Love Day!

Love Day!
Chapter 55 : Melarikan Diri


__ADS_3

Di koridor sekolah itu, Nurman melesat melewatiku.


Untuk seorang pria yang tidak suka berolahraga dia cukup cepat berlari.


"Arta, cepat lari jika kau tertangkap kau akan habis?"


"Tunggu, apa maksudmu?" ketika aku bertanya-tanya ada apa, seorang berteriak dari arah belakangku dengan wajah menyeramkan.


Dia adalah Mei.


"Tunggu kalian berdua, Arta diam di tempatmu."


Aku secara respon berlari mengikuti Nurman dan berlari di sampingnya, menuruni tangga selanjutnya berlarian di lapangan sekolah.


"Apa itu? Dia mengejar kita."


"Sudahlah jangan banyak tanya, pokoknya jangan sampai tertangkap."


"Oi."


Mei keluar dari pintu depan sekolah dengan mulut penuh asap, seolah dia sosok monster dari cerita horor. Dengan cepat dia berada di belakang kami.


Aku tanpa sadar memekik kaget selagi mengeluarkan suara aneh. Mei mengeluarkan tali tambang dari jaketnya lalu menjerat tubuh Nurman sebelum menariknya ke belakang.


"Nurman?" teriakku.


"Larilah, aku sudah tamat.. guakh."


Sebenarnya apa ini? Aku bahkan tak tahu apapun kenapa aku lari.

__ADS_1


Saat nafasku tersengal-sengal. Mei melompat dari belakangku untuk menjatuhkanku ke tanah.


"Tertangkap kalian, sekarang kalian berdua akan ikut denganku ke rumahku."


Selagi tangan terikat, aku dan Nurman dimasukan ke dalam mobil miliknya lalu membawa kami meninggalkan sekolah.


"Tunggu, kami punya kelas sesudah istirahat."


"Jangan khawatir, aku sudah mengatakan pada guru bersangkutan bahwa kalian pergi bersamaku."


Nurman jelas kebingungan, baginya seorang murid tidak mungkin bisa mengendalikan guru dengan mudahnya, saat aku menjelaskan siapa Mei wajahnya memucat.


"Di-dia kepala sekolah kita? Dia menyamar jadi murid karena menyukaiku."


Yang terakhir itu hanya guyonan Nurman, ketika giliranku bertanya kenapa kita lari? Nurman pun tidak tahu.


"Bukannya wajar saat seseorang mengejarmu maka kita berlari," katanya ringan yang ditimpal jawaban datar dariku.


Sementara itu Mei tertawa.


"Jangan khawatir, aku hanya butuh bantuan kalian... aku sempat meminta Natalie dan Erin, namun mereka mengatakan bahwa Arta dan Nurman yang cocok melakukan tugas ini."


"Mereka menjual kita," teriakku.


Tak lama akhirnya kami tiba di sebuah bangunan megah dengan pagar tinggi.


Pagar itu terbuka secara otomatis hingga mobil masuk dengan mudahnya, Mei melepaskan ikatan kami lalu meminta kami turun.


"Arta, coba bayangkan ini... kita diculik oleh cewek loli, padahal seharusnya kita yang menculiknya, menurutmu apa yang akan dia lakukan?"

__ADS_1


"Mana kutahu."


"Sudah jelas dia seorang yang jarang dibelai."


Sebuah pukulan menghantam kepala kami berdua.


Bahkan aku juga terkena.


"Berhentilah main-main, cepat masuk ke dalam."


Kami berdua mengangguk mengiyakan dan duduk di sofa berharga puluhan juta, meminum teh dari gelas puluhan juta, serta merasakan AC dari puluhan juta.


Kenapa kami tahu harganya? Karena lebelnya masih tersangkut di ketiga barang itu.


Mei duduk di depan kami berdua, setelah melipat roknya memastikan kami tidak mengintipnya, sejujurnya aku atau Nurman sama sekali tidak tergoda dengan tubuh anak kecil.


"Kemana kalian melihat?" tanyanya demikian hingga air teh menyembur dari mulut kami berdua.


Konon firasat cewek lebih tajam dari cowok dan mereka bisa mengerti arti tatapan lawan jenisnya dengan mudah. Kurasa kami berdua harus meminta maaf.


Nurman lebih dulu.


"Maaf menatap dada Anda yang datar, tangan dan kaki Anda juga terlihat kurus dari cewek biasanya."


Tepat ketika pandanganku memucat, Nurman sudah dicekik oleh Mei.


"Arta selamatkan aku?"


"Semoga kau tenang di alam sana," kataku lemas.

__ADS_1


"Oi."


__ADS_2