Love Day!

Love Day!
Chapter 53 : Sebuah Karnaval


__ADS_3

Mei berdiri di depan kami berempat selagi menulis setiap olah raga yang pernah dilaksanakan di sekolah ini, dia benar-benar mencari informasi sampai segitunya.


"Semua ini terlihat biasa, kita harus memikirkan sesuatu yang jarang dijumpai banyak orang."


Nurman datang dengan sebuah ide.


"Bagaimana kalau kita bertarung panjat pinang di tengah lapang."


"Itu saat kita sedang 17 agustusan," teriakku dan Erin menambahkan.


"Kita adakan lari estafet di mana seluruh peserta harus melakukannya selagi menggigit roti."


Kepalaku pusing, yang dikatakan Erin adalah adegan romantis yang banyak dialami gadis SMA.


Dan Natalie masih diam memikirkannya.


"Arta katakan sesuatu, kau masih belum mengutarakan idemu?"


Sebelum aku mengatakan sesuatu Natalie memotong.


"Kita buat pelari membawa telur dengan sendok di mulutnya."


Semuanya jelas tidak memiliki ide yang bagus, aku berdiri untuk mengutarakan ideku.


"Acara yang akan kita buat adalah acara festival olah raga, perlombaan yang biasa diadakan di antaranya lomba tarik tambang, lari estafet serta perlombaan merebut ikat kepala lawan tapi semua itu terlalu biasa di mana ketua OSIS menginginkan perlombaan yang berbeda untuk tahun ini."


"Benar sekali," balas Mei selagi mengangguk-anggukan kepalanya lalu disusul Nurman.


"Jadi apa yang didapatkan dengan kesimpulan tersebut."


"Bahwa sebenarnya kita melakukan hal sia-sia."


Mei naik ke atas meja lalu mencekikku.


"Apa katamu?"


"Ketua OSIS tenangkan dirimu."

__ADS_1


"Arta mungkin sudah lelah, dia banyak sekali bercanda," tambah Natalie hingga aku menyeringai senang.


"Tapi aku punya sesuatu untuk mengubah keadaan."


"Wajahmu terlihat menakutkan Arta."


Setelah mengutarakan ideku akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yang pengap tersebut, saat aku menatap ke atas, langit sudah berubah gelap.


Di gerbang sekolah ada Natalie yang berdiri seolah menungguku.


"Aku sudah mengatakan pulang kan tadi bersama yang lainnya."


"Sebenarnya aku ingin pergi berdua dengan Arta ke suatu tempat."


"Tidak biasanya kau baru mengatakannya, baiklah... ayo pergi."


Aku mengulurkan tanganku hingga kami berdua berjalan selagi bergandengan tangan, awalnya aku tidak tahu akan pergi ke mana? Tapi saat tiba aku akhirnya tahu dengan jelas.


Kami pergi ke sebuah taman hiburan yang baru-baru ini dibuka selama dua pekan, ini disebut karnaval. Natalie memang pernah bilang ingin pergi ke taman hiburan kapan-kapan bersamaku.


Karena sibuk aku malah melupakannya.


"Ah iya."


Aku membeli dua crepe dengan tambahan buah-buahan serta eskrim di dalamnya.


"Ini sangat enak, aku pesan satu lagi."


Kini kedua tangan Natalie memegang keduanya.


"Lebih baik kita duduk dulu di sana sampai makanan kita habis."


"Apa tidak bisa kita naik sesuatu selagi makan."


"Itu jelas berbahaya, sayang jika makanannya tumpah atau jatuh."


Natalie akhirnya mengangguk setuju.

__ADS_1


Selagi menatap orang-orang yang berlalu lalang aku dengan santai menikmati makananku, sudah lama sekali sejak aku datang ke tempat seperti ini, benar-benar nostalgia terutama saat melihat kincir putar.


"Arta?"


"Di malam hari semuanya terlihat sangat indah."


"Benar kan, itulah alasanku mengajakmu kemari.. yah, selain makanan ini."


"Aku langsung tahu itu," balasku tersenyum masam.


Setelah menghabiskan Crepe kami mulai menjelajahi karnaval ini, seperti mencoba wahana melempar karet gelang, menembak dengan pistol mainan, memancing ikan bahkan mencoba permen kapas berukuran raksasa.


"Coba punyaku juga."


"Ah ya."


Tak berhenti di sana, wahana berat seperti komedi putar pun kami mencobanya dan terakhir tentu kincirnya.


Aku duduk di depan Natalie yang terus melihat ke sekeliling luar jendela.


Kincir ini lebih kecil dari yang ada di taman hiburan meski begitu masih bisa dinaiki oleh dua orang dewasa.


"Sayang sekali karnaval ini hanya sebentar di tempat kita."


"Mau bagaimana lagi, namanya juga karnaval keliling jadi mereka akan berpindah-pindah tempat."


Atas pernyataanku Natalie menghembuskan nafas panjang dan aku berusaha menghiburnya.


"Lain kali kita bisa pergi ke tempat lain, aku minta maaf seharusnya aku yang mengajakmu kemari."


"Tidak usah dipikirkan, jikapun Arta lupa sesuatu.. aku akan selalu mengingatkannya bahkan aku akan lebih memaksa."


Aku hanya bisa tertahan saat Natalie mendorong wajahnya mendekat ke arahku, di jarak begitu dekat apa dia mendengarkan detak jantungku yang berdegup kencang.


Dengan ringan Natalie menyisir rambutnya ke samping memperlihatkan sebelah telinganya, lalu berkata.


"Bukannya ini waktu yang tepat untuk berciuman."

__ADS_1


Aku hanya bisa terdiam menanggapinya hingga saat kusadari seluruh lampu karnaval padam sekaligus.


__ADS_2