Love Day!

Love Day!
Chapter 56 : Rencana Dari Kepala Sekolah Ini


__ADS_3

Pada akhirnya Mei melepaskan tangannya kemudian bersikap tidak terjadi apapun dan mulai menjelaskan kembali.


"Sebenarnya aku ingin menjadikan sekolahku menjadi sekolah internasional high school."


Bagiku namanya terdengar keren, tapi apa alasannya dia menculik kami kemari dan jawabannya adalah sesuatu yang tak terduga.


"Aku telah mengajukan proposal ke dewan pendidikan, hanya saja mereka hanya akan menjadikan sekolah kita seperti itu jika kita memiliki rekam jejak yang bagus dalam pendidikan maupun non akademik... oleh karena itu, Nurman bisa mengikuti beberapa pertandingan sains mewakili sekolah kita dan Arta bisa membantu semua klub di sekolah kita untuk mendapatkan medali dalam cabang yang mereka ikuti."


Wajahku memucat, sudah jelas pekerjaanku yang paling mustahil, membantu setiap klub agar bisa menjadi juara.


Dia pasti bermimpi.


Seolah bisa membaca ekpresiku Mei menyinggungkan senyuman jahil.


"Kudengar kau ingin menjadi dokter, universitas dokter itu sangatlah mahal loh bahkan jika kau mendapatkan beasiswa masih belum bisa menutupinya... jika kau berhasil melakukannya aku bisa membiayai seluruh biayanya loh."


"...."


"Bukannya kau sudah terbiasa membantu orang lain."


Aku jelas sedang bermimpi, aku tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan kepala sekolah ataupun dekat dengannya. Aku hanya kebetulan mengetahui identitasnya saat membantu festival waktu itu.


Ketika aku masih diam, Mei melanjutkan.


"Aku selalu menepati janji, kalau mau aku bisa membuat perjanjian tertulis."


Nurman menepuk punggungku selagi berkata.


"Bukan tawaran buruk, loli ini sangat baik mau menanggung biayamu. Lagipula tingkat kesulitannya sepadan."


"Jangan memanggilku loli."

__ADS_1


"Berapa klub yang harus aku bantu supaya menjadi juara?"


"Semuanya 12 klub tapi paling tidak hanya lima klub saja sudah lebih cukup, untuk rinciannya akan kuberikan nanti di sekolah. Apa kau mau menerimanya?"


"Aku akan mencobanya dulu, tapi jangan terlalu berharap."


"Sebelum kalian naik ke kelas tiga aku harap semuanya akan selesai."


Nurman menggaruk kepalanya kesal.


"Kenapa Anda tidak menanyakan persetujuanku?"


"Aku tidak perlu menanyakannya lagipula Nurman akan melakukannya."


"Kenapa begitu yakin?"


Nurman mengangkat alisnya.


"Kepala sekolah benar-benar menyebalkan."


Dia kalah.


Mei bertepuk tangan selagi berkata.


"Kurasa pembicaraan kita sudah selesai, mari kembali ke sekolah."


"Bukannya kau bisa bicara di dekat sekolah saja," teriakku.


"Aku ingin sedikit pamer rumahku."


Orang ini tipe yang sulit dihadapi.

__ADS_1


Dalam perjalanan kembali ke sekolah, aku yang duduk di depan bersama Mei bertanya.


"Kenapa kau begitu ingin menjadikan sekolah sebagai sekolah internasional, bagiku... sekarang juga sangat nyaman."


"Yah, aku cenderung menyukai budaya yang ada di dunia ini... kenapa kita hanya harus fokus dengan budaya kita sendiri jika kita bisa menggabungkan semuanya menjadi satu di tempat yang kita kenal sebagai sekolah, menurutmu apa di sekolah lain ada Festival Budaya, Festival Olah Raga ataupun Festival Kemerdekaan."


"Kurasa tidak ada," jawabku lemas kemudian Mei melanjutkan.


"Benar sekali, yang dibutuhkan semua orang tidak hanya pendidikan yang baik melainkan mengenali budaya sendiri maupun luar negeri sesuatu yang diperlukan untuk menyongsong era manusia moderen."


Singkatnya, kenalilah budaya negeri luar lalu cintai budaya negeri sendiri.


"Bagiku era modern itu saat manusia bisa hidup berdampingan dengan robot," atas pernyataan Nurman entah itu aku atau Mei menunjukan ekpresi bermasalah.


"Jangan mengabaikanku," teriaknya lalu melanjutkan.


"Dengan ini, tidak akan ada lagi para jomblo sepertiku di dunia ini, mereka akan mencintai robot sepenuh hati mereka."


Orang ini pasti berniat untuk menghancurkan dunia dengan mengurangi populasi manusia, mari abaikan saja.


"Walau sekolah internasional, aku tetap akan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama."


"Apa Natalie juga mendapatkan undangan dari kepala sekolah?"


"Benar... aku mengenal ibunya sih. Tak hanya Natalie, Mawar juga."


"Mawar juga?"


"Apa kalian tidak tahu, mawar berasal dari Malaysia tapi dia sangat fasih dalam bahasa Indonesia, keluarganya juga termasuk konglomerat."


Itu baru mengejutkanku.

__ADS_1


Akhirnya alasan kenapa uang di dompetnya sangat banyak, terjawab juga.


__ADS_2