungkin pak Al dosen kita tapi kalau di luar kampus kita hanya orang asing yang tidak saling berhubungan. Lagian saya rasa pak Al tidak sepicik itu untuk mengurangi nilai saya hanya karena masalah ini. Iya kan pak Al?’’ Tanya Anastasya dengan tatapan remehnya.
Al hanya tersenyum mendengar ocehan itu. ‘’Wanita ini sungguh tak ada takut-takutnya, lihat saja siapa yang akan menang nanti.’’
‘’Iya saya nggak mungkin ngurangin nilai kamu hanya karena masalah ini. Tapi saya harus mengoreksi perkataanmu tadi. Memang kalau di kampus saya adalah dosenmu tapi ingat kalau di luar kampus aku adalah calon suamimu.’’ Ucap Al santai dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Anastasya dan Andrea kompak keget mendengar ucapan itu.
‘’Apa maksud dari ucapan pak Al tadi?’’ Tanya Andrea sambil menatap bergantian pada dua orang itu.
‘’Tanya temanmu.’’ Al hendak berdiri meninggalkan meja itu tapi berbalik lagi mendekat pada Anastasya.
‘’Baby nanti malam aku akan ke rumahmu tadi mamamu mengundangku makan malam.’’ Ucap Al pelan hanya bisa didengar oleh Anastasya dan Andrea.
‘’Dasar dosen gila, aneh, menyebalkan, brengsek. Alvaro Kennard Ingin sekali aku membunuhmu.’’
‘’Sya apa maksud perkataan pak Al tadi?’’ Tanya Andrea penasaran.
__ADS_1
Anastasya menarik nafasnya terlebih dulu sebelum membuka mulutnya untuk menceritakan semua kejadian itu.
‘’What!! Lo beruntung banget sih Sya.’’ Ucap Andrea saat Anastasya selesai menceritakan semuanya.
Anastasya menoyor kepala Andrea sambil mengoceh. Tak habis pikir dengan reaksi Andrea. Bisa-bisanya sahabatnya itu mengatakan bahwa dirinya beruntung.
‘’Wait..wait.. Jadi benar kalo lo bakalan nikah sama pak Al?’’ Ucap Andrea lagi.
.’’Nggaklah, gila kali, lo nggak lihat sikapnya menjengkelkan seperti itu, yang ada gw emosi mulu dan nantinya bisa mati muda gw.’’ Anastasya mengambil jus jeruk dari meja dan meminumnya.
‘’Tapi kalo lo hamil gimana Sya?’’
‘’Jangan nakut-nakutin gw dong.’’ pertanyaan Andrea membuatnya sedikit takut. Dalam hatinya ia berharap semoga hal malang seperti itu tidak menghampirinya.
‘’Gw nggak nakut-nakutin Sya, tapi lo juga harus siap untuk kemungkinan terburuknya.’’
‘’Ah gw nggak mau mikirin itu, nggak siap gw dan semoga nggak terjadi dalam hidup gw.’’
Andrea pun berhenti membicarakan hal itu, tak mau sahabatnya menjadi gelisah dan kepikiran.
‘’Sya daripada mumet mending kita ke kantor Ardy aja pasti dia bakalan terhibur dengan kehadiran kita.’’ Ajak Andrea yang langsung diangguki Anastasya.
Kedua wanita itu berjalan menuju resepsionis begitu sampai di kantor Ardy. ‘’Siang mba, apa pak Ardynya ada? Tanya Andrea.
‘’Ardy siapa ya mbak? Disini ada beberapa karyawan yang memiliki nama itu.’’ Tanya resepsionis sambil tersenyum.
‘’Ardy Nathan Mahesa.’’ Ucap Andrea lagi.
‘’Maaf mbak apa sebelumnya sudah membuat janji dengan pak Ardy?’’
‘’Belum mbak.’’ Ucap Andrea lagi.
‘’Maaf mbak, sepertinya mbak berdua tidak bisa menemui pak Ardy, kalau ingin menemuinya mbak berdua wajib membuat janji terlebih dulu.’’
‘’Kami ini istrinya, masa kami harus membuat janji saat ingin bertemu suami kami.’’ Cerocos Anastasya membuat resepsionis dan beberapa karyawan di sekitar mereka kaget mendengar hal yang dikatakannya.
‘’Sya lo gila ya.’’ Bisik Andrea.
‘’Gimana mbak apa kami bisa ketemu suami kami sekarang?’’ tanya Anastasya lagi.
‘’Maaf mbak kami akan mengkonfirmasi terlebih dulu pada sekertaris pak Ardy.’’
__ADS_1
‘’Baiklah, kalau begitu bisa kami duduk di sofa itu sambil menunggunya?’’ Tanya Anastasya sambil menunjuk ke arah sofa dan mendapat anggukan kepala dari resepsionis.
Anastasya dan Andrea sudah duduk manis. Beberapa kali mereka menghubungi nomor ponsel Ardy tapi tak mendapat respon sama sekali. Mereka bahkan sudah menunggu hampir 10 menit. Namun tak ada juga kabar dari resepsionis.
Di ruangannya Ardy sibuk dengan beberapa dokumen yang tertumpuk di atas mejanya. Beberapa kali memijat pangkal hidungnya untuk mengekspresikan rasa lelahnya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
‘’Masuk.’’ Ucap Ardy tanpa menoleh, hanya fokus pada dokumen didepannya.
‘’Maaf pak, di bawah ada istri-istri bapak katanya ingin bertemu bapak.’’
Ardy menghentikan kegiatannya dan menghadap sang sekertaris yang baru saja menyampaikan info itu padanya. ‘’Istri?’’ tanyanya bingung.
‘’Iya pak di bawah ada dua wanita yang ingin bertemu bapak, katanya mereka adalah istri bapak.’’
Ardy mengerutkan keningnya, berpikir sejenak. Tak lama tersenyum dan melangkah keluar ruangan. Dua sahabatnya itu datang tepat waktu, saat ia merasa sangat lelah kehadiran dua wanita itu sangat mampu menghiburnya.
‘’Sya.. Rea..’’ Panggil Ardy pada dua wanita yang sedang asyik dengan ponsel nya sambil menyandarkan kepala di punggung sofa.
‘’Kenapa turun sekarang harusnya nggak usah sekalian, hampir karatan tau nggak nunggu pak Ardy yang terhormat disini, mau ketemu aja susah banget, tau gini nggak kesini buang-buang waktu aja.’’ Anastasya menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil terus mengomel.
Ardy tersenyum, mendekat, duduk tepat di samping Anastasya kemudian menarik bibir wanita itu agar berhenti mengoceh. Sungguh Ardy sangat senang melihat mereka di kantornya. Sangat terhibur mendengar ocehan Anastasya. Padahal belum sampai 4 jam mereka berpisah.
‘’Siapa suru kemari nggak kasih tau dulu, sekarang sahabat kalian ini sudah menjadi seorang bos besar.’’ Ucap Ardy bangga.
‘’Cih bos besar apaan yang modelnya kayak lo gini.’’ Cibir Anastasya.
‘’Udah aah jangan berdebat mulu, pusing gw.’’ Andrea memberikan satu kantong makanan yang mereka bawa untuk diberikan pada Ardy.
Ardy memindahkan posisinya dan duduk di tengah. Merangkul pundak kedua wanita itu. ‘’Ah so sweet banget sih kalian.’’
‘’Jangan rangkul-rangkul lo bau tau nggak.’’ Anastasya melepaskan tangan Ardy dari pundaknya.
Ardy mengangkat tangannya, mencium badannya. ‘’Masih wangi kok Sya.’’
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komennya ya😉
__ADS_1