Love Day!

Love Day!
Chapter 64 : Damage


__ADS_3

Pagi berikutnya di kediamanku, aku menemukan Nurman berdiri di depan rumahku, pandangannya sedikit lesu ditambah aku merasakan hal merepotkan darinya karena itu aku memutuskan untuk mengabaikannya.


"Kau mau kemana?"


"Natalie sudah menungguku, aku ingin pergi ke sekolah berdua dengannya."


"Kau tidak ingin mendengarkan masalahku?"


Itulah kenapa dia repot-repot menungguku sepagi buta ini.


"Aku mengerti, ceritalah."


Selagi menunggu di gang yang akan dilalui Natalie, Nurman menjelaskan.


"Apa kau masih ingat gadis yang kita temui saat lari dipinggir sungai?"


"Maksudmu teman sekelasku saat SMP, Sinta."


"Tepat sekali, setelah dia mendapatkan nomorku dia terus menghubungiku."


"Bukannya itu bagus, sepertinya dia menaruh ketertarikan padamu... kenapa kau tidak mencoba membalasnya dengan lebih halus?"


"Aku tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti itu... aku masih memiliki pekerjaan yang penting."


Aku diam sejenak lalu melanjutkan.


"Nah Nurman, bukannya kau terlalu cepat masuk ke dunia orang dewasa. Aku tidak melarangmu untuk bekerja hanya saja bukannya masa mudamu juga lebih penting."


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya ingin mengatakan itu saja, kau mungkin akan menyesalinya nanti."


Tepat saat aku mengatakan itu Natalie yang kepo muncul.


"Apa yang kalian bicarakan? Kalian barusan tampak serius."


"Bukan apa-apa."


"Aku penasaran, Nurman cepat katakan padaku?"


"Kami hanya membahas soal majalah dewasa."


"Sepertinya menarik, aku ingin mendengarkannya juga."


Nurman tampak kebingungan selagi melirik ke arahku seolah berkata ' Gadis ini bukan dari planet bumi?" dan aku mengangguk mengiyakan.


"Kalian berdua, berhentilah mengobrol dengan telepati."

__ADS_1


Aku maupun Nurman sama-sama menghembuskan nafas panjang, kami tidak cukup bodoh untuk membahas hal seperti itu dengan seorang gadis. Bukan maksudnya aku tertarik dengan hal seperti itu, lagipula Nurman hanya ingin menghentikan rasa penasaran Natalie akan tetapi sayangnya dia malah menginjak ranjau yang berbahaya.


Pada akhirnya kami memilih diam dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Selamat pagi."


"Pagi."


"Good morning."


"Morning too."


"Bonjour."


"Bonjour."


Seperti biasa Natalie sangat populer di kalangan banyak siswa, beberapa orang bahkan mencoba menyapanya dengan bahasa dari negaranya dan juga dengan bahasa lainnya agar lebih bervariatif.


"Ni Hao."


"Ohayo."


"Kumaha Damang?"


"Yok, opo kabare?"


"Gimane kabarnye?"


Yang terakhir itu rasanya aku pernah dengar di suatu tempat, dan juga bagaimana cara membalasnya coba?


Aku duduk di kursiku setelah meletakkan tas di meja. Natalie juga duduk di meja sebelah lalu menggeser kursinya di dekatku.


"Apa perasaanku, tapi di sini cukup gerah yah."


"Itu karena kau terus menempel padaku, pergi jauh sana-sana, hus-hus..." teriakku.


"Tidak menarik."


Menarik apanya? Belum menikah seperti ini apalagi sudah, aku pasti akan merasa berada di oven setiap hari.


Natalie berkata setelah memperbaiki letak kursinya.


"Mau coba tebak-tebakan? Aku akan memikirkan salah satu benda di sekitar kita lalu Arta yang menebaknya."


"Tentu, sepertinya menyenangkan," jawabku singkat.


"Bagus, aku melihat benda berwarna bulat yang selalu berada di tangan dan menghasilkan bunyi."

__ADS_1


"Jam tangan."


"Tepat, sekarang giliranmu."


Aku memikirkannya baik-baik.


"Aku melihat benda yang selalu ada di rambut, bisa kecil ataupun sedang."


"Itu mudah, jepit rambut."


"Benar, giliranmu lagi?"


Walau permainan ini terkesan mudah, akan tetapi cukup menghabiskan waktu sampai bel berbunyi. Natalie meletakkan ujung tangannya di bibir selagi melirik ke sekelilingnya.


"Benda yang selalu dibutuhkan siswa."


"Buku."


"Bukan."


"Berarti pensil."


"Benar."


Kini giliranku, aku memang melihat salah satu siswa sedang menggunakan pensil, tepat di sampingnya ada penghapus berwarna merah muda.


Kurasa itu saja.


"Aku melihat benda berwarna merah muda," mendengar itu seketika Natalie menundukkan wajahnya selagi memerah.


Ia segera menahan roknya dengan kedua tangannya.


"Tunggu, kenapa ekpresimu seperti itu?"


"Itu pakaian dalamku hari ini."


"Buakhh," air menyembur dari mulutku padahal aku tidak minum apapun.


Damagenya terlalu besar untuk pemuda sehat sepertiku, rasanya aku akan pergi ke surga sekarang.


Maaf ibu, adik-adikku aku pergi duluan.


"A-Arta?" panggil Natalie.


Saat rohku akan keluar sebuah bel sekolah menyelamatkanku namun dari pintu itu, sosok Ibu Sania muncul tergesa-gesa meskipun ini bukan jam pelajarannya.


"Arta, sekolah kita akan kedatangan petugas dari dinas pendidikan, selepas sekolah aku memerlukan bantuanmu dan anggota klubmu untuk mencabuti rumput, tolong yah... dadah."

__ADS_1


Padahal yang menjadi ketua di klub adalah Natalie.


Aku hanya bisa menjatuhkan kepalaku di meja.


__ADS_2