
Minggu depannya kami semua diajak oleh ibu Sania pergi ke mall, bukan berarti kami ingin berbelanja melainkan untuk mencoba wahana salju yang ada di dalamnya.
Bahkan semuanya terlihat seperti aslinya.
Aku berkata pada Nurman.
"Kau membawanya?"
"Maksudmu kamera tersembunyi yang bisa kita sembunyikan di dalam ruangan ganti."
"Tidak... bukan itu, maksudku ini," kataku datar selagi menunjukan botol berwarna hijau.
"Botol Barjan."
Erin, Natalie dan Ibu Sania memandang kami selagi berjongkok.
"Kalian parah."
Aku sebelumnya telah membawa dua mangkuk yang bisa kami gunakan untuk menyendok salju ke dalamnya, lalu dituangkan sirup di atasnya.
"Tunggu Arta, bagaimana kalau salju ini terdapat campuran berbahaya."
"Hal itu jelas tidak mungkin, meski begitu sebaiknya kalian tidak memakannya," potong Ibu Sania.
"Sudah sejauh ini, kita harus mencobanya."
Aku dan Nurman membulatkan tekad lalu memakannya hingga berguling-guling di permukaan salju.
"Uwaaahh.... otakku membeku."
"Otakku juga."
"Itu ulah kalian sendiri."
Di Indonesia tidak ada hal seperti turun salju, jadi sekalian berada di sini kami ingin tahu rasanya salju dan sekarang kami menyesalinya.
__ADS_1
Natalie menepukan tangannya untuk menarik perhatian.
"Hanya aku yang pernah berseluncur, kalau begitu aku akan mengajari kalian semua satu persatu."
Erin dan Ibu Sania segera mengalihkan pandangan mereka, Ibu Sania yang pertama menjawab.
"Kupikir aku hanya akan memainkan seluncuran seperti waktu kecil dulu."
Lalu kenapa kau mengajak kami? Kataku dalam hati.
"Aku ikut dengan Ibu Sania."
Keduanya berjalan pergi, saat aku mengalihkan ke arah Nurman dia telah lenyap dan hanya menyisakan diriku sendiri.
"Arta?"
"Apa boleh buat, tolong ajari aku."
Beberapa kali jatuh dan beberapa kali bangkit telah menguras banyak tenagaku. Ski memang sulit untuk pemula.
Minta maaflah pada mereka.
Skillku jelas jauh dibandingkan mereka.
Paling tidak, aku sudah bisa menyeimbangkan papan seluncurnya.
"Mari lakukan hal berpasangan."
"Bagaimana maksudmu?" tanyaku, bagaimanapun dua papan hanya bisa dinaiki satu orang.
Ketika aku bertanya-tanya Natalie tersenyum jahil.
"Aku akan naik di belakangmu selagi memelukmu."
"Itu sangat memalukan, tolong hentikan."
__ADS_1
"Aku cuma bercanda."
Tak lama sebuah bola salju hampir mengenaiku.
"Lebih mengasyikkan melakukan hal seperti ini," yang mengatakan itu adalah Nurman kemudian disusul Erin.
"Aku juga setuju."
"Tiga lawan dua, benar-benar tidak adil... paling tidak biarkan aku melepaskan papannya."
"Musuh tidak akan membiarkan lawannya mempunyai keuntungan," tambah Ibu Sania seperti seorang veteran prajurit.
"Mari balas mereka Natalie."
"Ayo lakukan."
Kami bermain seharian dengan salju dan setelahnya menghabiskan waktu di dalam cafe yang hangat selagi ditemani segelas cangkir kopi dan teh.
"Aku punya banyak foto sekarang yang bisa aku tunjukkan ke orang tuaku di desa."
"Jangan bilang Ibu Sania mengajak kami untuk itu?" tanya Nurman penasaran.
"Yah, orang tuaku sedikit khawatir tentangku, sekarang mereka akan mengetahui bahwa aku baik-baik saja di sini."
Aku bertaruh bahwa ia bilang kami bukan muridnya melainkan teman seumurannya.
Jika diluar kami memang seperti itu.
Ibu Sania melanjutkan.
"Selain ini, aku juga merencanakan membuat kejutan ulang tahun untuk Cupid, apa kalian mau membantuku?"
"Tanpa ditanyakan pun kami akan langsung membantu," balasku demikian yang mendapatkan anggukan semua orang.
Toko yang dikelolanya memang tidak terlalu banyak dikunjungi pelanggan meski begitu dia terlihat sangat senang saat dia bekerja.
__ADS_1