
Di depan semuanya Sinta memperkenalkan dirinya secara terbuka, Nurman tampak terlihat terkejut karena perubahan sifat dari temanku ini, namun aku tidak akan membahasnya lebih jauh dari itu.
Yang kutakutkan adalah bagian sekarang.
"Dulu aku menyukai Arta, namun dia belum menyampaikan jawabannya padaku?"
Semua orang terdiam, seolah bertanya-tanya ke arahku, Erin yang lebih dulu mengatakannya.
"Harusnya kau menjawabnya, tidak baik menggantungkan perasaan seseorang begitu lama."
"Kalian salah paham, saat itu aku langsung pindah kemari tanpa sempat menjawabnya.. Aku juga baru tahu dia tinggal di sini."
"Ini hanya kebetulan, aku berfikir akan jadi dokter jadi aku putuskan untuk pindah kemari."
Kami berdua memiliki impian yang sama, padahal Sinta itu dulu terbilang orang yang malas sekolah.
Nina dan Lulu tidak ikut pembicara ini dan hanya menonton dari samping, adapun untuk Natalie dia tampak terlihat aneh.
Ini jelas akan menjadi kesalah pahaman, karena itu, aku melanjutkan.
"Sebenarnya soal itu, aku mau meminta maaf... aku sudah punya seseorang yang kusukai, walau dia jahil kurasa aku tidak bisa meninggalkannya."
Sinta tertawa terbahak-bahak.
"Jangan diungkit lagi masalah itu, dari awal aku sudah tahu kau akan menolakku, meski begitu aku hanya senang bisa mengatakannya saat itu, terima kasih."
Sinta pamit kepada kami semua lalu berjalan pergi, dulu aku sangat senang bisa berbicara dengannya walau cuma sebentar.
Aku melirik ke arah Nina, Lulu dan Nurman yang sudah berjalan jauh.
"Kalian?" aku memanggil mereka.
"Sepertinya untuk hari ini kita cukupkan di sini, mari bertemu lagi di sekolah, sampai nanti."
"Sampai nanti."
"Adios."
Nurman malah berbicara menggunakan bahasa asing.
__ADS_1
Saat aku merasa kesal dengan sikap ketiganya, Natalie menarik-narik lengan bajuku.
"Nah, apa kau benar-benar tidak menyukai gadis barusan? Dia sangat imut loh."
"Bagaimana mengatakannya, dia hanyalah temanku."
"Begitukah."
Natalie terlihat memerah selagi menundukkan kepalanya. Aku tidak pandai dalam situasi seperti ini tapi kulihat Natalie terlihat gelisah jadi aku mengelus kepalanya hingga dia balik menatapku tanpa mengatakan apapun.
"Kita juga harus kembali," kataku yang mendapatkan anggukan kecil darinya.
Sebelum melangkahkan kakinya Natalie terkulai lemas.
Dia tertawa kecil lalu berkata.
"Aku terlalu memaksakan diri."
"Sudah kuduga akan seperti ini."
Aku akhirnya menawari punggungku.
"Tapi aku berat."
Padahal sebelumnya dia ingin sekali digendong.
"Sudah kubilang aku kuat."
"Kalau begitu permisi... kyaa, tanganmu menyentuh pantatku."
"Menggendong seseorang memang seperti ini, memangnya aku harus bagaimana lagi."
"Maaf mengeluarkan suara aneh."
"Tak usah dipikirkan," kataku santai, walaupun dalam pikiranku malah sebaliknya.
Selagi menatap jalanan aku terus berjalan tanpa kendala.
"Ini pertama kalinya aku digendong seperti ini oleh seorang pria."
__ADS_1
"Apa ayahmu tidak pernah melakukannya?"
"Ayah terlalu sibuk bekerja sampai akhirnya dia meninggal, tapi jangan khawatir, aku tidak apa-apa."
"Jika mau, aku bisa menggendongmu kapanpun."
"Jika terlalu sering, itu terdengar memalukan."
"Kurasa kau benar juga."
Ketika keheningan terasa di antara kami berdua Natalie melanjutkan.
"Aku ingin tahu segala hal tentang Arta, seperti makanan kesukaan, film favorit dan sebagainya, apa aku boleh bertanya semuanya?"
"Aku tidak keberatan sih, kurasa aku juga harus melakukan hal sama pada Natalie."
"Aku tidak akan mengatakan tiga ukuranku padamu" jawabnya singkat.
"Memangnya aku ingin bertanya hal seperti itu, aku hanya ingin tahu saja, saat pertama kali bertemu kau tidak takut padaku?"
"Karena itu pertemuan kedua jadi aku tidak terlalu terkejut."
"Kedua? Apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Maafkan aku, aku salah bicara... Saat aku bertemu Arta kupikir aku sedikit tertarik padamu, terlebih Arta adalah tipe yang mudah digoda."
Aku mendesah pelan.
"Kau ini mirip nenek sihir saja."
"Bukan, yang tepat aku ini Succubus," jawabnya selagi meniup telingaku.
"Uwaah... kenapa kau melakukan hal barusan?"
Aku sangat terkejut.
"Senang saja."
"Jangan lakukan itu."
__ADS_1
"Akan kulakukan setiap hari," katanya tersenyum senang.