
Di depan kami bertiga Natalie mulai membuka klub yang didirikannya, dibanding aku dan Nurman, Erin yang lebih bersemangat tentang itu, dia mengangkat tangannya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan di sini?"
"Kita hanya menunggu seseorang meminta bantuan, kalau tidak ada kita hanya akan bermalas-malasan di sini."
Bermalas-malasan sesuatu yang lebih baik daripada terlibat sesuatu hal yang merepotkan.
Akan tetapi keinginanku tak terkabul saat seorang siswi kelas satu masuk ke dalam ruangan klub, dia sedikit tersentak saat melihatku lalu pura-pura tak melihat.
Erin memandunya untuk duduk di kursi yang sebelumnya dia duduki. Adapun untuk Nurman dia tetap fokus pada laptop miliknya.
"Selamat datang di klub pemecah masalah, apa yang bisa kubantu untukmu?"
"Namaku Nina, kata ibu Sania aku bisa mendapatkan bantuan di sini."
"Benar sekali, klub kami bertujuan untuk membantu tapi tentu saja hasilnya tergantung usahamu sendiri."
Aku bertanya-tanya apa masalah yang biasa yang dimiliki oleh gadis SMA.
Dan jawabannya tentu saja.
Soal Cinta.
"Heh, begitu... Nina memiliki seseorang yang di sukai di kelas tiga, hmmm ini cukup sulit."
"Meski begitu aku ingin bisa menyatakan perasaanku padanya."
Sekarang Natalie melemparkan masalah ke arah kami. Sikapnya memang tidak seperti murid pindahan seharusnya.
Erin mengajukan saran.
__ADS_1
"Menyatakan perasaan biasanya lebih mudah menaruh surat di lokernya untuk janjian ketemuan."
"Tidak, itu terlalu kuno kita bisa mengirim email atau membobol seluruh sistem di rumahnya, seperti kartu ATM serta perangkat keras yang dimilikinya."
"Lu mau maling," teriakku pada Nurman.
Natalie mendesah pelan.
"Kurasa ide Erin bisa digunakan, walau terkesan kuno tapi itu sangat efektif... Jika dia tidak datang Arta akan gebukin dia."
"Kalau begitu reputasiku malah tambah hancur Natalie."
Ketika kami berdebat, Nina tampak kebingungan.
"Jangan dipikirkan, kami semua memang seperti ini tapi kami janji akan membantu masalahmu.. pertama tolong tulis biodata orang yang kau sukai, Erin dan Arta akan mencari tahu orang seperti apa dia? Dan Nurman."
"Aku akan mencari tahu pin ATM-nya."
"Laksanakan."
"Dengan ini tugas klub pertama pemecah masalah dimulai."
Entah kenapa aku merasakan firasat buruk.
Keesokan paginya aku dan Erin mulai memata-matai siswa kelas tiga yang dimaksud dengan teropong jauh.
Erin menuliskan segala sesuatu yang kukatakan di dalam buku kecil.
"Bukannya kita malah seperti penjahat?" tanya Erin ragu.
"Mungkin benar."
__ADS_1
"Nama Udin, aktif di klub sepak bola, digemari banyak perempuan dan sedang dekat dengan tiga gadis di kelas yang sama.... Apa menurutmu Nina bisa menang?"
"Aku tidak tahu, hal cinta itu asing bagiku."
"Apa senior tidak pernah jatuh cinta."
"Orang-orang selalu menghindariku, aku tidak yakin bisa menyukai seseorang."
"Entah kenapa aku ingin minta maaf."
"Soal apa?"
"Kukira senior itu orang yang sadis dan kejam tapi aku malah merasa sebaliknya."
"Ini karena penampilanku seperti ini jadi tidak usah dipikirkan."
"Begitu."
"Kita sudah selesai di sini, mari pergi ke ruang klub."
"Laksanakan."
Di klub itu semua orang telah berada di satu tempat.
Erin mulai dengan laporannya.
"Udin belum memiliki pacar akan tetapi dia dekat dengan tiga orang seangkatannya, aku rasa meski Nina menyatakan perasaannya dia belum tentu akan menerimanya."
"Kenapa begitu?" semua orang bertanya hal yang sudah jelas yang mana segera kujawab.
"Tentu saja begitu, kau harus saling kenal supaya rasa suka muncul di antara keduanya," entah kenapa saat aku mengatakan itu mereka semua terdiam.
__ADS_1