
Saat pintu dibuka kami berteriak bersama.
"Kejutan," selagi menembakan Confetti ke arah Cupid, dia sedikit menutup mulutnya karena terkejut.
"Kalian merayakan ulah tahunku?"
"Tentu saja, ini semua ide Ibu Sania."
"Terima kasih banyak."
Nurman muncul dengan pakaian gadis penyihir berwarna merah muda, ia mengenakan wig panjang yang berwarna serupa.
"Ta ta... aku mahou shoujo, siap menyihir pesta ini menjadi meriah."
Erin dan Ibu Sania berbalik untuk menahan tawa mereka, kostumku dan Natalie memang sedikit lebih baik darinya.
Nurman berjalan dengan kaki lebar yang tidak sesuai dengan kostumnya lalu memegangi bahu Erin dan Ibu Sania.
"Jangan buru-buru tertawa, kalian juga harus mengenakan kostum ini juga."
"Eh."
Sekarang gadis penyihir menjadi tiga orang.
"Memalukan sekali, aku ini seorang guru loh."
"Aku tidak suka ini," tambah Erin dan sekarang Nurman yang tertawa.
Aku berjalan ke arah Cupid lalu memberikan kostum miliknya juga.
"Ini kostum untukmu."
"Aku akan memakainya."
__ADS_1
Di saat Cupid mengganti pakaiannya kami mulai menyalakan lilin yang berada di atas kue lalu menyusun hadiah untuknya juga.
"Apa aku terlihat aneh?" tanya Cupid saat dia menunjukkan kostumnya.
"Luar biasa, kau sangat cocok mengenakannya."
"Seperti malaikat seharusnya," kata Natalie menegaskan sebelum dipotong Ibu Sania.
"Aku akan mematikan lampunya dan kita bersama-sama menyanyi lagu selamat tahun."
Kami berteriak semangat kemudian bernyanyi bersama, saat lilin ditiup kami bertepuk tangan dalam ruangan gelap.
Satu hal yang ingin kutanyakan.
Siapa yang mau menyalakan lampunya lagi?
Pagi berikutnya dalam perjalanan ke sekolah aku menemukan dompet seseorang yang terjatuh, dompetnya berbentuk persegi panjang serta ada motif hati di depannya.
Saat aku mengintip uang di dalamnya, di sana ada sekitar 500 ribu dengan pecahan 100 ribuan.
Aku bertanya-tanya hal itu dan menemukan sebuah tanda pengenal di dalamnya.
"Milik mawar, walau kutukannya telah menghilang dia masih bisa ceroboh rupanya," gumamku demikian sampai pemilik yang dimaksud muncul secara tergesa-gesa.
"Arta, apa kau melihat dompetku?"
"Maksudmu ini?"
"Ah iya... terima kasih banyak, syukurlah aku menemukannya."
Dia mengembalikan dompet tersebut ke dalam saku bajunya sebelum beralih ke arahku.
"Kamu tidak bersama Natalie?"
__ADS_1
"Dia mungkin sudah di sekolah, biasanya Natalie akan menungguku di sini."
"Begitu."
Aku balik bertanya ke arahnya.
"Mawar apa kau sebenarnya keluarga orang kaya?"
"Mana mungkin, penampilanku terlihat sederhana aku tidak mungkin orang kaya."
"Di dompetmu ada uang sebanyak itu, itu tidak biasa dibawa oleh seorang pelajar kau tahu."
"Ah ini... hanya tabunganku, aku mungkin lupa untuk menyimpannya di rumah."
Aku menyipitkan mata ke arahnya.
"Kenapa Arta? Memangnya kalau aku kaya, kenapa?"
"Bukan kenapa-napa, belakangan ini sekolah kita seperti perkumpulan orang kaya aku pikir mereka pura-pura jadi miskin."
"Hal seperti itu tidak mungkin, kebanyakan sekolah swasta kita, hanya diisi oleh kalangan bawah menengah."
Aku jelas meragukannya.
Keberadaan Natalie serta Rin maupun Ran yang idol juga cukup mencurigakan.
"Hentikan jangan melihatku seperti itu?"
"Aku hanya berfikir, apa mungkin kepala sekolah kita orang yang terkenal? Hingga sekolahnya bisa menarik murid-murid luar biasa."
"Entahlah, tapi aku juga penasaran selama bersekolah tidak ada siapapun yang pernah melihat kepala sekolah."
Itu memang benar.
__ADS_1
Setiap penyambutan selalu diwakilkan oleh guru atau wakil kepala sekolah.
Bukan rahasia umum jika para siswa tidak mengetahuinya.