
"Arta mari berlomba, siapa yang berayun lebih tinggi diantara kita.. yang kalah harus belikan minuman."
Aku hanya mendesah pelan, Natalie memang suka melakukan hal seperti perlombaan kendati demikian aku harus menemaninya.
Aku mendorong diriku ke depan maupun ke belakang membuat ayunan bergerak sesuai yang kuharapkan, berbeda denganku Natalie benar-benar berayun sangat tinggi.
"Bagaimana? Aku hebat kan."
"Aku mengaku kalah."
Dia memang hebat bahkan energi semangatnya bisa mempengaruhi banyak orang di taman ini.
Semua orang menatapnya dengan pandangan hangat. Aku bisa mendengar semua orang berbisik-bisik entah itu pria atau wanita.
"Cantik sekali."
"Bukannya dia terlihat dari luar negeri."
"Mungkin dia dari sekolah itu."
Kurasa kami harus segera pergi agar kerumunan ini cepat bubar. Di pinggiran taman ada sebuah mesin penjual otomatis yang bisa kami nikmati, setelah memasukkan uang selembaran pecahan lima ribuan aku mulai menekan tombol minuman yang ingin kubeli.
Pilihanku jatuh pada jus jagung yang hangat.
Bagian bawah minuman dingin sementara atas minimun hangat. Aku duduk sembari memberikan satu kaleng pada Natalie bagaimanapun udara tiba-tiba terasa dingin sekarang.
"Fuah... minuman gratis memang yang terbaik."
"Harusnya itu perkataanku," kataku lemas, dalam urusan finansial Natalie lebih dari siapapun.
Aku bahkan ragu dia pernah minum minuman dengan harga lima ribu rupiah.
__ADS_1
"Setelah ini pergi kemana lagi?"
"Mau turun hujan, bukannya kita harus kembali."
"Hujan tidak akan pernah menghentikanku," ucap Natalie dengan mata berbinar.
Jangan bilang selama liburan ini aku harus terjebak dengannya, memikirkannya membuat kepalaku sakit.
"Nah, bagaimana jika kau bermain dengan yang lainnya? Bukannya beberapa teman sekelas kita kadang mengajakmu pergi."
Natalie sangat populer jadi itu bukanlah hal aneh.
"Itu... aku tidak butuh yang lain, selagi bisa bersama Arta itu sudah cukup."
Jantungku bisa meledak kapanpun, kenapa orang ini sangat manis.
"Apa boleh buat mari lanjutkan kencan ini."
"Um.. tapi ngomong-ngomong bisakah kau jauhi Mei, dia kucing garong."
"Meski begitu, dia berusaha merebutmu."
Walau aku sudah mengatakan soal Mei sepertinya Natalie masih tidak mempercayainya.
***
Di pinggiran sungai itu Renaldi berjalan dengan gagah, ia memakai perban di tangannya selagi berfose dengan tangan memegangi keningnya.
"Mama ada orang aneh."
"Pura-pura saja tidak melihatnya, ayo."
__ADS_1
"Baik."
"Dasar orang biasa, saat kota ini diserang kegelapan jangan berharap aku akan menyelamatkan kalian."
Tepat saat Renaldi bergumam hal demikian pandangannya teralihkan pada seseorang yang berdiri mematung di samping sungai.
Ekpresinya tampak murung, paling tidak itulah yang dilihat oleh Renaldi.
"Jangan bilang dia.."
Tanpa berpikir lagi Renaldi menariknya menjauh.
"Oi tenanglah, jangan lakukan itu... kau masih muda untuk mati."
"Apa yang kau lakukan, siapa yang ingin mati?"
"Bukankah kau barusan terus melihat ke dalam sungai."
"Aku cuma melihat ikan, lagipula bukannya sungai ini terlalu dangkal."
Renaldi tertawa.
"Benar juga, maaf karena salah paham.. ini pasti karena pikiranku terganggu oleh gelombang kegelapan."
"Gelombang kegelapan?"
"Aah, hanya aku yang bisa merasakan itu."
Pria di depannya mengerenyitkan alisnya, tanpa dia harus bertanya dia tahu tipe seperti apa orang di depannya terlebih dia juga pernah berada di posisi yang sama.
"Namaku Nurman, siapa kau?"
__ADS_1
"Renaldi, tapi sebenarnya aku juga punya nama lain.. kau mau dengar?"
"Ogah."