Love Day!

Love Day!
Chapter 73 : Permintaan Nurman


__ADS_3

Setelah kepergian Natalie aku menerima telepon masuk dari Nurman.


"Kalian semua bagaimana permintaanku, tidak ada yang mau mengabulkannya."


"Biar aku konfirmasi, apa permintaanmu?"


"Aku ingin punya Harem."


"Yang lain?"


"Aku sedikit lolicon."


"Pergi sana ke penjara."


"Kenapa begitu?"


Orang ini calon penjahat di masa depan.


"Aku hanya bercanda, paling tidak besok mampirlah ke rumahku... ini permintaanku, ajak yang lainnya juga."


"Aku mengerti."


Telepon terputus hingga aku membaringkan tubuhku di tempat tidur lalu menutup mataku hingga keesokan paginya Natalie dan Erin berkunjung ke rumahku.


Atau mungkin lebih awal dari yang kami sepakati.


Aku meminta mereka duduk di kursi tunggu saat aku mandi, setelah selesai aku mengganti pakaianku dengan sweater dan celana panjang jeans.


"Apa kalian sudah sarapan?"


"Sebenarnya belum, Natalie bilang lebih baik jika kita makan makanan yang disiapkannya Arta?"


"Heh, apa aku bilang begitu yah," ucapnya selagi melirik ke samping.


"Apa boleh buat, aku akan buatkan tumis daging sapi dengan telur mata sapi yang dipadukan dengan nasi putih."


"Kedengarannya enak," potong Erin yang mendapatkan anggukan Natalie.

__ADS_1


Anehnya malah dia yang merasa bangga


Di meja makan itu aku membuat untuk lima porsi, seorang gadis cenderung selalu menjaga agar tidak terlihat rakus tapi kedua orang ini memiliki tipe kebalikan.


"Tambah."


Keduanya mengulurkan mangkuk di waktu bersamaan hingga saling melotot satu sama lain.


"Aku dulu."


"Tidak, aku dulu."


"Kalian ini selalu bertengkar kah saat di meja makan."


"Apa boleh buat kita adu batu, kertas gunting?"


"Siapa takut."


Mereka sama sekali tidak mendengarkanku.


Pada akhirnya Natalie duluan dan Erin setelahnya.


"Berhentilah mengatakan hal aneh, lihat Erin tampak shok."


"Tidak, tidak apa, tiba-tiba saja tubuhku gemetaran seperti terkena petir."


Ulah Natalie membuatnya jadi seperti itu.


Untuk sekarang mari habiskan makanan ini dan pergi ke rumah Nurman, kami perlu naik mobil ke tempatnya awalnya dia hanya tinggal di kontrakan lusuh akan tetapi sekarang dia tinggal di tempat mewah yang terlihat seperti mansion di Eropa.


"Luar biasa, sebenarnya berapa penghasilan Nurman dalam sebulan?"


"Itu sekitar."


Aku segera menutup mulut Natalie.


"Jangan mengatakan nominal uang yang didapatkan anak SMA pada orang lain."

__ADS_1


"Kenapa Arta?" tanya Erin.


"Aku pernah menanyakan hal sama dan langsung terkejut olehnya."


"Sebesar itu," teriaknya.


Beberapa saat kemudian Nurman muncul dengan pakaian berlebihan, ia mengenakan setelan jas panjang yang diikuti Mimi di belakang sebagai pelayannya.


"Selamat datang wahai teman-temanku, ini adalah kediamanku yang sederhana. Silahkan masuk... hati-hati pintunya terbuat dari emas."


Orang ini jadi menyebalkan.


Terlebih dia mencoba sombong sementara calon atasannya ada di sebelahku tampak memiringkan kepala.


"Apa dia salah makan sesuatu atau apa?"


Aku membalasnya selagi berbisik.


"Dia sedang mencoba hidup dengan gaya sultan."


"Eh, begitukah... apa itu menarik?"


"Sebaiknya kau jangan menirunya."


"Aku bisa mendengar obrolan kalian berdua" ucap Nurman sementara Erin tampak bersemangat.


"Jika pintu ini dicuri berapa keuntungan yang kudapat, pot bunga di sana, dan jendelanya."


"Jangan katakan itu di depan pemiliknya, nanti setelah pergi kita bisa membicarakannya bersama," balasku demikian.


"Kalian berdua masih saja bisa bercanda di saat seperti ini... pokoknya nikmati istanaku yang megah ini."


Pintu terbuka menampilkan perabotan mewah, sementara aku dan Erin hanya membuka mulut selagi berkata," Awawa," Natalie sepertinya sudah bosan.


"Aku pergi saja, kurang menarik."


"Oi."

__ADS_1


Level kebosanannya sudah melewati batas.


__ADS_2