
Pagi berikutnya aku diam-diam membaringkan pipiku di meja selagi mendengarkan obrolan Natalie bersama teman-temannya.
Sebentar lagi akan diadakan tur wisata karena itu semua orang di kelas sedang memperebutkan untuk menjadi bagian dari kelompoknya.
Paling tidak sekitar 2 Minggu dari sekarang study tur itu dilaksanakan.
Aku dan Nurman bisa menjadi satu kelompok meskipun beda kelas, sementara Erin masih berada di kelas satu jadi dia tidak bisa ikut dengan kami.
Biasanya aku tidak ikut dengan siapapun dan hanya menjadi pesuruh ibu Sania, tapi kuharap sekarang akan sedikit berbeda. Natalie tampak kebingungan dan sesekali melirik ke arahku untuk meminta bantuan.
Aku tidak ingin membantunya kendati demikian dia terus saja berharap padaku. Apa boleh buat.
"Kalian, Natalie itu satu kelompok denganku, berhentilah untuk membujuknya karena kami sudah memiliki jadwal bersama," mendengar perkataanku mereka semua berhamburan pergi dan duduk di kursi mereka.
Walau aku bergabung di klub sepertinya belum ada yang berubah.
Ada beberapa orang yang mengumpat padaku, akan tetapi aku tidak peduli dengan hal itu, Natalie melirik ke arahku selagi memiringkan kepalanya di meja seperti apa yang kulakukan sekarang.
Itu mengingat sesuatu.
Aku mengeluarkan hadiah yang sebelumnya kubeli padanya tanpa terlihat yang lainnya hingga Natalie mengambil pulpen lalu menuliskan sesuatu di secarik kertas kecil yang mana dia berikan padaku.
(Apa ini?)
Aku pun melakukan hal sama.
__ADS_1
(Hadiah untukmu, aku membelinya setelah mengantarmu pulang, kurasa itu cocok denganmu)
(Kalau begitu, aku akan memakainya)
Natalie melakukan apa yang ditulisnya lalu berpose menghadap ke arahku.
(Bagaimana?)
(Cocok untukmu)
(Terima kasih, aku akan menjaganya dengan baik, ngomong-ngomong kenapa pipimu memerah?)
Aku sebenarnya tak ingin menuliskannya tapi dia harus tahu.
(Ngomong-ngomong apa kau tidak memakai celana pendek di balik rokmu?)
(Aku lupa memakainya)
Aku akan berjuang untuk melupakan ini.
Matahari mulai bersembunyi di balik awan yang mana sedikit meredakan panas yang melanda wajahku, berhubung aku duduk di dekat jendela rasa panas yang kuterima dua kali lipat yang diterima oleh teman sekelasku, aku membuka celah pada jendela untuk merasakan hembusan angin menerpa wajahku.
Sebentar lagi mungkin akan turun hujan dan aku lupa tidak membawa payung, biasanya sebagian siswa akan menaruh payung di loker mereka sayangnya aku tidak melakukan itu.
Kupikir aku akan pulang terlambat hari ini, selagi memikirkan itu sebuah hembusan angin dirasakan dari samping berbeda.
__ADS_1
Itu berasal dari Natalie yang jahil berdiri di samping kursiku selagi meniup-niup telingaku dari mulutnya.
"Bagaimana hembusan angin dariku lebih terasa bukan?"
"Aku tidak ingin menjawabnya," kataku gemetaran.
"Wajahmu memerah."
Dasar gadis tidak peka, teriakku dalam hati.
Pelajaran terakhir adalah Ibu Sania yang sekaligus menjadi wali kelasku, dia berdiri dengan tatapan percaya diri selagi membawa buku di tangannya, dia membacanya sedikit lebih keras agar terdengar oleh semua siswa.
Ini kisah tentang Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari, Natalie yang sebelumnya tinggal di luar negeri jelas akan lebih antusias dari siapapun.
Entah kenapa melihatnya seperti itu membuatku sedikit senang sampai Ibu Sania bertanya ke arahku.
"Bagaimana menurutmu kisah yang ibu bacakan?"
"Tidak menarik, jika aku yang menjadi Jaka Tarub aku akan mengambil seluruh selendangnya lalu menjualnya di toko loak dengan keuntungan besar."
"Ini bukan menceritakan ambisimu."
"Lalu bagaimana kalau aku yang jadi bidadarinya dan Arta mengambil selendangku?" potong Natalie.
Aku hanya diam dengan wajah memerah begitu juga Natalie yang dengan malu menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
"Kalian berdua, tolong jangan terlalu mengumbar kemesraan di dalam kelas."
Malah berakhir menjadi seperti ini.