
Beberapa hari selanjutnya kami semua hanya menganggur di ruangan klub tanpa melakukan apapun.
Natalie yang menjadi ketuanya pun hanya bermain kartu dengan Erin sementara Nurman terus bermain dengan laptopnya.
Ini memang membosankan, sekarang aku juga tidak tahu alasan klub ini dibentuk, ketika aku mendesah pelan sosok Ibu Sania muncul dari pintu.
"Kalian semua, malah bermalas-malasan di tempat seperti ini. Tidak ada kegiatan?"
"Dilihat juga begitu kan?"
"Kau ini selalu tidak sopan pada gurumu, serangan cekikkan."
"Uwaah..."
Ibu Sania menjeratku dengan sikutnya dari belakang hingga aku kesulitan bernafas, walau tubuhnya mungil dalam hal ini dialah yang paling kuat.
Setelah beberapa saat akhirnya dia melepaskanku juga dan berkata penuh kebanggaan.
"Kalian harus berterima kasih karena aku telah membawakan pekerjaan yang sangat banyak untuk kalian hoho."
"Kami mana senang dengan hal seperti itu."
Dia kembali mencekikku.
Guru ini benar-benar tidak seperti guru lainnya
Erin mengangkat tangannya.
"Kami senang-senang saja mendapatkan pekerjaan tapi apakah ada hadiah jika kami menyelesaikan semuanya?"
"Tentu saja, orang yang bekerja baik akan mendapatkan imbalan.. Bagaimana kalau hari Minggu kita ke pantai?"
"Kalau begitu aku akan mengenakan pakaian renangku," kata Natalie memotong sedangkan Nurman sepertinya tampak memucat.
"Ada apa Nurman?" tanya Ibu Sania.
__ADS_1
"Aku benci laut."
Sepertinya dia pobia hal seperti itu atau mungkin hanya penyakit dari seseorang yang mengurung dirinya.
"Pantai banyak orang, dan di sana bukan lingkungan cocok untuk kucing rumahan sepertiku."
"Ngomong-ngomong aku juga kucing rumahan," potongku demikian.
"Kalian berdua, kalian ini pria loh... kalian punya biji."
Itu bukan perkataan yang bagus yang dikatakan seorang guru, ibu Sania menghela nafas lalu melanjutkan setelah memberikan kertas pada Natalie.
"Apapun yang terjadi selesaikan semua masalah di dalam sini sebelum akhir pekan, setelah itu hadiahnya kita bisa memikirkannya bersama, kalau begitu nikmati masa muda kalian."
Ibu Sania meninggalkan ruangan klub sedangkan Natalie menjelaskan apa saja yang ditulis di sana.
Aku merasakan firasat buruk saat Natalie menatap ke arahku dengan pandangan bersinar.
"Apa yang ada di sana Natalie?" tanya Erin.
Firasatku memang benar, terlebih kita hanya punya dua hari sebelum akhir pekan.
"Waktu kita tidak akan cukup karena itu, mari kita buat menjadi dua grup... aku dan Arta akan bermain basah-basahan, dan kalian berdua membantu memindahkan buku dari gudang."
Erin dan Nurman saling berdekatan dan menatapku dengan heran.
"Kalian berdua suka bermain basah-basahan."
"Tutup mulut kalian, paling maksud Natalie membersihkan kolam renang sekolah."
"Eh, kenapa Arta bisa tahu?"
"Mudah saja, pekerjaan Erin dan Nurman berhubungan dengan perpustakaan dengan kata lain itu menyangkut sekolah."
Ketiganya bertepuk tangan ke arahku dengan kagum.
__ADS_1
Punya teman sampai segininya.
"Kalau begitu kami akan kembali ke kelas," kata Erin menarik lengan Nurman bersamanya.
"Tunggu, istirahat masih lama."
"Sudahlah."
Kini di ruangan klub hanya aku dan Natalie saja.
Natalie yang biasanya percaya diri mendekat dengan malu-malu.
"Tidak biasanya, ada apa?"
"Sebelumnya aku mau minta maaf soal ibuku dan adikku yang selalu merepotkanmu, mereka pasti selalu mengikutimu terus."
Dia sudah tahu tapi tidak mencoba melarangnya, teriakku dalam hati.
"Itu... Anu... maukah kau datang ke rumahku setelah pekerjaan di sekolah selesai?"
"Aku harus bekerja."
"Arta bisa libur kan untuk hari ini?"
Jika ditatap seperti itu mana mungkin aku bisa menolaknya, aku pasti akan menyesali hal ini.
"Aku mengerti, aku akan menelepon manajer."
Saat aku meneleponnya jawaban di seberang telepon membuatku terkejut.
"Maaf Arta, cafe akan tutup selama seminggu kita kehabisan persediaan stok karena seseorang baru saja memborong seluruh menu kita.. Aku akan menghubungimu nanti."
Aku melirik ke arah Natalie yang tersenyum seperti malaikat, untuk sekilas aku melihat sayap dan lingkaran cahaya di kepalanya.
Uang sangat menakutkan Oi.
__ADS_1