Love Day!

Love Day!
Chapter 22 : Berbelanja


__ADS_3

Keindahan Mall bisa dilihat bahkan sebelum kami memasukinya, orang-orang terlihat mengerjakan aktivitas mereka.


Ada orang yang berpergian bersama keluarga mereka, para anak sekolah seperti kami dan ada juga beberapa petugas toko yang menawarkan berbagai produk yang sedang diskon di tempat mereka.


"Ini yang dinamakan Mall, aromanya sangat berbeda," Cupid mulai mengendus-endus orang-orang yang dia lihat yang entah kenapa aku ingin sekali punya kalung dan rantai sekarang.


Aku menangkap bagian kerah bajunya demi menahannya tak berkeliaran sembarangan, dengan menariknya kami naik ke lantai tiga dimana toko pakaian berada.


Natalie berkata ke arahku tanpa aku menoleh ke arahnya.


"Hey Arta, kau suka warna merah muda atau putih?"


"Aku suka warna putih."


"Kalau begitu aku beli yang ini."


"Terima kasih," jawab suara asing.


Aku menoleh untuk memastikan apa yang dilakukan Natalie dan ia menghabiskan banyak uang untuk membeli pakaian dalam berwarna putih.


"Fufu kalian sangat mesra."


Mari abaikan perkataan Cupid dan mulai memilih pakaian yang bisa dia kenakan, karena tokonya sepi dia hanya memiliki uang sekitar 200 ribuan belum lagi itu jatah selama sebulan.


Natalie menyodorkan banyak uang kepadanya.


"Silahkan gunakan uang ini."


"Terima kasih, kau benar-benar baik."


"Bukan apa-apa, uang di rumahku sudah terlalu banyak hingga terkadang kami gunakan sebagai kertas mainan."


Uang itu, uang yang berbeda dari uang yang kuberikan padanya, sepertinya Natalie lebih memilih untuk menyimpan uangnya.


"Arta tas belanjaan ini berat loh, tolong bawakan untukku."


"Tidak mau, kau harus membawa barangmu sendiri."


"Dasar pelit."


Aku mengabaikan perkataan itu untuk mengambil pakaian berwarna cerah untuk kuberikan pada Cupid.

__ADS_1


"Cobalah ini dulu."


"Tentu."


Natalie memegangi tangan Cupid lalu membawanya pergi ke ruang ganti. Hubungan sesama gadis itu sangat misterius mereka mudah berteman dibanding para laki-laki.


Aku duduk di kursi selagi menunggu tirai terbuka, ada beberapa majalah fashion yang tersedia yang bisa kulihat di tempat ini. Beberapa modelnya terlihat berasal dari Eropa.


Saat tirai terbuka aku segera menutup majalah yang kubaca, dari sana kulihat entah Natalie atau Cupid mengenakan pakaian baru.


Yang mereka gunakan adalah one piece yang diperuntukan untuk acara santai.


"Bagaimana? Aku dan Cupid siapa yang lebih imut?" tanya Natalie.


Itu seperti membandingkan biji gandum dan padi, yang suka roti akan akan memilih gandum sementara yang suka nasi akan memilih padi, karena aku suka keduanya jadi akan kujawab.


"Kalian berdua terlihat imut."


Natalie mengembungkan pipinya cemberut.


"Jawaban yang tidak bertanggung jawab."


"Apa itu nyaman dikenakan?"


"Ini lebih baik, tapi aku ingin sedikit yang tidak membuat gerah saat beraktivitas."


"Aku sudah membawanya loh," ucap Natalie lalu keduanya kembali masuk ke dalam tirai.


Beberapa saat kemudian keduanya muncul dengan setelan yang berbeda, celana pendek yang dipadukan dengan t-shirt memang menarik hanya saja ini hanya cocok digunakan di dalam rumah.


"Rok mini."


"Gothic."


"Perawat yang sexy."


"Akuntan hot."


"Pelayan."


"Cosplay super hero."

__ADS_1


Aku terus menyebutkan apa yang mereka pakai dan selanjutnya kami membeli semuanya, sungguh pengalaman yang aneh.


Kami kembali ke toko dengan taxi.


Saat Natalie membayar ongkos kami, aku mulai memasukkan seluruh tas belanjaan ke lantai dua dimana digunakan sebagai tempat tinggal Cupid.


"Terima kasih kalian berdua, aku sangat senang padahal harusnya malaikat yang memberikan kebahagiaan tapi malah aku yang malah mendapatkannya."


"Tak usah dipikirkan, malaikat juga perlu sesekali mendapatkan kesenangan bukan? Kalau begitu sampai nanti."


"Sampai nanti."


Aku dan Natalie melambaikan tangan ke arahnya lalu berjalan pergi.


"Hey Arta, apa Cupid benar-benar seorang malaikat?" tanya Natalie.


"Tidak, dia hanya manusia seperti kita... Saat aku meletakkan tasnya aku melihat foto miliknya bersama keluarganya, ayah dan ibu."


"Begitukah, tapi kenapa dia mengira dirinya sebagai malaikat."


"Aku tidak tahu, tapi yang jelas mungkin dia memiliki sesuatu yang tidak ingin diceritakan pada kita berdua."


Natalie terdiam dengan ekpresi khawatir, untuk mengubah suasana aku menanyakan tas belanjaan yang dibawanya, selain membeli pakaian dalam ada tas yang lain yang membuatku tertarik.


"Sebenarnya tas itu apa isinya?"


Natalie menatapku dengan pandangan mengkilap.


"Ini adalah pakaian perawat sexy, saat Arta sakit aku akan mengenakannya untuk merawatmu."


Membayangkannya membuatku gemetaran dalam arti berbeda.


"Akan kuusahakan hal itu tidak akan terjadi," kataku lemas.


"Padahal Arta di toko terus melihat model dari Eropa, nggak bisa jujur... apa mereka tipemu?"


"Lihat sudah jam berapa ini, aku harus cepat pulang."


"Hey tunggu, setidaknya tolong bawakan tasku."


"Tidak mau."

__ADS_1


__ADS_2