
Di waktu istirahat itu, Natalie menyeret kursi dan mejanya agar menempel dengan mejaku, dia mengambil bekal di dalam tasnya dan itu rasanya terlalu berlebihan untuk dimakan seorang diri.
"Mulai sekarang aku yang akan terus membuatkan bekal untuk kita berdua karena itu mulai besok, Arta tidak boleh membawa bekal lagi."
Ini terlalu mengejutkan hingga menjadi sebuah kenyataan, mendapatkan bekal yang dibuat sendiri dari seorang gadis merupakan harapan yang diinginkan setiap laki-laki di manapun mereka berada, aku tidak menyangka bisa mendapatkan hal special seperti itu.
"Buka mulutmu Arta, akan kusuapi.. Aaaa."
Orang-orang mulai menatapku selagi bertanya-tanya soal hubungan kami berdua, beberapa juga ada yang mengirim kebencian ke arahku.
"Bagaimana?"
"Rasanya sangat enak."
"Hore, dengan ini berarti level keistrianku naik satu tingkat kan?"
Level apaan itu?
Aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh dan menikmati makanan yang diberikan oleh Natalie, aku pun membalas kebaikannya dengan memberikan bekal yang kupunya.
"Heh, kenapa wortelnya di bentuk seperti hati, dan sosisnya juga dibuat seperti gurita?" tanya Natalie.
"Ini buatan ibuku, dia suka membuat design karakter ke dalam bekal kami, ayahku dulu juga sering menikmati makanan seperti ini," mendengar hal itu, mata Natalie mengkilap cerah.
Dia mendekatkan wajahnya ke dekatku.
Ketika dia seperti ini, aku selalu merasakan firasat buruk darinya.
"Aku juga ingin mencoba membuatnya, apa bibi mau mengajariku yah?"
"Ah iya.. akan kutanyakan nanti, lebih baik sekarang kita makan lagi."
"Baik."
__ADS_1
Pelajaran terakhir kami adalah pelajaran olahraga, seperti biasa aku akan bergerak paling akhir di antara teman sekelasku, sedangkan Natalie selalu berada di depan semua orang.
Aku duduk di tanah selagi menyaksikan semua orang bermain bola, biasanya aku akan sedikit menjauh dari mereka agar mereka tidak akan terganggu dengan keberadaanku, namun sekarang sesuatu yang aneh telah terjadi di sini.
Semua teman sekelasku tiba-tiba berdiri di depanku.
"Mari bermain bola."
"Bukannya kalian semua takut padaku?" aku balik bertanya.
"Yah, kau memang menakutkan... tapi kurasa hal itu tidak apa sekarang, jika Natalie bisa bergaul denganmu, kurasa kami juga harus bisa melakukannya.... entah kenapa kami minta maaf karena selalu menghindarimu."
"Kami minta maaf," disusul yang lainnya juga.
Untuk pertama kalinya seseorang pergi sejauh ini untukku.
Aku berdiri lalu mengambil bolanya dan berkata.
"Aah."
Untuk pertama kalinya juga aku bisa bermain dengan seseorang seperti ini. Kurasa ini hari terbaik yang pernah aku alami.
Setelah sekolah selesai aku dan Natalie pergi ke ruang klub, tak hanya Nurman dan Erin, Ibu Sania juga ada di sini selagi meminum kopinya.
"Kau mau Arta?"
"Itu bekasmu, aku tidak ingin terkena rabies."
"Kau berani sekali sekarang, serangan kuncian special."
Ibu Sania menjatuhkanku lalu menempatkan leherku di pahanya. Ia mengenakan stocking di balik roknya jadi itu membuatku tidak nyaman.
"Uwaahh... aku cuma bercanda, tolong lepaskan aku."
__ADS_1
"Bagaimana rasanya, ini jurus yang kupelajari dari pegulat profesional dari luar negeri."
"Tolong jangan mencoba hal berbahaya pada muridmu sendiri," kataku lemas lalu melanjutkan.
"Jika ibu di sini, apa jangan-jangan ada pekerjaan untuk kami?"
"Benar sekali, ibu baru saja pindah ke dekat sini, ibu ingin kalian membantu ibu pindah-pindah."
Nurman diam-diam menyelinap pergi sayangnya pintunya telah dijaga oleh Erin.
"Tidak secepat itu."
"Aku tidak ingin menggunakan fisikku."
"Kalian yakin mau menolak permintaan Ibu ini," Ibu Sania akhirnya melepaskan kunciannya dariku hingga aku terbatuk-batuk.
Dia menunjukan tatapan percaya diri.
"Kalau kalian membantu, aku akan membelikan pizza serta minuman dingin sebanyak yang kalian mau."
"Kurasa itu bukan tawaran buruk, belakangan ini kita hanya bermalas-malasan di ruangan ini," balas Erin yang mendapatkan anggukan Natalie.
Aku mengangkat tanganku untuk memberikan pertanyaan.
"Bukannya ibu bisa menyewa agen pindah rumah saja."
"Kenapa harus menggunakan agen, saat ibu memiliki murid-murid yang dapat diandalkan."
Orang ini hanya ingin memperkerjakan muridnya, karena ada imbalannya kurasa tidak masalah.
Saat aku mengunjungi tempat yang di sewa Ibu Sania, tubuhku langsung membantu, rupanya dia menyewa kamar di kediaman Cupid yang kukenal belakangan ini.
Sepasang pita yang dikenakan Natalie juga berasal dari tokonya.
__ADS_1