Love Day!

Love Day!
Chapter 13 : Pengakuan Cinta


__ADS_3

Dalam perjalanan ke sekolah aku melihat beberapa orang sedang mengganggu pria lemah, saat mereka melihatku mereka langsung ketakutan.


"Gawat, dia Arta yang pernah membantai seratus sekolah sendirian."


"Kudengar dia raja iblis dari Dunia lain."


"Gue tak mau mati."


"Kabur."


Dan begitulah mereka melarikan diri, padahal aku belum pernah melakukan hal yang mereka katakan.


Di gerbang sekolah aku menemukan Erin sedang bersandar seperti menungguku, dia memberikanku sekantong amplop yang berat.


"Jangan-jangan ini barang kejahatan."


"Kejahatan apanya? Kemarin Natalie terlalu banyak memberikan kami uang. Katanya jika kelebihan berikan pada Arta."


"Kenapa harus aku?"


"Entahlah, kupikir kalian memiliki hubungan lebih dari sebatas teman."


Aku tidak bisa menjawab apapun soal itu.


Erin menunjuk ke arah belakangku.


"Ngomong-ngomong Arta, siapa di belakangmu itu mereka berdua mengenakan mantel hitam serta kacamata hitam dan bersembunyi di tiang listrik."


"Tolong abaikan saja."


Mereka adalah ibu dan adiknya Natalie yang entah sejak kapan terus membuntuti, saat aku mendekat mereka juga akan langsung melarikan diri.


Aku tidak tahu tapi sepertinya ada yang salah dengan dunia ini.


Di atap sekolah aku berduaan dengan Natalie, ini masih jam istirahat dan kami berdua akan membantu penyataan Nina sepulang sekolah, agar Udin datang Nurman telah mengirimi dia pesan dimana tulisannya.


'Jika tidak datang seluruh aibmu akan disebar luaskan ke seluruh dunia'


Sekarang aku mulai takut dengan teknologi.

__ADS_1


Angin berhembus menerbangkan rambut Natalie yang hanya berdiri membelakangiku selagi menatap pemandangan kota.


"Ah benar, setidaknya ambillah uangmu ini?"


Aku menyodorkan uang yang kuterima tadi pagi dari Erin kepadanya, hingga Natalie berbalik ke arahku.


"Cuaca yang indah," kata Natalie dengan pandangan bersinar.


"Apa kau salah minum obat?" tanyaku demikian.


"Aku sedang bersikap romantis, di komik percintaan seperti itu... Saat si gadis mengatakan itu maka protagonis pria akan langsung memeluknya."


Apa dia pikir aku akan melakukan hal seperti itu.


"Kupikir tokohnya kurang kerjaan, terlebih cepatlah ambil uangmu, ini berat."


"Aku juga tidak mau membawanya, tolong ubah ke bentuk cek."


"Mana bisa aku melakukan itu," teriakku demikian.


Pada akhirnya Natalie mengirim kurir untuk mengirim uangnya ke rumahnya. Benar-benar kehidupan orang kaya.


Dia adalah Nina dan Udin yang berada dalam situasi romantis.


Ini adalah taman kota yang telah di sulap oleh kami sebagai tempat pengakuan cinta, berbicara soal penampilan Nina dia mengenakan gaun yang bagus yang terlihat cocok dengannya.


Aku tidak tahu detailnya tapi kudengar dari Erin, gaun itu pada akhirnya dibeli dengan uangnya sendiri sementara uang yang diberikan Natalie dia berikan kembali semuanya.


Dari awal menerima sesuatu dari orang secara berlebihan memang tidak enak pada orang yang menerimanya.


Kuharap Natalie bisa belajar hal itu.


"Nah Nurman, menurutmu hal seperti ini wajar dialami semua orang?'


"Kurasa begitu, kebanyakan orang menyebutnya masa muda."


"Begitu."


"Apa kau ingin mengalaminya juga?"

__ADS_1


"Tidak juga."


"Jika kau memiliki seseorang yang kau sukai aku akan mendukungmu, terkadang jika seseorang putus cinta dia harus memiliki teman yang akan menghiburnya nanti."


Entah kenapa ada yang salah dari ucapannya.


Natalie dan Erin bersembunyi dari tempat lain dan aku bisa melihat itu juga.


Nina mulai berbicara soal perasaannya pada Udin, aku sudah mendengar seluruh ceritanya, saat mereka kecil mereka sangat dekat namun suatu hari Nina harus pindah ke tempat lain dan dari sana mereka sudah tidak pernah bertemu lagi.


Nina sempat ingin mengutarakan perasaannya waktu itu namun dia tidak berani dan akhirnya menyesal hingga sekarang.


Jika harus dikatakan ini adalah penebusan waktu itu.


Nurman menghela nafas selagi menatap langit dan bergumam.


"Dia ditolak."


"Begitu."


Nurman telah menyimpan penyadap di baju Nina jadi dia bisa mendengarnya dari earphone di telinganya.


"Apa alasannya?"


"Dia sudah memiliki seseorang yang disukainya, apa kau masih ingat tiga orang yang dekat dengannya."


"Ah itu."


Aku melirik lagi ke arah Nina, entah itu Natalie atau Erin keduanya berusaha menghiburnya saat kepergian Udin.


"Dia menyukai salah satunya, mau aku sebarkan majalah dewasa yang dia sembunyikannya."


"Kurasa tidak usah segitunya, sepertinya Nina terlihat lebih bebas sekarang karena sudah mengatakannya."


"Begitu."


"Ini memang bukan perkataan bagus, tapi rasa sakit membuat seseorang bertambah dewasa."


"Kurasa kau benar."

__ADS_1


__ADS_2