
Setelah masalah dengan Nurman selesai, aku berjalan sendirian ke sebuah cafe yang tidak jauh dari sekolah, saat melintas dalam perjalanan aku melihat lowongan yang di tempel di jendelanya.
Saat aku memasukinya semua orang terkejut bahkan manajer cafe tampak tergagap saat aku menghadapnya.
"Tolong jangan sakiti aku," dia wanita di kisaran tiga puluhan dengan rambut panjang serta kacamata hitam.
"Aku butuh pekerjaan, bisakah aku bekerja di sini."
"Apa kau bisa mencuci piring?"
"Apa anda meremehkan kemampuanku."
"Maaf, maaf, ampuni aku... kalau mau kau bisa langsung bekerja hari ini."
"Terima kasih banyak, dapurnya di mana?"
"Lewat sini."
Awalnya kukira aku akan langsung ditolak namun sepertinya manajernya sangat baik, dan ia bernama Ibu Risa.
Aku sedikit merasa bersalah karena dia ketakutan. Tak lama seorang pelayan muncul selagi menaruh piring kotor di wastafel, aku meliriknya dan dia langsung berlari untuk melarikan diri.
Sakitnya tuh di sini, tapi tak masalah, yang penting aku sudah dapat kerjaan dan bisa menabung untuk membayar ponsel yang kuterima dari Natalie, ngomong-ngomong soal ponsel dia sudah meneleponku 25 kali dan semuanya panggilan tak terjawab.
Setelah selesai aku akan meneleponnya nanti, jam sembilan merupakan last order, baru lewat 30 menit kami diperbolehkan pulang.
Aku dibayar perjam karena itu tidak akan mengganggu sekolahku ataupun klub yang mulai berjalan besok, dalam perjalanan pulang aku menelepon Natalie yang sedang menangis.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kenapa kau menangis?"
"Kukira kau sedang mengabaikanku.. Aku khawatir."
Sepertinya aku tidak memikirkan hal ini.
"Aku sedang bekerja, jadi.."
"Bekerja."
Aku bisa membayangkan Natalie sedang menatapku dengan mata berbinarnya sekarang.
"Aku ingin bekerja juga denganmu."
"Apa kau ini belum puas selalu menggodaku di sekolah."
Orang ini hobinya hanya menggangguku.
"Lalu bagaimana soal klubnya?"
"Aku dapat kunci ruangan untuk kita, karena digunakan sebagai gudang kurasa kita harus membersihkannya dulu besok. Nurman juga akan datang membantu."
"Baiklah, sampai nanti di sekolah."
"Aah."
Aku memutuskan sambungan dan terus berjalan menuju Rusun milikku, cahaya jalan dimalam hari benar-benar sangat terang.
__ADS_1
Pagi berikutnya di jam pulang sekolah kami bersama-sama membersihkan ruangan klub, karena aku memiliki pekerjaan paruh waktu aku hanya tinggal dua jam dan setelah itu pergi ke tempat kerja, seperti sebelumnya kerjaanku hanya membersihkan piring-piring yang menumpuk.
Setelah memulai aku tidak bisa beristirahat sampai pulang, ketika aku asyik bekerja sosok yang tidak kuinginkan muncul, dia adalah Natalie yang dengan jahil menontonku dari belakang selagi senyum-senyum.
"Kau tidak bersama Erin dan Nurman?"
"Mereka sudah pulang."
"Begitu."
"Aku tidak tega melihatmu bekerja bagaimana kalau Arta tidak usah membayar ponselnya, uangku cukup banyak jadi itu tidak masalah."
"Tidak, aku bukan orang yang mudah menerima barang seseorang apalagi itu barang mahal, aku akan membayarnya."
"Tidak keren."
Hanya Natalie yang berfikiran demikian.
Aku melihat Ibu Risa melintas, saat aku memanggilnya dia malah melarikan diri.
"Manajer," atas panggilanku Natalie tertawa terbahak-bahak.
"Yang barusan sangat lucu, aku juga ingin bekerja di sini."
"Di tolak, ibumu jelas akan marah jika kau bekerja bukan."
"Soal itu.."
__ADS_1
Natalie terlihat seperti orang dari keluarga kaya dan terpandang, jika dia bekerja di tempat seperti ini aku takut bahwa aku akan disalahkan karenanya.