Love Day!

Love Day!
Chapter 24 : Pesta Barbeque Dan Kekuatan Baru


__ADS_3

Malam harinya aku dan Nurman terkapar di pantai yang putih selagi menatap pemandangan indah dari bintang-bintang di atas kami berdua.


"Tubuhku rasanya seperti remuk, kau masih hidup Nurman?"


"Aku juga sama, bagaimana perempuan jaman sekarang memiliki energi sebanyak itu?"


"Mungkin kita saja yang lemah, bagaimanapun kita ini kucing rumahan."


Kami telah banyak bermain game yang kami bisa lakukan di tempat ini, seperti memukul buah semangka, bermain semprotan air bahkan kami juga melakukan olah raga sumo, tentu aku dan Nurman orang yang selalu kalah.


"Jika game asah otak, aku tidak akan kalah."


Aku tidak meragukan perkataan Nurman, di masa depan dia mungkin bisa menjadikan pemimpin Nasa atau pendiri perusahaan game terbesar di dunia ini.


"Ngomong-ngomong soal game, apa yang telah kau buat?"


"Cuma game Mmorpg dimana player bertarung dengan monster menggunakan sihir dan pedang."


Aku memang pernah memainkan game yang serupa saat memiliki ponsel, tapi jika itu secara online adalah sesuatu yang belum kulakukan.


"Setiap sebulan sekali aku harus memperbarui misi yang akan dimainkan para player dan ketika tiga bulan sekali aku harus dituntut untuk mengadakan event besar."


"Pasti itu pekerjaan yang berat?"


"Mungkin kau benar, tapi seberat apapun pekerjaanmu jika itu merupakan hal yang kau sukai semuanya akan terasa menyenangkan bahkan jika pun kau gagal kau bisa memulainya dari awal sampai berhasil."


Tidak biasanya dia mengatakan hal yang keren.


Erin muncul dan berdiri di antara kami berdua.


"Muu... kalian berdua sampai kapan terus berada di sini, kami sudah memanggang daging, ikan dan sayuran cepatlah bangun pesta barbeque-nya akan dimulai."

__ADS_1


"Kami akan ke sana."


Aku dan Nurman bangkit secara bersamaan, kami melihat Ibu Sania dan Natalie yang sudah memindahkan makanan ke tikar. Aku duduk di samping Natalie yang dengan senang memberikan botol minuman padaku.


"Terima kasih."


"Um."


Ibu Sania mengangkat minumannya dan berteriak.


"Untuk klub pemecah masalah, bersulang."


"Bersulang."


Kami langsung menimpa perkataannya.


Kurasa sesekali seperti ini menyenangkan juga.


"Berisik, cepat makanlah Natalie."


"Tidak, kau harus menjawab kenapa kau tersenyum?"


Seperti biasa dia tidak pernah berhenti menggodaku.


Dua hari berikutnya aku dan Natalie bersama-sama pergi ke sekolah, bukannya aku tidak bisa pergi sendirian hanya saja aku sedikit khawatir dengannya jadi kuputuskan untuk menunggunya di jalan.


Setiap dia melihat kucing dia akan terus bermain dengannya dan saat itu Natalie akan selalu terlambat pergi ke sekolah seperti yang dia lakukan sekarang.


"Bulumu sangat halus, pus.. pus, apa kau sudah menikah? Berapa anakmu? Mereka pasti imut-imut."


"Kucing melakukan itu tanpa menikah."

__ADS_1


"Mustahil, kalian tidak akan memiliki buku pernikahan kalau begitu."


"Oi."


Aku sama sekali tidak ingin melihat sisi Natalie seperti ini. Hari ini ibuku dan adikku akan pindah kemari, aku memang sudah memberikan kunci cadangan jadi semuanya baik-baik saja meski begitu hari ini aku ingin pulang cepat.


"Arta, kamu juga harus mengelusnya, kucing ini sangat manja."


"Ogah."


"Mungkinkan kau lebih suka mengelus kepalaku, jika mau aku akan mengizinkannya sebanyak yang kau mau."


Aku menepuk pelan kepala Natalie hingga dia terdiam.


"Eh."


"Sudah lima menit, waktumu bermain dengan kucing sudah berakhir."


"Ah ya."


Entah kenapa saat aku menyentuh rambut Natalie sepanjang perjalanan dia hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, apa mungkin itu kelemahannya?


Sebuah ide muncul di kepalaku.


Di manapun Natalie menggodaku aku mengelus rambutnya dan seketika dia langsung terdiam.


Akhirnya aku memiliki kekuatan untuk menghentikannya.


Tanpa sadar aku tertawa terbahak-bahak.


"Nah Erin, apa Arta itu sudah gila karena sering dijahili Natalie?"

__ADS_1


"Sepertinya begitu, kita pura-pura saja tidak melihatnya."


__ADS_2