Love Day!

Love Day!
Chapter 36 : Pulang Sekolah


__ADS_3

Seperti biasa saat aku memasukinya pantat Cupid akan menjadi pemandangan pertama yang kulihat.


Aku sempat berfikir dia sengaja melakukannya.


Pasti.


Aku mendesah pelan.


"Awawawa...aku tersangkut lagi, cepat tolong aku Arta."


"Aku yakin saat aku membantumu aku akan digiring ke penjara."


"Kenapa bisa?"


Aku membiarkan Natalie dan Erin mengeluarkannya, sementara sisanya melakukan tugasnya untuk mengangkut barang-barang dari mobil ke kamar yang diperuntukkan bagi Ibu Sania di lantai dua.


Saat Nurman turun ke bawah, aku bertanya pada ibu Sania.


"Apa Cupid kenalan ibu?"


"Sepertinya kau sudah mengenalnya, dia keponakanku, awalnya dia selalu menolak saat aku menawarkan diri untuk tinggal bersamanya tapi tak kusangka dia sedikit berubah, aku pikir apa itu juga merupakan pengaruhmu."


"Apapun yang ibu pikirkan tentangku, hal itu tidak benar."


Aku diam sejenak lalu melanjutkan.


"Aku tidak tahu kenapa Cupid mengira dirinya sebagai malaikat, bisa ibu beritahu aku?"


"Soal itu, mungkin kau tidak mau mendengarnya tapi saat Cupid kecil, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan... terakhir kali bersama orang tuanya mereka bermain peran sebagai malaikat."


Aku bisa mengerti hal itu, dengan kata lain selama ini Cupid ingin menjaga kenangannya bersama orang tuanya.

__ADS_1


"Aku akan mengangkut barang lainnya."


"Oh yah Arta, kudengar belakangan ini kalian membantu kelas satu... kurasa dia mendapatkan nilai bagus di pelajaran olah raga dan memberikan lima bintang untuk klub kalian."


"Bintang, jangan bilang bahwa ibu telah merencanakan hal jahat untuk kami semua."


Ibu Sania tertawa puas.


"Sebenarnya aku memposting informasi tentang kalian di situs sekolah, sebentar lagi akan ramai orang datang meminta bantuan kalian, karena itu berjuanglah."


Aku menghembuskan nafas panjang.


Awalnya klub pemecah masalah dibuat untuk mengatasi masalah Erin, sekarang klub malah menjadi suatu yang lebih diluar perkiraan.


Selepas pesta perayaan perpindahan Ibu Sania, aku mengunjungi kedai yang kini dikelola oleh keluargaku, memang belum seramai seharusnya namun paling tidak ada lima pelanggan di ruangan ini yang sedang menikmati makanan mereka.


Adikku juga ada di sini, dan mereka bermain di belakang agar tidak menggangu pelanggan.


"Duduklah, ibu akan menyiapkanmu makanan?"


"Biar ibu yang..."


"Tidak usah, aku saja, dulu aku juga pernah berkerja paruh waktu mencuci piring."


Aku pergi ke dapur lalu menyalakan kran air, tak lupa aku juga mengenakan sarung tangan karet untuk melakukannya.


Piring demi piring kubersihkan dengan baik, sampai sebuah hawa keberadaan yang tidak asing menancap punggungku.


Tanpa perlu berbalik aku tahu bahwa dia Natalie yang memandangku dengan tatapan berbinar, dia memang seperti hantu saja.


***

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang, ponsel Nurman berbunyi keras, dia mengintip siapa yang meneleponnya dan nama Sinta berada di layarnya.


Nurman mengangkatnya dan berkata.


"Mohon maaf, nomor yang Anda hubungi sedang sibuk silahkan.."


Lalu dari seberang telepon suara Sinta terdengar memotong.


"Aku tidak tahu orang yang cuma berdiri di tengah jalan bisa dikatakan sibuk."


Saat Nurman menengok ke belakang orang yang menjawabnya ternyata berada di sana.


"Kalau dekat tidak usah menelepon."


"Aku hanya iseng saja, apa kau mau pulang?"


"Rencananya begitu, klub kami tidak mempunyai permintaan baru karena itu aku lebih suka mengabiskan waktuku bermain di depan komputer."


"Game kah? Kau pernah mendengar nama game bernama Highland Fantasy."


Tentu saja Nurman tahu, game itu adalah buatannya sendiri, namun dia berniat untuk tidak mengatakannya.. alih-alih bersikap sombong, Nurman memilih menjadi seorang pemain juga.


"Aku sudah berada di Lv 100, bagaimana denganmu?" Sinta bertanya.


"Aku baru mulai memainkannya."


"Begitu, sayang sekali event baru saja selesai kemarin, kuharap event berikutnya akan jauh lebih menarik."


"Semoga saja, kudengar item langka akan diluncurkan dalam beberapa hari lagi."


"Kalau tidak salah tentang senjata legendaris kan, kudengar hanya akan ada 10 orang yang menerimanya, kuharap aku juga mendapatkan salah satunya, aku bahkan sudah membeli paket bulanan."

__ADS_1


Nurman bisa saja memberikannya, sayangnya dia tidak bisa melakukannya, bagi grand master seperti dirinya menjaga permainan tetap adil adalah tugasnya.


Pada akhirnya mereka pulang bersama selagi membicarakan tentang game yang mereka mainkan.


__ADS_2