
Cekrek
Tak ingin menyia-nyiakan moment itu, Andrea mengambil foto Anastasya menggunakan ponselnya lalu memperlihatkan hasil fotonya pada Ardy membuat mereka berdua kompak tertawa lagi.
‘’Ih... lo berdua nyebelin banget sih, mana ponselnya?’’ Pinta Anastasya sambil melompat-lompat berusaha mengambil ponsel itu dari tangan Ardy.
Anastasya terus melompat karena Ardy mengangkat tinggi ponsel itu. Tiba-tiba terbesit ide jahil di otaknya. Berjalan kebelakang Ardy, melompat dan…
‘’Yey.’’ Anastasya berteriak kegirangan saat berhasil naik ke punggung Ardy, Andrea terbahak sedang Ardy membuang napas kasar.
Mau tak mau Ardy menggendong Anastasya sampai dalam ruangannya.
Aksi ketiga sahabat itu tentu saja menarik perhatian seluruh karyawan kantor.
Ardy yang terkesan sebagai atasan yang sangat dingin dan menakutkan bisa menjadi seperti anak kecil saat bersama dua wanita itu.
Mereka lebih dibuat menganga melihat Ardy menggendong Anastasya dipunggungnya.
‘’Lo berdua duduk diam disitu jangan nakal, terutama lo.’’ Ucap Ardy memperingati sambil menunjuk Anastasya.
‘’Ih.... lo pikir gw anak kecil apa?’’ Protes Anastasya dan langsung turun dari sofa melihat pemandangan luar yang sangat indah dari ruangan Ardy.
‘’Rea lo lihat deh, pemandangannya keren banget.’’ Anastasya memanggil Andrea dengan tangannya tapi matanya masih setia melihat taman yang begitu indah yang hanya bisa dilihat dengan jelas dari ruangan Ardy.
‘’Waw, keren banget Sya.’’ Ucap Andrea takjub sambil menutup mulutnya, tapi terkesan sangat lebay di mata Anastasya.
‘’Kebiasaan deh Rea, lebay banget. Pemandangannya memang keren tapi nggak usah menganga seperti itu juga kali.’’
‘’Ah.. lo ngerusak suasana aja deh, gw kan speechless Sya.’’ Andrea setengah merajuk tapi tak lama melihat pemandangan itu lagi.
‘’Dy itu dimana? Gw sama Rea kesana ya?’’ Anastasya menghampiri Ardy yang terlihat sedang sibuk dengan laptopnya.
‘’Lantai tiga.’’ Jawab Ardy tanpa melihat Anastasya.
‘’Gw sama Rea bisa kesana nggak?’’ Tanya Anastasya.
‘’Bisa tapi masuknya pake access card.’’
‘’Yaudah Access card nya mana? Pinta Anastasya sambil membuka telapak tangannya didepan laptop membuat Ardy melihatnya.
Ardy mengeluarkan satu access card dari laci dan memberikannya pada Anastasya. ‘’Tunggu gw disana dan lo berdua jangan berani-berani bikin keributan.’’
__ADS_1
‘’Astaga Dy lo pikir gw sama Sya wanita apaan, kami juga nggak akan bikin keributan kalau mereka nggak mencari gara-gara duluan.’’ Protes Andrea tak terima. Lalu menarik Anastasya keluar.
*****
‘’Sya ini sangat indah, kenapa bisa mereka terpikir untuk membuat taman seindah ini di dalam kantor ya?’’ Andrea melihat takjub taman itu sambil berjalan pelan.
‘’Iya Rea, dan lo lihat.’’ Anastasya menunjuk sesuatu yang menarik perhatiannya. ‘’Mereka bahkan membuat food court besar dalam taman ini.’’ Anastasya girang menarik tangan Andrea menghampiri salah satu stand makanan yang menarik perhatiannya.
‘’Waw.’’ Ucap kedua wanita itu dengan mata berbinar.
‘’Sya gw mau yang ini, ini, ini, ini, ini.’’ Tunjuk Andrea pada beberapa jenis makanan yang berada di lemari kaca stand itu. Anastasya mengangguk dan segera memesan makanan yang tadi dikatakan Andrea.
‘’Totalnya 246 ribu mbak.’’ Ucap seorang pelayan sambil memberikan kantong yang berisi semua makanan yang dipesan pada Anastasya.
Anastasya menepuk keningnya dan berbalik melihat Andrea.
‘’Kenapa Sya?’’ Tanya Andrea.
