
Di sinilah kami berada, di sebuah tempat sepi yang hanya diisi olehku dan Natalie.
Selagi menyirami lantai kolam renang yang sudah dikuras, aku sedikit jahil untuk menyiramkannya ke arah Natalie, dia sedikit menjerit dan lalu membalasku.
"Lihat pakaianku jadi basah, sayang sekali usahamu sia-sia Arta, pakaianku tidak tembus pandang loh."
"Sejujurnya aku tidak ada niat seperti itu, lebih penting lagi mari cepat selesaikan ini."
"Baik."
Aku membiarkan selang itu di bawah sementara aku mulai menggosok bagian permukaan lantai dengan sikat.
"Arta, apa kau suka berolahraga?"
"Tidak terlalu, selain lari pagi aku tidak pernah melakukan olah raga yang lain."
"Heh."
"Kenapa kau menatapku begitu."
"Bukan apa-apa, pasti sulit melakukan aktivitas olah raga hanya sendirian."
"Yah, pertama memang sulit tapi lama-kelamaan kau akan biasa, aku pernah bermain sepak bola hanya sendirian saja," jawabku lemas lalu melanjutkan.
"Bagaimana dengan Natalie sendiri?"
"Selain ikut semua cabang beladiri aku juga ikut senam, badminton serta berkuda."
Dia memang monster.
"Yah, postur tubuh Natalie memang bagus."
Seketika wajah Natalie memerah, dia memainkan jarinya selagi menundukan kepalanya rendah.
"Te-terima kasih."
Tunggu, seharusnya aku tidak mengatakan itu, jika kepada orang lain mungkin aku akan di penjara karena ini.
"Belakangan ini ukuran braku naik."
"Nggak nanya," teriakku.
Aku mulai menyikat di sana sini hingga akhirnya selesai tanpa hambatan kecuali tubuhku yang sedikit berkeringat, hari ini cukup panas jika kau bertanya padaku.
__ADS_1
Aku duduk dipinggir kolam saat Natalie menyodorkan minuman dingin padaku.
"Aku yang traktir."
"Terima kasih... Fuah, segar sekali."
Keheningan terasa diantara kami berdua sampai aku membuka mulutku untuk memulai pembicaraan lagi.
"Lalu kenapa ibumu ingin bertemu denganku?"
"Sejujurnya ini pertama kalinya aku bergaul dengan seseorang, mungkin ibuku sedikit khawatir denganku."
"Apa jangan-jangan Natalie juga seorang penyendiri?"
"Sepertinya begitu," balasnya selagi tersenyum ragu.
Ini cukup mengejutkanku, Natalie yang terlihat selalu ceria dan mudah bergaul adalah orang yang seperti itu. Jelas hal yang sulit dibayangkan.
"Karena semua siswa pria mencoba mendekatiku maka para siswa perempuan terus saja menjahiliku, aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku kehilangan sepatu di lokerku dan pulang bertelanjang kaki selagi menangis."
Aku menepuk ringan kepala Natalie lalu mengelusnya.
"Eh."
"Kau sudah berjuang keras."
Natalie terlihat seperti menahan tawanya.
"Kenapa kau tertawa?" teriakku.
"Bukan apa-apa, tolong elus kembali rambutku."
"Ogah."
"Ayolah, lihat.. aku tanpa pertahanan loh."
"Tidak mau."
Selepas senja tiba, kami berpamitan dengan Nurman dan Erin di jalan persimpangan, aku mengikuti Natalie ke rumahnya yang ternyata ia tinggal bersama keluarganya di apartemen mewah tak jauh dari tempatku tinggal, aku yakin sampai kapanpun aku tidak akan pernah memiliki apartemen seperti ini.
Natalie memasukan beberapa kode angka di depan pintunya hingga pintu terbuka secara otomatis.
Saat kami berdua masuk seorang yang mirip Natalie muncul bersama seorang anak perempuan.
__ADS_1
Dibanding dibilang seperti ibu dia lebih mirip seperti kakak perempuan.
"Aku pulang."
"Selamat datang, akhirnya kau pulang bersama pacarmu."
"Kami hanya teman," teriak Natalie mengibaskan tangannya.
"Begitukah, tapi kalian terlihat mirip sepasang kekasih bahkan sekilas aku menyangka kalian seorang pasutri."
"Jangan menjahiliku mama."
Sekarang aku tahu dimana sifat itu diturunkan.
Adik Natalie menarik lengan bajuku.
"Anu.. kapan kau menikahi kakakku?"
Buakh.
Aku bisa menyemburkan darah dari mulutku sekarang, bahkan adiknya juga.
"Nayla, itu terlalu cepat... mereka harus berciuman dulu."
Itu malah bukan perkataan yang pantas diucapkan pada anak kecil.
"Aku akan mencatatnya mama."
Jangan dicatat juga kali, teriakku dalam hati.
"Namaku Rosalie Violetta, ibu Natalie dan ini adiknya Nayla."
Natalie juga memiliki nama panjang yang sama.
"Aku adiknya."
Aku sudah tahu, dia tidak perlu mengatakannya lagi.
"Silahkan masuk, aku akan membuat makan malam yang enak untuk kita semua."
"Biar kubantu."
"Terima kasih."
__ADS_1
Natalie hanya memperhatikan selagi tersenyum lembut ke arahku.