
‘’Kamu akan menaikinya disaat kamu siap nanti, bahkan kamu bisa menaiki tiap jam.’’ Al mencolek dagu Anastasya seraya memperlihatkan senyum jahilnya.
Anastasya mencebikan bibirnya, menatap Al dengan tatapan menelisik. ‘’Kau tidak sedang membohongiku kan?.’’
‘’Tidak baby, untuk apa aku membohongimu, aku bahkan sangat berharap kau akan secepatnya bertemu Arnold.’’
‘’Apa aku bisa mengajak Andea dan Ardy nanti?’’
‘’Nggak bisa baby, karena Arnold itu hanya milikmu dan kau harus sendiri jika ingin bertemu atau menaikinya.’’
‘’Begitukah?’’
Al tertawa dalam hati melihat tingkah polos Anastasya. Istrinya itu bahkan sangat polos terkait hal-hal seperti itu, membuatnya lebih ingin mengerjai sang istri.
‘’Pak Al aku lapar, apa kau hanya akan mengurungku di kamar ini sambil membicarakan Arnold?’’
‘’Kau ingin makan apa?’’ Al mengelus lembut wajah Anastasya.
‘’Bakso bakar.’’ ucapnya begitu bersemangat.
‘’Bakso bakar? Dimana aku harus membelinya? Aku bahkan baru sekali melihat penampakannya.’’
‘’Di tanjung duren jakarta barat.’’
Al mengubah posisinya menjadi duduk dengan Anastasya duduk dipangkuannya. ‘’Tapi jam segini jalanan macet bae.’’
‘’Hum.’’ Anastasya membuang wajahnya, tangannya bersilang di depan dada dengan bibirnya yang sengaja dimonyongkan. ‘’Ya sudah nggak usah dibeli jika kau ingin anakmu ileran dalam perutku.’’
Al menundukan badannya, meletakkan telinganya di perut Anastasya. ‘’Anak papa beneran mau bakso bakar?.’’
‘’Kok pake ditanya segala sih pak.. Kamu nggak percaya sama aku.. Sekarang anakmu itu benar-benar ingin makan bakso bakar.’’
‘’Bilang aja kamu yang mau bae nggak usah pake fitnah anakku segala’’ Al tersenyum sambil mengelus perut yang masih terlihat rata itu.
‘’Ih.. Kamu ini nggak tau apa kalau wanita hamil pengen makan sesuatu, itu berarti anak dalam kandungannya yang menginginkannya bukan mamanya.’’ Kekeh Anastasya dengan memperlihatkan wajah imutnya membuat Al tak tahan dan mengecup singkat bibir wanita itu.
‘’Ih.. Pak Al aku tuh lapar minta makan bukan minta cium, emangnya ciuman kamu bisa bikin aku kenyang apa?’’
__ADS_1
Al mengelus gemas rambut Anastasya mendengar protes dari wanita itu. Semenjak hamil kelakuan Anastasya memang terbilang sedikit manja padanya walau tidak menutup kemungkinan ada juga saat-saat Anastasya berperilaku begitu kasar padanya seperti tadi di gereja misalnya. Kata-kata yang begitu menusuk hati Al.
Al mengecup pucuk kepala Anastsya sebelum menurunkan wanita itu dari pangkuannya. Anastasya mencekal tangannya saat Al hendak berdiri.
‘’Kamu mau kemana?’’ tanya Anastasya.
‘’Aku mau cari bakso bakar buat kamu baby.’’
‘’Emangnya kamu tau dimana tempat bakso bakar yang aku mau?’’ Anastasya berdiri berjalan terlebih dulu.
‘’Ngapain masih disitu sih? Ayo aku tunjukin jalannya.’’ Anastasya terpaksa berbalik dan menarik tangan Al. tapi Al menarik lagi tangan Anastasya hingga tubuh wanita itu menempel sempurna pada tubuhnya.
‘’Kamu apa-apaan sih pak.’’ Protes Anastasya.
‘’Ganti pakaian dulu bae, pakaianmu terlalu terbuka untuk digunakan diluar rumah.’’
Anastasya sedikit menjauhkan tubuhnya, melihat pakaian yang saat ini sedang digunakannya. merasa tidak ada yang salah dengan pakaian itu karena memang dia terbiasa menggunakan pakaian seperti itu untuk keluar.
‘’Ada apa dengan pakaianku?’’ Tanyanya pada Al.
‘’Punggungmu terlihat jelas baby, bagaimana kamu bisa keluar dengan pakaian seperti itu? Apa kau ingin memperlihatkan punggung indahmu itu pada pria lain?’’ Ucap Al dengan sikap posesifnya.
