Love Day!

Love Day!
Chapter 40 : Masa Depan Soal Pernikahan


__ADS_3

Selagi memilah-milah layar ponselnya, Natalie duduk selagi tersenyum riang, dia duduk di sebelahku karena itu aku bisa mengintip setiap foto yang dilihatnya.


"Aku suka yang ini hehe."


Apa hanya dengan ini sudah cukup? Kami memang sudah dekat satu sama lain. Akan tetapi kami berdua tidak memiliki status seperti kekasih atau pacar.


Terkadang aku memikirkannya, jika tidak memiliki status, apa orang lain akan berusaha mendekati Natalie? Jika demikian, aku tidak akan punya hak untuk melarangnya ataupun sebaliknya.


Di sisi lain, apa aku bisa bertingkah layaknya pacar? Walau aku terlihat santai, sebenarnya aku selalu belajar ketika aku luang, terkadang karena itu waktu yang kuhabiskan akan sedikit bersama Natalie, apa itu juga masih bisa disebut pacar? Aku takut bahwa Natalie akan bosan dan memilih jauh dariku.


Saat pikiran itu dipenuhi keraguan perkataan Natalie membawaku dalam kenyataan.


"Nah Arta, bagaimana kalau kita berpacaran saja? Terkadang teman-teman sekelas bertanya padaku tentangmu dan aku kesulitan untuk menjawabnya."


Itu masalahnya.


"Kalau kita pacaran, aku tidak tahu akan layak disebut pacar?"


"Ini pasti karena studymu kan?"


"Um, aku pasti akan jarang bertemu denganmu atau berkencan bersama, itu mungkin akan membuatmu terganggu."


Natalie tertawa.


"Kamu ini terlalu baik, jika kita pacaran walau kita bertemu hanya sebulan sekali, aku tidak keberatan lagipula bukannya kita sering bertemu di sekolah, jika masalah kencan di luar aku tidak keberatan walau lebih sedikit dari pasangan lainnya."

__ADS_1


Yang dikatakan Ibu Sania memang benar, menjalin sebuah hubungan tidak akan berjalan lancar tanpa sebuah status, keduanya akan mengkhawatirkan satu sama lain ketika ada orang lain yang berusaha mendekati.


"Arta?"


Aku sedikit terdiam.


"Aku tidak tahu apa aku dan Natalie bisa disebut kekasih? Akan tetapi, kurasa lebih baik kita memiliki status satu sama lain sebagai kekasih."


Natalie terdiam.


"Apa ini waktunya kita berciuman?"


"Bukan, aku bahkan tidak memikirkannya sampai sejauh itu."


Natalie adalah tipe istri yang akan terus melekat pada suaminya setiap hari, dan membuatnya kelelahan pada pagi hari.


Kurasa tes psikologi waktu itu memang benar, dia ingin memiliki anak sebanyak dia mau, untukku sendiri aku ingin membatasinya saja.


Aku melanjutkan.


"Lain kali jika ada seseorang yang bertanya padamu, katakan saja kita pacaran."


Ekpresi sedih Natalie berubah menjadi lebih cerah dan ia tersenyum ke arahku selagi menganggukkan kepalanya, jika bertanya lebih rinci, ini mungkin yang disebut senyuman bidadari.


Padangan Natalie tertuju ke arah jendela di mana di seberang jalan ada keluarga terdiri dari ayah, ibu dan anak perempuan sedang berjalan bersama.

__ADS_1


Mereka terlihat sangat bahagia.


"Aku suka anak-anak, aku ingin memiliki 11 dari mereka."


Air kopi menyembur dari mulutku.


Itu sama dengan jumlah pemain sepak bola.


Dua atau tiga sudah cukup kan?


Bahkan kami masih memiliki dua tahun lebih untuk memikirkan soal pernikahan, paling tidak katakan itu ketika kita keluar dari SMA.


Aku kembali menenangkan diriku sedia kala dengan terus meminum kopiku.


"Arta itu gelas cangkirku loh?"


Aku melirik ke dalam cangkir yang kupegang.


Saking terkejutnya aku salah mengambil gelas miliknya yang berisi kopi pahit, sekarang perutku mual.


"Maaf Natalie, aku akan pesankan kopi yang lain."


"Tidak, jika Arta meminum punyaku, aku akan meminum punyamu juga, itu berarti ciuman tidak langsung."


Aku hanya tersenyum masam sebagai balasan, obsesinya tentang ciuman memang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2