‘’Rea, gimana cara kita bayar makanannya? Tas kita kan ketinggalan diruangan Ardy mana ponsel kita juga ketinggalan di ruangan itu.’’
Andrea menganga mengingat tingkah bodoh mereka, memutar otaknya tak tau apa yang harus dilakukan.
Mereka meminta izin pada pelayan itu untuk mengambil tas tapi tak diizinkan karena pelayan itu takut Anastasya dan Andrea akan melarikan diri.
‘’Maaf mbak, apa saja bisa pinjam ponselnya sebentar?’’ Tanya Anastasya dengan sopan.
Keempat wanita itu saling melempar pandang, sesekali melihat wajah Anastasya.
‘’Bisa pinjam bentar nggak mbak? Saya hanya ingin menelpon teman saya, nanti pulsanya akan saya ganti 10 kali lipat.’’ tawar Anastasya dan seorang wanita pun dengan cepat memberikan ponselnya.
Anastasya kemudian menekan nomor ponsel yang akan dihubungi, setelah selesai menelpon tak lupa langsung menghapus nomor itu.
Tak sampai 10 menit Ardy datang menghampiri Anastasya yang masih setia berdiri di samping empat wanita tadi.
‘’Dy tolong kirimkan pulsa 1juta untuknya’’ Tunjuk Anastasya pada wanita yang tadi meminjamkan ponsel padanya.
Keempat wanita itu gelagapan melihat kedatangan Ardy.
‘Nggak usah pak, pulsanya nggak berkurang banyak.’’ Tolak wanita itu karena merasa tak enak pada atasannya.
‘’Saya kan tadi sudah janji mbak jadi nggak mungkin saya ingkari.’’
__ADS_1
Anastasya meminta ponsel Ardy dan menanyakan nomor ponsel wanita itu kemudian mengirimkan pulsa 1juta seperti janjinya.
Setelahnya Anastasya menarik Ardy menuju stand makanan dimana Andrea tengah menunggunya.
‘’Dy bayarin makanannya.’’ Ucap Anastasya.
‘’Astaga kalian berdua membuatku malu saja.’’ Ardy mengeluarkan dompetnya dan membayar sejumlah yang dibelanjakan dua wanita itu.
‘’Mau yang mana lagi?’’ Tanya Ardy menawarkan tapi kedua wanita itu hanya menggeleng dan memegang tangan Ardy masing-masing di sisi kanan dan kiri.
‘’Udah cukup kok, balik keruangan lo aja, makan di ruangan lo nggak pa-pa kan?’’ Tanya Andrea.
Ardy tak menjawab dan hanya melangkahkan kakinya.
Sesampainya di ruangan, Ardy memutuskan tidak melanjutkan pekerjaannya dan menemani kedua sahabatnya itu makan.
‘’Astaga.’’ Andrea buru-buru mengambil paper bag yang tadi dibawanya dan diberikan pada Ardy.
‘’Hhmm, harusnya kasih pas kalian baru nyampe tadi, sekarang siomaynya udah dingin gini pasti nggak enak lagi dimakan.’’ Ardy mengeluarkan siomay itu dari paper bag, ingin sekali memakannya tapi pasti akan sedikit alot karena sudah dingin.
‘’Maaf kelupaan.’’ cengir Andrea.
Anastasya menarik siomay itu dari tangan Ardy dan berdiri dari duduknya. ‘’Kitchen nya dimana?’’ Tanya Anastasya.
‘’Nggak tahu, memangnya kenapa?’’ Tanya Ardy yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan Anastasya.
‘’Mau angetin siomay nya.’’
Ardy berdiri menggandeng Anastasya keluar, Ardy menanyakan lokasi kitchen terlebih dulu pada sekretarisnya kemudian mereka melangkah menuju kitchen dengan Ardy yang masih menggenggam erat tangan Anastasya.
Ternyata di ruangan itu terdapat beberapa karyawan yang sedang beristirahat sambil mengobrol santai. Mereka hendak berdiri saat melihat kehadiran Ardy. namun, Ardy menyuruh mereka untuk santai saja dan tetap ditempat.
‘’Dy ambilin mangkok.’’ Pinta Anastasya dan setelah itu mereka menunggu sekitar 10 menit untuk menunggu siomay itu panas dengan baik dan merata.
Anastasya menyuapkan satu biji siomay pada Ardy setelah selesai memanaskannya.
‘’Enak nggak?’’
Bersambung.....
Berikan kritik dan saran kalian ya agar otor bisa membuat novel ini lebih baik lagi...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya...