
Kami memutuskan ke luar kota untuk mengalahkan beberapa monster lemah.
Setiap kali Avatar Natalie mengalahkan satu monster dia akan berteriak senang dan tak hentinya menyebutkan skill miliknya.
"Fire Blade... eeeaah."
Aku hanya bisa mendesah pelan menanggapinya.
Ketika sudah dua jam berlalu aku menghubungi Nurman.
"Ada apa Arta?"
"Tolong selamatkan aku, Natalie tak hentinya terus meneriakkan skillnya selama dua jam dan sekarang kepalaku pusing."
Nurman tertawa terbahak-bahak.
"Baiklah, aku akan menjadikan kalian langsung level 50, selamat menikah."
Telepon terputus.
"Arta kau sudah ke toiletnya?"
"Aku sudah selesai."
Kami bermain kembali lalu setelah lima menit berlalu dari obrolan Nurman, tiba-tiba saja sebuah kotak jatuh dari langit, ketika aku maupun Natalie mengkliknya, suara naik level terdengar dan akhirnya kami langsung ke level 50.
Aku benar-benar berhutang pada Nurman untuk ini.
"Arta kita langsung naik level, mari menikah?"
"Baik-baik."
Aku diseret ke kota awal dan di sana kami mengikat janji pernikahan, tentu saja, ini hanya sebatas game meski begitu Natalie terlihat senang.
__ADS_1
Sebagai kenang-kenangan kami mengambil foto kedua karakter tersebut lalu mencetaknya, sejak itu aku memutuskan untuk tidak bermain game online lagi dan fokus dengan belajarku saja.
Beberapa hari setelahnya ujian tengah semester dilaksanakan, ketika ujian kami pulang lebih awal, karena itu, kami lebih banyak menghabiskan waktu di ruang klub.
Erin menarik nafas lega setelah membuka jendela agar udara segar masuk ke dalam ruangan. Aku bukannya sombong akan tetapi kami berempat tidak ada yang bermasalah dengan ujian.
"Bukannya soal tadi sangat mudah?" kata Erin memulai percakapan.
"Benar sekali, aku bahkan mengisinya dengan bosan," balas Nurman.
Level mereka sudah berbeda.
Natalie menyeret kursinya ke dekatku lalu dengan santai ia menunjukkan ponselnya padaku.
"Lihat ini Arta, sangat lucu kan?"
Yang ditunjukkan Natalie adalah foto seekor kucing oranye yang sedang bermain dengan bola kecil.
"Dia memang lucu."
Erin mengambil tempat di belakang kami.
"Hehh... imutnya."
"Aku mendapatkan foto ini saat pagi tadi, hebat kan."
Aku tidak tahu hebatnya ada di mana.
"Kurasa Arta lebih suka dengan gadis yang mengenakan baju pelayan dengan ekor dan telinga kucing, bagaimana kalau Natalie menunjukkan foto seperti itu padanya."
"Eh, benarkah?"
"Tidak, itu salah."
__ADS_1
Ketika dua orang gadis jahil bersatu, mereka lebih menakutkan. Alasan kenapa Erin mengatakannya mungkin dia sudah melihat novel yang kubaca beberapa saat lalu.
"Coba tunjukkan novel yang ada di dalam tasmu?"
"Ada barang pribadi yang tidak boleh dilihat orang lain," walau aku mengatakan itu dan ini, mereka malah memaksaku.
Saat novel itu beralih tangan pada Natalie, dia tersenyum lebar.
"Aku akan memakai pakaian seperti ini. Seorang pelayan yang menggairahkan."
Aku berguling-gulung di lantai selagi memegangi tanganku frustasi.
"Harusnya aku tidak membawa novel itu ke sekolah, tapi aku penasaran dengan ceritanya... Nurman katakan sesuatu?"
"Hal seperti itu sudah biasa, bahkan aku tahu orang-orang yang diam-diam membeli majalah dewasa di toko, mau tahu?" katanya menyeringai senang.
Orang ini sudah tidak tertolong lagi.
Ketika kami asyik bercanda, seseorang masuk ke dalam ruangan kami.
"Permisi."
"Silahkan masuk."
Yang datang dari pintu itu adalah Mawar, dia adalah ketua OSIS yang berada satu angkatan dengan kami.
Ia memiliki rambut hitam yang dikepang satu ke depan, mengenakan kacamata serta rok panjang.
Apa yang bisa digambarkan darinya adalah gadis sopan dengan kepribadian intelektual.
Jika ketua OSIS yang datang kemari, hal itu pasti permintaan yang menyulitkan. Ketika Mawar mendekat, tiba-tiba saja dia terjatuh hingga kami semua langsung terdiam.
"Maafkan aku, maaf.... aku selalu ceroboh."
__ADS_1
Tali sepatunya belum diikat hingga tanpa sengaja dia menginjaknya sendiri.
Apa dia akan baik-baik saja?