Love Day!

Love Day!
Chapter 16 : Makan Malam


__ADS_3

"Heh, tak kusangka Arta pandai memasak."


"Karena tinggal sendirian, terkadang aku juga memasak."


"Begitu."


Aku mengiris beberapa bawang yang mana kuberikan pada Rosalie sebelum membantu memotong bahan lainnya yang sebelumnya sudah kubersihkan.


Di luar dugaan Rosalie memanggilku.


"Akhir-akhir ini dia selalu ceria aku sangat senang melihatnya, mulai sekarang tolong jaga putriku," katanya tersenyum lembut.


Aku sedikit terdiam heran, meski begitu aku mengangguk mengiyakan sampai Natalie muncul dengan pakaian biasa, dia mengenakan celana pendek serta kaos yang terlihat sederhana namun memiliki nilai berbeda dari pemakainya.


Entah kenapa itu terlihat cocok dengannya.


"Ada apa Arta, apa kau ingin melihat bokongku?"


"Aku tidak ingin melihatnya."


"Ara, kuharap kalian tidak melewati batasan itu."


"Anda salah paham, orang ini hanya selalu menggodaku."


"Aku tidak melakukan itu," Natalie segera membuang wajahnya yang memerah lalu menyeretku keluar dari area dapur.


"Pokoknya sekarang kau mandi dulu, biar aku yang akan membantu mama."


"Kalau begitu aku mandi dulu."


Baru beberapa langkah Rosalie berkata.


"Arta kau boleh memangilku mama juga loh."


Buakh.

__ADS_1


Karena terkejut aku menyemburkan sesuatu dari mulutku.


"Nikmati pemandiannya, kau boleh menginap juga loh."


Ibunya lebih merepotkan dari putrinya, tapi tempat ini dipenuhi kehangatan, selesai mandi aku kembali memakai seragam sekolahku. Natalie sudah kehilangan ayahnya sejak kecil karena itu tidak ada pakaian pria sama sekali yang bisa aku pakai kecuali seragamku ini.


Rosalie menawariku pakaian, hanya saja itu gaun.


Aku mana mungkin memakainya.


Selagi duduk di meja aku memperhatikan kedua orang yang sudah menyelesaikan masakan mereka, di sampingku adik Natalie bernama Nayla sibuk melukis di atas buku gambarnya.


"Gambar yang bagus."


"Terima kasih, ini adalah pahlawan dari serial tv yang sering aku tonton, Apel man."


Dia memakai kostum warna-warni seperti superhero biasanya hanya saja kepalanya apel.


"Apel man, Apel man."


"Aku mengerti."


Natalie dan Rosalie mulai menempatkan semua makanan di meja, Rosalie menuangkan nasi ke mangkukku lalu memberikannya kepadaku.


Ini pertama kalinya sejak lama aku makan dengan seseorang.


Aku mengambil beberapa lauk dengan sendok lalu memakannya, entah kenapa ada sesuatu di wajahku.


"Arta kau menangis?"


"Makanan ini sangat enak, enak sekali."


"Makanlah yang banyak.


Ketiga orang ini hanya tersenyum ke arahku.

__ADS_1


Di desa aku hidup bersama dengan kedua orang tuaku dan dua adik kembarku, di sana kami hidup sangat sederhana dan terkadang kami hanya bisa makan secukupnya.


Ayahku sudah sakit-sakitan dan hanya bisa berbaring di tempat tidur sementara ibuku hanya bekerja sebagai pekerja serabutan, ketika waktu SMP aku sempat ingin bekerja akan tetapi ibuku malah melarangku dan bilang untuk tetap fokus bersekolah, namun sejujurnya aku membenci sekolah.


Sekolah hanya tempat yang mengerikan dimana aku hanya akan sendirian meski begitu, suatu saat ketika aku pulang sekolah aku tidak sengaja berpapasan dengan seorang ibu dan anak di jalanan umum.


"Ibu, setelah besar nanti aku ingin menjadi dokter."


"Dokter? Menjadi dokter itu sangatlah sulit loh, kau harus belajar sangat rajin dan ibu yakin saat kau melakukannya impianmu akan terwujud."


"Benarkah?"


"Tentu saja, kerja keras tidak akan mengkhianatimu, jangan pernah berfikir bahwa orang yang memiliki bakat lebih unggul darimu karena sebenarnya semua orang memiliki kesempatan yang sama."


"Baik ibu."


"Mari pulang, ibu akan memasakanmu makanan yang kau sukai."


Aku hanya melihat kepergian keduanya dari kejauhan.


"Dokter kah? Apa aku bisa menjadi seperti itu," gumamku demikian.


Sejak itu sesulit apapun atau sebenci apapun aku di sekolah, aku terus belajar dan belajar. Saat lulus dari SMP ibuku memberikanku uang tabungannya untuk pergi dari desa dan bersekolah di SMA.


Karena itulah aku harus bisa merubah kehidupan kami di desa menjadi lebih baik.


Akan tetapi.


Sekembalinya ke Rusunku seseorang tiba-tiba saja mengetuk pintu kamarku, awalnya aku kira dia Natalie akan tetapi dia adalah tetangga di rumahku di desa.


Ekpresinya tampak dipenuhi kesedihan.


"Paman, kenapa kau ada di sini?"


"Arta dengar baik-baik, ayahmu telah meninggal dunia aku datang untuk menjemputmu pulang."

__ADS_1


Entah kenapa rasanya dunia benar-benar meninggalkanku.


__ADS_2