Love Day!

Love Day!
Chapter 31 : Di Tempat Tujuan


__ADS_3

Kami tiba di tempat tujuan lebih awal dari yang di perkirakan, semua siswa mengambil barisan menurut kelas mereka sementara para guru berada di depan kami.


Salah satunya membuka acara ini dengan meriah. Study tour kami adalah acara dimana kami menyatu dengan alam atau orang menyebutnya sebuah perkemahan.


Beberapa petugas berseragam turut mengawasi kami, lagipula ini adalah salah satu hutan lindung terbesar di Indonesia.


Kecuali fasilitas rumah penjaga hutan dan kamar mandi umum, tidak ada lagi hal lainnya, kami diminta membuat tenda masing-masing dengan arahan para penjaga hutan.


Untuk makanan sendiri, syukurlah bahwa pihak sekolah sudah menyediakan dapur sementara kendati demikian kami juga diizinkan memasak sendiri. Karena kelompok kami paling sedikit, aku dan Nurman membantu Natalie dan Ibu Sania mendirikan tenda.


Setelah selesai baru tenda kami berdua, masih ada sekitar 2 jam lagi kami harus berkumpul dengan yang lainnya, sampai saat itu kami berdua bisa bersantai.


Aku menarik otot-otot lenganku ke atas sementara di belakangku Nurman masih sibuk dengan pekerjaannya membuat game.


"Kau akan baik-baik saja terus seperti itu?"


"Jangan khawatir, besok aku bisa bebas bersenang-senang."


Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk berada di depan laptopnya.


Aku melirik ke arah tenda-tenda yang lainnya, mereka tampak kesulitan hingga meminta banyak orang untuk mendirikannya, yah... berkat Nurman, kemah pertamaku terlihat lebih mudah.


Natalie muncul dengan membawa beberapa makanan ringan yang mana salah satunya dia berikan padaku.


"Kau juga Nurman."


"Merci."


Nurman mengucapkan terima kasih dalam bahasa Prancis.


Aku berkata ke arah Natalie.


"Jika dipikirkan Nurman sangat baik padamu, apa kalian semakin akrab?"


Sebelum Natalie menjawab, Nurman lebih dulu memotong.

__ADS_1


"Sudah jelas kan, di masa depan nanti Natalie akan mewarisi perusahaan di mana aku bekerja sekarang, aku harus membuatnya mempunyai kesan baik padaku."


"Niat burukmu ketahuan loh."


"Seharusnya aku tidak mengatakan itu."


Sudah terlambat untuk menyembunyikannya sekarang. Untuk Natalie dia hanya menanggapinya dengan santai.


"Perusahaan keluargaku sangat ketat dalam memilih karyawannya, bahkan jika seorang yang tinggi merekomendasikan seseorang untuk masuk, mereka belum tentu bisa diterima bekerja... Nurman hanya berusaha menyembunyikan perasaannya bahwa dia sangat senang bersama kita."


"Wadaaah... aku tidak bisa mengelak dengan itu."


Di atas langit selalu ada langit, jika Natalie serius dia bahkan lebih jenius dari Nurman. Sesaat aku memikirkan itu, Natalie mengaitkan lengannya di lenganku.


"Aku ingin bermain semua wahana di sini, temani aku."


"Sekarang?"


"Tentu saja, kalau nanti kita harus mengantri dengan yang lainnya."


"Jangan pikirkan aku, kalian berdua bersenang-senanglah."


Selagi ditarik Natalie menjauh, aku hanya bisa melihat Nurman melambaikan tangannya.


Semua siswa masih disibukkan dengan membangun tenda mereka, ini seperti wahana ini semuanya di persiapkan untuk aku dan Natalie, setelah memakai peralatan keselamatan, aku dan Natalie mencoba naik ke bukit. Dari atas bukit kami akan meluncur turun dengan wahana Flaying Fox, sejujurnya ketinggiannya cukup membuatku takut.


"Kau yakin tidak ingin mencoba wahana lainnya dulu?" tanyaku demikian.


"Kita bisa melakukannya nanti, Flaying Fox itu adalah wahana yang paling digemari banyak orang, akan lebih bagus jika bisa naik lebih dari satu kali."


Jadi itu niatnya, dia sangat menyukainya ternyata.


Aku dan Natalie hendak melangkah, sampai Ibu Sania dengan jahil menangkap kami dari belakang sembari melompat.


Karena tubuhnya kecil, kakinya terangkat dari permukaan tanah.

__ADS_1


"Ngapain kalian berdua, jangan melakukan hal aneh seperti berciuman atau hal semacam itu, jika kalian berdua ketahuan, aku akan membuat kalian ke KUA lebih awal."


Guru ini tidak pernah berubah, jahil seperti wajahnya.


"Kami tidak akan melakukan hal aneh-aneh, lihat kami menggunakan helm juga."


"Bisa saja ini kedok."


"Kedok apanya coba? Natalie katakan sesuatu."


"Ah iya.."


Dia malah membuat semuanya menjadi salah paham, sesaat itu, ibu Sania tertawa.


"Aku cuma bercanda, aku datang kemari untuk menikmati permainan ini juga... ayo sebelum orang-orang bermunculan, kita puaskan kencan ini."


Aku hanya menghela nafas panjang selagi mengikutinya dari belakang bersama Natalie.


Aku mengulurkan tangan untuk membantu Natalie.


"Terima kasih Arta."


"Bagaimana dengan ibu?"


Aku juga mengulurkan tangan untuknya hingga Natalie berkata ke arahnya.


"Bukannya ibu terlalu genit di usia ibu?"


"Iyah, jangan katakan itu, ibu masih muda loh.. ketika bersama kalian berdua, aku juga berharap menemukan jodohku juga nanti."


Aku dan Natalie langsung terdiam.


Entah kenapa rasanya udara di sekitar kami berdua sangat berat.


Aku dan Natalie bertukar pikiran.

__ADS_1


Mari biarkan Ibu Sania menikmatinya seperti apa yang dia inginkan.


__ADS_2