‘’Ganti pakaiannya atau kita nggak jadi pergi.’’ Ancam Al.
‘’Dasar pria kaku, menyebalkan, nggak gaul, nggak modis, masa pakaian seperti ini saja dibilang terbuka.’’ Anastasya melangkah ke arah ruang ganti sambil mendengus kesal.
Tak beberapa lama Anastasya keluar dari ruangan ganti, tak mengganti pakaiannya hanya saja sekarang pakaiannya sudah tertutup jaket besar yang digunakannya.
‘’Puas?’’ Tanya Anastasya masih dengan wajah yang penuh emosi.
Al hanya memperlihatkan senyumnya, berjalan mendekati Anastasya dan berjalan sambil menggenggam pergelangan tangan wanita itu.
*****
‘’Pak Amet aku mau 400 tusuk ya.’’ Anastasya berdiri dibelakang pak amet, melihat proses pembakaran bakso yang dipesannya. Sedang Al duduk di kursi yang sudah disediakan di warung makan itu membiarkan Anastasya yang sepertinya sangat bahagia hanya dengan melihat bakso yang tengah dibakar.
‘’Yang lain kemana mbak, sepertinya sudah lama mbak Sya, mbak Rea dan mas Ardy nggak kesini bareng-bareng, hampir dua minggu lalu mas Ardy datang tapi sendirian juga.’’
__ADS_1
Ucap pak Amet yang memang sudah lumayan mengenal ketiga sahabat itu. Bagaimana tidak, dulu sebelum masuk semester enam, ketiga sahabat itu hampir setiap hari datang dan menikmati bakso bakar diwarung pak Amet.
‘’Iya pak, sekarang sudah mulai sibuk, sudah banyak yang harus kami lakukan tak seperti dulu yang pikirannya hanya bermain-main saja.’’
‘’Sukseslah buat mbak Sya, Rea dan mas Ardy. Pak Amet yakin kalian akan menjadi orang-orang hebat.’’
‘’Amin.’’ Anastasya tersenyum lalu mengambil satu tusuk bakso bakar yang baru saja selesai dibakar.
Sementara dari tadi mata Al tak bisa lepas dari istrinya, sepertinya Al jatuh cinta lagi, kalau dulu ia jatuh cinta pada Anastasya sebagai mahasiswanya sekarang ia jatuh cinta lagi pada Anastasya yang sudah menjadi istrinya. Ya singkatnya ia jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama.
*****
Setibanya dirumah Anastasya dengan cepat berjalan menuju dapur, mengambil dua kotak berukuran sedang kemudian mengisi dua kotak itu dengan bakso bakar. sambil sesekali memasukan bakso bakar kedalam mulutnya.
‘’Selesai’’ Ucapnya dengan senyum penuh kebahagiaan.
Anastasya memang sengaja membeli banyak bakso bakar karena berniat mengirimkan untuk kedua sahabat tersayangnya.
Berbagi dengan sahabatnya merupakan kebahagian tersendiri untuknya.
Anastasya duduk di kursi depan meja makan, celinguk kanan kiri mencari ponselnya, mengangkat beberapa barang yang berserakan diatas meja untuk mencari ponselnya.
‘’Dimana ya?’’ Sekarang wanita itu bahkan sudah berada di kolong meja untuk mencari ponselnya.
‘’Kamu ngapain bae? Nyari apa sampe kolong meja segala?’’ Al berjalan menghampiri Anastasya sambil menggeleng kepalanya. Tadi sesampainya dirumah Al membiarkan Anastasya kedapur sedang dirinya langsung ke ruang kerja karena harus mengirim beberapa dokumen pada rekan dosennya.
Anastasya mengeluarkan kepalanya melihat Al sedang setengah badannya masih dikolong meja. ‘’Pak Al lihat ponselku nggak?’’
Al tak menjawab, mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menelpon nomor ponsel Anastasya.
Al menautkan alisnya mendengar nada dering ponsel Anastasya yang berasal dari kolong meja, sementara Anastasya keluar dari kolong meja sambil nyengir pada Al.
‘’Heheh ternyata ponselnya di saku jaket aku pak.’’
Al tertawa pelan melihat ekspresi lucu dari wajah Anastasya, perlahan tapi pasti Al mendekat, menarik pinggang Anastasya ingin mencium wanita itu tapi apesnya ia malah mencium telapak tangan Anastasya karena wanita itu sudah menutup mulutnya dengan tangannya.
Bersambung.....
__ADS_1
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini dengan lebih baik lagi.....
Jangan lupa like dan komennya....