Love Day!

Love Day!
Chapter 69 : Di Bawah Awan Hujan


__ADS_3

Sudut pandang Erin.


"Aku berangkat."


Menutup pintu kediamanku aku bergegas pergi ke tengah kota, kebanyakan orang selalu mengatakan bahwa aku ini gadis tomboi atau sebagainya namun sebenarnya aku cuma gadis biasanya yang bisa kau temui di manapun.


Aku menyukai hal seperti kosmetik, parfum ataupun gaun yang imut.


Semua itu bukan hal asing bagiku.


Karena itulah, selama libur ini aku ingin memanfaatkan hasil kerja kerasku untuk membeli apapun yang kusukai. Selama bekerja di kedai milik ibu Arta aku telah mengumpulkan uang sebanyak dua juta rupiah, sebenarnya lebih akan tetapi aku memilih menghabiskannya untuk cemilan.


Jika ada seorang gadis bilang bahwa mereka memiliki perut cadangan untuk hal manis kurasa itu memang benar. Mari kesampingkan hal itu dulu.


Turun dari taxi, aku sekarang berada di pusat perbelanjaan yang menawarkan berbagai hal yang dibutuhkan oleh kaula muda ataupun tua. Jika aku mengalihkan pandangan ke setiap area sepertinya hanya aku yang datang sendirian kemari.


Aku ingin mengajak Nurman tapi dia sedang sibuk, jika aku mengajak Natalie dia mungkin sedang bermesraan dengan Arta aku benar-benar tidak ingin menganggu keduanya.


Sendirian juga tidak masalah.


Setelah membulatkan tekadku aku mengunjungi toko kosmetik.


"Silahkan Nona."


"Aku ingin yang ini."


"Boleh, kami juga memiliki kosmetik baru dari merek ini... apa mau mencobanya?"


"Tentu."


Aku mencoba beberapa hal baru dan membeli beberapa yang cocok denganku, setelah dari toko tersebut aku beralih ke toko lainnya khususnya toko pakaian.


Aku mencoba setiap pakaian yang imut berupa gaun terusan ataupun pakaian kasual.


"Aku menyukainya, tolong bungkus semuanya."


"Baik nona."

__ADS_1


Pusat perbelanjaan memang surganya anak muda, ketika aku berfikir demikian tiga orang pemuda mencegatku saat keluar dari sana.


"Hey nona, sendiri saja... mau kami temani."


"Maaf, aku buru-buru."


"Sebentar saja."


"Biarkan aku pergi."


Dia menarik tanganku tanpa mempedulikan aku yang merasa kesakitan.


Jika hanya seorang aku bisa mengatasinya tapi jika mereka bertiga aku tidak bisa melakukan apapun, seseorang selamatkan aku.


Tepat saat aku berharap itu, seseorang muncul.


Dia berdiri di depan kami selagi berkata.


"Aku sejak tadi merasakan gelombang kegelapan, ternyata itu berasal dari kalian."


"Hajar tukang halu ini."


"Apa boleh buat aku akan membuka segel di tanganku ini."


Pemuda itu melepaskan perban yang melilit tangannya, aku tidak tahu apa sebenarnya yang dilakukan orang ini tapi rasanya dia terlihat keren.


Seorang melesat ke arahnya selagi mengirim pukulan cepat, dengan santai pemuda itu menangkap tangannya lalu membantingnya ke trotoar.


Satu pria lagi menyerang bersama rekannya, pemuda itu menghindarinya lalu membalasnya dengan pukulan miliknya.


Hingga saat aku sadari ketiga orang itu berlarian menjauh.


"Namaku adalah Renaldi, hanya satu orang yang bisa bertarung seimbang denganku, dia adalah Arta."


Dia mungkin kenalan Arta.


"Awas kau."

__ADS_1


"Aku akan menunggu kalian kapanpun."


Pemuda bernama Renaldi itu melilit kembali perban ke tangannya sedia kala, aku mendekat ke arahnya.


"Terima kasih."


"Tak masalah, aku suka memberantas kejahatan... tadinya aku akan membuat mereka terbang dengan kamehameku tapi mereka lebih dulu melarikan diri."


"Dragon ball?"


"Kau tahu juga."


"Ketika kecil aku juga menontonnya."


Tiba-tiba saja langit yang mendung menjatuhkan butiran air ke atas kepala kami, aku maupun Renaldi segera berlari untuk berteduh di salah satu kafe.


"Ah sial... hujan, aku sama sekali tidak membawa payung," ucap Renaldi kecewa.


Aku sebenarnya membawa payung lipat di tasku akan tetapi kurasa begini lebih baik. Aku berkata dengan malu-malu.


"Apa kau mau mampir ke kafe di belakang kita? Aku traktir sebagai ucapan terima kasih."


"Benarkah."


"Tentu saja, masuklah kita bisa membahas beberapa anime atau komik-komik yang trend sekarang."


"Baiklah."


Ini adalah pertama kalinya aku datang dengan seorang laki-laki seumuran.


"Selamat datang, untuk dua orang kah... apa kalian mau mencoba promo kami untuk pasangan kekasih."


"Pasangan?" teriakku secara spontan.


"Sepertinya enak, tolong itu saja."


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2