Love Day!

Love Day!
Chapter 26 : Pulang Bersama


__ADS_3

Lulu memiliki ekpresi sedikit pemalu dan terkesan membuat seorang pria berusaha melindunginya, ketika keduanya duduk aku mengambil kursi sedikit jauh dari mereka.


Bagaimanapun mataku cukup membuat Lulu takut.


Erin mengambil dua gelas cangkir teh yang diisi air panas yang diambilnya dari galon, sebenarnya galon ini milik Ibu Sania, terkadang dia datang kemari hanya untuk bersantai selagi menyeduh kopi dan kami pun akhirnya menggunakannya juga.


"Silahkan," kata Erin melipat roknya sebelum duduk di samping Nurman.


"Terima kasih," keduanya berkata di waktu bersamaan hingga Natalie memulai obrolan.


"Jadi Lulu, apa yang bisa kami bantu untukmu?" mendengar pertanyaan itu ekspresi wajah Lulu semakin memerah hingga ia sedikit menundukan kepalanya.


"Sebenarnya selama ini nilai olah ragaku sangat rendah, aku ingin klub pemecah masalah membantuku agar mendapatkan nilai bagus."


Tanpa perlu bertanya lagi, aku dan Nurman Out.


Natalie menyinggungkan senyuman di wajahnya bertepatan saat Nina menambahkan.


"Sekitar dua Minggu lagi ada tes jasmani, Lulu ingin sedikit mahir berolah raga."


"Soal itu, Erin cukup atlentis aku rasa dia pasti bisa mengajarimu."


"Benarkah?" tanya Lulu ke arah Natalie dengan pandangan bersinar hingga mendapatkan anggukan kecil.


Secara diam-diam aku dan Nurman bergerak layaknya ninja, sebelum bisa membuka pintu Erin memegangi bahu kami.


"Mau kemana kalian? Sebagai anggota klub kalian juga harus ikut."


"Aku tidak ingin mendengar perkataan itu," jawabku lemas.


Kami bertiga melirik ke arah Natalie yang hanya diam.


"Apa ada masalah?" tanya Erin demikian.


"Seminggu lagi kita akan mengadakan study tur, kita hanya bisa membantu Lulu beberapa hari saja."

__ADS_1


Kami baru saja menyadarinya.


Lulu keluar dengan tanggapan positif.


"Jangan khawatir, meski beberapa hari, itu tetap sangat berharga, saat kalian semua pergi aku akan berlatih sendirian."


Erin tersenyum masam lalu berkata.


"Tidak, sebenarnya aku juga masih kelas satu."


"Heh, aku pikir karena Erin sangat akrab dengan semuanya, aku pikir Erin berada di kelas dua juga," ucap Lulu yang menanggapinya dengan santai.


"Aku masih kelas satu, akan lebih baik kalau di sini juga ada cewek seangkatan denganku."


Nurman mengangkat tangannya.


"Aku ingin ada cewek cantik bercosplay pelayan."


"Ditolak."


"Aku memang sedikit menyukainya, tapi dengar, jangan lakukan hal aneh, aku peringatkan."


"Aku tidak akan melakukan apapun."


Sudah jelas senyumannya berkata lain.


Selepas sekolah aku dan Natalie kembali pulang bersama, aku menyuruhnya untuk segera pergi namun sayangnya dia menolak dan memutuskan untuk mampir ke tempat tinggalku, saat aku menyentuh gagang pintu, pintunya tidak terkunci terlebih ibuku keluar dari dalam bersama adik kembarku yang dengan senang memeluk kakiku, mereka masih berada di kelas tiga sekolah dasar.


Yang laki-laki bernama Dino dan yang perempuan bernama Dina.


"Kakak."


"Kalian berdua sudah besar ternyata."


"Selamat datang, ibu sudah menyiapkan makanan dan air hangat untukmu mandi."

__ADS_1


"Harusnya ibu beristirahat dulu, aku bisa memesan makanan dari luar."


"Jika di rumah ada ibu maka makanan dari luar dilarang masuk ke dalam sini."


Ibuku memang seperti ini, terlebih saat melihat Natalie ekpresinya membatu.


"Anakku sudah membawa calon menantu ke rumah, bagaimana aku bersikap," katanya selagi terduduk di pojokan berlinang air mata kebahagiaan.


"Jangan dipikirkan ibuku memang seperti ini."


"Namaku Ayunda, salam kenal."


"Aku Natalie salam kenal juga, ibumu terlihat sangat muda."


"Ibu sangat bahagia."


Dari luar ibuku memang terlihat seperti seorang mahasiswi di semester pertama.


Natalie mulai memperkenalkan dirinya lalu melepaskan alas kaki untuk ikut masuk bersama kami.


"Natalie, apa kamu mau menginap malam ini? Kamu bisa tidur bersama ibu."


"Apa boleh?"


"Tentu saja, pasti kamu punya banyak yang ingin ditanyakan tentang Arta, kita bisa melakukan obrolan wanita."


"Aku ingin sekali, aku akan menghubungi mamaku dulu."


Aku hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan bermasalah.


Aku meminta Natalie untuk memakai kamar mandi lebih dulu dan juga memberikan pakaian seadanya beserta sebuah jaket sepanjang lutut.


Syukurlah pakaian ini baru saja dicuci.


Selesai giliranku, aku duduk di meja makan yang sepenuhnya telah terisi makanan enak, aromanya yang harum membuat yang menciumnya tidak bisa menolak untuk mencicipinya.

__ADS_1


__ADS_2