Love Day!

Love Day!
Chapter 54 : Siswa Berandalan


__ADS_3

Sudut pandang Renaldi.


Namaku Renaldi, seperti yang kalian lihat aku ini seorang preman.


Aku memanjangkan rambut belakangku lalu mengikatnya menjadi satu serta aku juga memakai anting di telinga kiriku, jika berbicara gaya busana aku tidak pernah mengancingkan seragamku yang mana memperlihatkan kaos berwarna merah polos.


Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama aku telah melewati banyak pertarungan, saat kelas tiga SD aku telah menguasai sekolahku dengan tinjuku dan saat kelas satu SMP aku telah mengalahkan banyak sekolah lain dan di cap sebagai bos di atas bos.


Akan tetapi.


Sayangnya hal itu tidak berlaku di SMA, ini semua karena kemunculan orang bernama Arta. Aku tidak tahu seberapa kuat orang itu atau semenakutkannya dia seperti apa yang dikatakan banyak orang.


Untuk memastikannya hari ini aku mengikutinya dari kejauhan, setiap harinya dia selalu pergi dengan siswi pindahan dari luar negeri, dan beberapa kali berhenti saat mereka melihat seekor kucing.


"Imutnya Arta, bolehkah kita pelihara di rumah kita nanti?"


"Jangan halu."


Dia berbicara cukup dingin pada gadis. Betapa mengerikannya itu, aku akan menulisnya di buku catatan.


Beberapa orang yang berjalan melewatiku berkata ke arahku.


"Mama, penguntit.."


"Jangan melihatnya."


Aku hanya membiarkannya begitu saja dan terus mengikuti keduanya ke gerbang sekolah, di sana kulihat orang-orang memucat, bahkan dengan kehadiran pria itu, semua orang ketakutan.


Betapa mengerikannya, apa ini yang disebut Sima Maung itu?

__ADS_1


Sima Maung merupakan sebutan untuk seseorang yang memiliki energi petarung seperti harimau.


Mustahil, tanganku gemetaran bahkan kakiku juga... meski begitu, aku tidak boleh kalah. Aku harus mengalahkannya dan menjadi bos di wilayah ini


Sejak itu aku memutuskan untuk bolos sekolah selama satu minggu dan berlatih di gunung.


"Arta, rasanya beberapa hari ini.. aku merasa seperti diikuti."


"Mungkin perasaanmu saja."


"Benarkah, apa sebaiknya aku tidak membawa uang jutaan di tasku lagi."


"Harusnya kau menyimpannya sejak lama."


***


Festival olah raga yang kami tunggu akhirnya datang juga, seperti apa yang kukatakan mengubah kegiatannya hanya berakhir sia-sia, satu hal yang mampu merubah kegiatan ini jadi berbeda dari sebelumnya adalah dengan memakai pakaian berbeda.


Dan bersama-sama mereka mengejarku berkeliling lapangan.


"Uwaaahh."


"Berhentilah di situ Arta."


"Ibu Sania juga," teriakku demikian.


"Mari ikat dia di tiang bendera."


Pada akhirnya aku berakhir seperti apa yang dia katakan, aku meminta seluruh sekolah mengumpulkan baju olah raga mereka beserta semua staf yang bertanggung jawab, kemudian aku mencelupkannya ke dalam cat warna hingga sekarang semua orang memakai pakaian berbeda setiap kelasnya.

__ADS_1


Mei yang menjabat sebagai ketua OSIS tertawa di sampingku, sebenarnya dia juga terlibat dengan ideku lagipula tidak ada yang protes sama sekali saat aku mengajukan usulan tersebut ketika rapat.


"Aku yakin festival ini akan dikenang oleh semua orang."


"Bukannya itu yang kau mau sejak awal," kataku demikian.


"Seperti itulah."


Mei melepaskan ikatanku lalu tersenyum lebar sebelum melanjutkan.


"Mereka sebelumnya terlihat marah namun sebenarnya mereka menikmatinya juga."


Aku mengalihkan pandanganku ke arah semua orang yang sedang melakukan lari estafet, jika melihatnya dari atas berbagai warna indah akan ditampilkan dari atas.


Lagipula di langit ada beberapa drone yang merekam semua ini, semuanya dikendalikan oleh Nurman, di sisi lain Natalie dan Erin pun merekam di antara para siswa.


"Jadi kapan kau akan menayangkan kemeriahan ini?"


"Di hari terakhir festival, aku ingin menunjukkan pada semua orang bahwa kenangan itu sangat berharga terutama saat mereka masuk ke sekolah SMA jadi jangan sampai disiakan... suatu hari mereka akan mengatakan pada generasi berikutnya... Aku sangat menikmati sekolah di tempat ini, siapapun tidak akan menyesalinya."


Aku terdiam dengan perkataan tersebut, kenapa seorang siswa seperti Mei sampai segitunya melakukan hal ini.


Jangan-jangan.


Tanpa sadar sebuah pernyataan terlontar dari mulutku.


"Mei, kau kepala sekolah di sini?"


"Ketahuan yah... padahal aku sudah dengan baik menyembunyikannya, apa kau mau mengetahui umur asliku?"

__ADS_1


"Kurasa tidak usah," kataku singkat sementara di dalam hati aku berkata.


Dasar Loli.


__ADS_2