Love Day!

Love Day!
Chapter 06 : Rencana Pembentukan Klub


__ADS_3

Natalie berkata ke arah gadis itu.


"Apa ada sesuatu yang membuatmu kesal?"


"Sebenarnya aku sedang mencoba masuk ke dalam klub ekstrakurikuler hanya saja semua orang menolakku."


"Alasannya?"


"Karena aku tomboy, mereka bilang aku seorang berandal atau sebagainya yang mungkin bisa membuat masalah nantinya."


Natalie kemudian menatapku dengan mata berbinarnya.


"Dia sama sepertimu Arta, semua orang hanya menilai seseorang dari luar saja."


"Benar, padahal aku tidak pernah menyakiti seseorang seperti orang ini."


"Siapa yang kau panggil orang ini," atas perkataanku gadis itu segera bersembunyi di belakang Natalie.


"Jangan khawatir, dia orang baik walaupun wajahnya seperti itu."


Aku menarik pipi Natalie.


"Hueehh, hueehh, hueehh."


"Abaikan saja orang ini, jadi siapa namamu?"


"Aku Erin dari kelas satu."


Kami juga memperkenalkan diri.


"Erin kah, kenapa kau begitu ingin masuk ke dalam klub yang menyusahkan? Aku pikir pulang ke rumah lebih enak."


"Benar loh, anak muda seperti kita lebih baik tidak terlalu lama berada di sekolah... Lebih baik bolos saja."


"Jangan dengarkan orang ini, orang ini menyesatkan."

__ADS_1


"Haha menyesatkan dalam artian yang bagus."


Di saat aku mendesah pelan, Erin melanjutkan.


"Sejujurnya aku ingin seperti ibuku dulu, ibu juga alumni dari sekolah ini dan ia mengikuti banyak klub saat itu, karenanya aku juga ingin sepertinya."


"Di jaman seperti ini sulit ada orang yang seperti itu, semakin banyak klub yang diikuti itu akan melelahkan satu juga cukup kan? Bagaimana kalau kau bergabung dengan klub kami saja?"


Aku mendengar ini dan itu begitu sering.


Tanda tanya muncul di atas kepalaku, sudah jelas kami tidak memiliki klub apapun, saat aku menanyakan kembali pada Natalie dia tersenyum senang.


Entah kenapa perasaanku buruk tentang ini.


Di ruangan guru, aku dengan ragu meletakan kue di meja Ibu Sania, dia menatapku curiga dari balik kacamatanya.


"Kalian sedang berusaha menyuapku kan."


Sesuai yang diharapkan dari Ibu Sania, intuisinya sangat tepat. Natalie yang menjelaskan.


Aturan sekolah memang menuliskan hal itu bagi siswanya.


"Klub seperti apa itu? Aku tidak mungkin menjadi pembimbing klub aneh-aneh apalagi tidak memiliki prestasi bagus untuk sekolah."


"Soal itu jangan khawatir, kami ingin membentuk klub pemecah masalah."


Aku segera memotong.


"Lebih baik ibu tolak saja, lagipula itu bukan ide bagus?"


"Tidak, mari dengarkan dulu usulannya."


Jika begini akan sulit mencegah pembentukan klub baru.


Natalie batuk sekali untuk memulainya.

__ADS_1


"Tanpa diketahui pihak guru sebenarnya di sekolah ini banyak masalah yang terjadi pada siswa-siswanya, dengan adanya klub pemecah masalah kami bisa menyelesaikan masalah tersebut... tak hanya itu, ini juga demi kedua orang ini, dengan menyebarkan popularitas baik melalui klub pemecah masalah, mereka berdua tidak akan ditakuti siswa lain dan bisa bergaul dengan yang lainnya."


"Kalian memiliki hati mulia, kecuali Arta."


"Aku?"


"Mana mungkin Arta mau melakukan hal merepotkan seperti ini."


Aku hanya mendesah pelan lalu berkata.


"Tolong jangan membaca pikiranku."


"Kurasa aku bisa menjadi pembimbing kalian, tapi soal anggaran klub mungkin kalian tidak akan mendapatkannya, apa tak masalah?"


"Itu akan jadi masalah, aku akan mematok tarif kalau begitu," balas Natalie.


"Mana sifat mulianya," aku maupun Erin berteriak di waktu bersamaan sementara Natalie tertawa kecil.


"Aku cuma bercanda, lagipula hal seperti ini mana bisa membantu meningkatkan prestasi sekolah di sekolah lain."


"Memang benar tapi menurut ibu klub kalian pasti sesuatu yang baik, sesekali ibu akan traktir kalian sebagai hadiah."


"Ibu memang terbaik."


"Tapi sebelum itu, ibu punya pekerjaan pertama kalian."


Ibu Sania mengambil foto dari lacinya kemudian dia perlihatkan pada kami semua, itu adalah foto dari pria berambut jamur serta kacamata tebal.


"Siapa dia?" tanya Erin penasaran


"Namanya Nurman, Ibu ingin kalian bertiga membuatnya bersekolah lagi di sini."


Bagi kami ini jelas suatu tantangan yang sulit.


"Ngomong-ngomong kuenya ibu terima."

__ADS_1


Guru ini paling tidak bisa menolak makanan manis, aku tahu itu dengan baik. Dari awal kami memang tidak berniat menyuapnya melainkan hanya ucapan terima kasih.


__ADS_2