
"Tak kusangka Arta bisa mengatakan hal barusan," suara itu berasal dari Nurman.
"Oi... aku terluka di sini."
Lalu disusul Erin.
"Jika begitu mari tanyakan, apa sebenarnya keinginan Nina."
Semua orang mengalihkan pandangan padanya.
"Aku hanya ingin mengakui perasaanku saja, jika dia menolak atau menerimanya aku tidak terlalu memikirkannya."
Natalie mendesah pelan.
"Itu artinya Nina hanya melakukan ini untuk ditolak, apa ada alasan yang lain?"
"Aku tidak terlalu percaya diri."
Aku akan mengatakan bahwa Nina adalah karakter yang bertolak belakang dari Natalie.
"Kepercayaan diri muncul karena penampilan, aku pikir kita harus sedikit merubah penampilan Nina," kataku demikian.
"Itu ide bagus, aku dan Erin yang bertugas dengan penampilan, dengan ini masalah akan terselesaikan," ucap Natalie menunjukkan kartu ATM-nya.
"Apa maksudnya aku bakal ditraktir."
"Kurasa begitu, aku tidak ingin mengakuinya tapi orang ini kaya raya."
"Siapa yang kau panggil orang ini, aku benci Arta."
"Dia juga imut," tambahku demikian.
"Aku akan membantu sebisaku, kalian lakukan saja tugas kalian," atas pernyataan Nurman kami semua mengangguk mengiyakan lalu membubarkan diri.
__ADS_1
Aku adalah orang yang membubarkan diri paling belakang, selagi berjalan di koridor sekolah aku melihat para siswa yang sedang bermain bola di lapangan, salah satunya adalah Udin yang sedang mengoper bola.
Aku tidak tahu apa maksud dari menyukai seorang? Meski begitu apa Nina benar-benar menyukai orang seperti itu.
Aku diam-diam mendekat selagi membawa kaleng cola di tanganku, saat Udin menoleh ke arahku dengan cepat aku melemparkan satu padanya.
Dan dia menendangnya.
"Itu bukan bola," teriakku demikian.
Aku melemparkannya kembali dan ia tangkap dengan baik.
"Mari bicara sebentar."
Di kursi panjang itu aku meminum colaku sedangkan Udin hanya diam membisu, maaf saja jika aku memiliki sifat buruk, karena selalu dijauhi orang lain aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Minumlah, tidak ada racun di dalamnya."
"Baik, terima kasih banyak."
Seketika ekspresinya memucat.
"Mungkinkah dia pacar senior?"
Padahal aku lebih muda darinya, yah, paling tidak dia tidak memanggilku bos atau semacamnya.
"Bukan, aku sedikit mengenalnya.. Kukira kau dekat dengannya."
"Ah, soal itu kami memang cukup dekat, tapi itu dulu. Saat aku SMP kami tidak bertemu lagi dan di SMA kudengar dia berada di kelas satu."
Ternyata mereka berdua sudah saling kenal lama. Aku merasa tidak seharusnya memberikan saran waktu di klub tadi tapi biarlah.
"Mungkinkah senior menyukainya?"
__ADS_1
Sudah kubilang aku ini lebih muda darimu.
"Tidak. Sepertinya Nina menyukaimu, dalam waktu dekat mungkin dia akan berusaha mendekatimu lagi kuharap kau bisa memberikan jawaban bagus padanya."
"Eh, apa maksudnya itu?"
Aku berdiri lalu meninggalkannya dengan wajah kebingungan, saat melewati gerbang sekolah Natalie sudah menungguku selagi bersandar di tembok.
"Arta begitu jantan, apa yang Arta bicarakan dengan target kita."
Bukannya terlalu berlebihan memangilnya target.
"Bukan apa-apa, bukannya kau harusnya bersama Erin dan Nina."
"Hmmm Kupikir akan lebih baik jika mereka berdua saja, yah.. aku sudah memberikan banyak uang pada Erin dia akan mengurusnya."
"Seharusnya itu tidak boleh dilakukan," teriakku.
"Cuma 5jt, itu bukan uang besar."
"Tidak, tidak, bagiku itu sangat besar."
Aku meletakkan tanganku di kepala Natalie.
"Mulai sekarang jangan terlalu mudah untuk mengeluarkan uang."
Pipi Natalie memerah lalu dia mengangguk kecil dengan malu-malu.
"Apa hari ini Arta akan bekerja lagi?"
"Sampai aku bisa membayar seharga ponselnya, aku baru berhenti."
"Begitu, boleh aku ikut."
__ADS_1
"Asal jangan mengganggu," kataku lemas.
"Mana mungkin, aku ini tidak suka mengganggu siapapun, eh tunggu... jangan tinggalkan aku."