Love Day!

Love Day!
Chapter 10 : Tes Psikologis


__ADS_3

Di ruangan yang telah berubah lebih baik dari sebelumnya, aku duduk di kursi yang kubawa sendiri dari tumpukan di belakangku. Ini awalnya adalah gudang tapi sekarang sudah berubah menjadi klub kami yang entah kenapa memiliki nama sebagai "Klub pemecah masalah" tugasnya sendiri hanya membantu menyelesaikan masalah para siswa yang datang berkonsultasi.


Tidak hanya aku, Natalie, Erin dan Nurman juga turut menjadi anggotanya.


Natalie yang sejak tadi melirik ke arah jendela berbalik ke arahku yang dari tadi melihatnya.


"Kau memperhatikan pantatku."


"Aku tidak melihat ke sana, melainkan pemandangan yang ada di depanmu."


"Banyak alasan."


Erin dan Nurman masih berada di kelas kurasa mereka akan datang sebentar lagi.


"Hey Arta, bagaimana kalau kita beradu kertas batu gunting untuk menghabiskan waktu, sejujurnya aku ahli dalam melakukannya."


Aku mendesah pelan.


"Aku benar-benar tidak tertarik, lagipula aku harus menghemat tenaga untuk bekerja nanti."


"Memangnya permainan ini menguras tenaga apa? Cepat lakukan atau aku akan menjahilimu."


"Apa boleh buat, satu, dua, tiga."


Aku memilih batu sementara Natalie kertas.


"Aku lupa bilang, kalau kalah ada hukumannya."


"Curang, harusnya kau mengatakannya dari awal."


"Aku kan bilang lupa, yang kalah harus menjawab pertanyaan yang menang, apapun itu dengan jujur."


"Hukuman yang sangat berat," balasku lemas.


"Bukannya bagus, kau mungkin ingin tahu tiga ukuranku.. Pria bukannya menyukai hal seperti itu, dada, pinggang dan pinggul.. aku bisa memberitahukanmu jika kau menang."

__ADS_1


"Itu terlalu pribadi, aku tidak ingin menanyakan hal seperti itu."


"Jangan khawatir Arta tidak akan menang melawan diriku, sekarang aku yang bertanya. Apa Arta pernah pacaran dengan seorang gadis atau menyukai seseorang?"


"Ini serangan psikologis," teriakku selagi memegangi kepalaku frustasi.


Sudah jelas aku tidak pernah berhubungan dengan siapapun, aku ini penyendiri akut yang hidup menyedihkan.


"Jawabannya tidak."


"Satu poin untukku. Satu, dua, tiga."


Aku memilih kertas dan Natalie memilih gunting.


"Bagaimana bisa?"


"Yeeh, aku menang lagi.. pertanyaan kedua, apa makanan yang paling disukai Arta?"


"Ini serangan psikologis lagi."


"Omelet rice, aku suka makanan simpel seperti itu yang mudah dibuat olehku sendiri."


"Omelet rice."


"Tunggu, kenapa kau menulisnya di atas buku."


"Rahasia."


Dia pasti berniat menjahiliku nanti.


Aku mulai menghitung sampai tiga dan di kesempatan ini aku yang menang.


"Cuma keberuntungan," kata Natalie cemberut sementara aku mengirim pertanyaan yang bagus.


"Jika kau melihat beberapa kucing di jalan, berapa banyak kucing yang kau ambil?"

__ADS_1


"Kupikir lebih banyak lebih bagus, bukannya mereka sangat imut."


Aku menundukkan kepalaku selagi menutup mulutku dalam diam.


"Tunggu, kenapa ekpresimu seperti itu?'


"Maaf karena sudah menanyakan hal barusan."


Natalie yang penasaran mengambil ponselnya lalu menjelajahi internet.


"Arta, yang barusan tes psikologis kan?"


Aku mengangguk mengiyakan dan wajah Natalie memerah sampai telinga.


"Yang barusan artinya berapa anak yang kau inginkan di masa depan nanti?"


Aku segera berdiri hendak melarikan diri.


"Tunggu Arta."


"Aku akan menjemput mereka."


Sebelum aku bisa berlari Natalie mengejarku, saat kakinya tersandung aku segera menangkapnya hingga dia berada di atasku.


"Kau baik-baik saja Natalie?"


"Ah iya, maaf."


Posisi ini sangat berbahaya, jika ada orang lain yang melihatnya pasti akan berubah menjadi kesalahpahaman, ketika aku memikirkannya Erin dan Nurman muncul dari balik pintu yang terbuka secara mendadak.


Erin menutup pintunya kembali.


"Maaf mengganggu."


"Tunggu kalian," teriakanku tidak mencapai mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2