Love Day!

Love Day!
Chapter 38 : Cokelat


__ADS_3

Di ruangan klub pemecah masalah yang mulai terasa ramai kami kedatangan beberapa orang yang membutuhkan saran kami.


Tak tanggung-tanggung sekitar beberapa siswa maupun siswi berbaris di koridor untuk mendapat gilirannya.


Aku bertugas sebagai pembuka pintu sementara tiga orang lagi menjadi pemberi saran.


Diam-diam aku mendengarkan masalah dari gadis kelas tiga yang duduk di sana.


"Sebenarnya, belakang ini aku sering tidak bisa tidur."


Natalie mengangkat suara.


"Sejak kapan hal ini terjadi?"


"Belakangan ini, aku tidak tahu... tapi setiap aku pulang sekolah aku merasakan seseorang terus saja mengikutiku, hingga aku merasa gelisah."


"Masalah penguntit kah?"


Nurman ambil bagian.


"Apa kau sudah berbicara pada orang tuamu, atau polisi?"


"Sudah, tapi mereka tidak bisa menemukan siapa pelakunya."


"Soal itu mudah bagiku, beri waktu aku sekitar 30 menit dan aku akan menemukan pelakunya."


"Memang bisa?"


Nurman mempersilakan gadis itu duduk sedikit jauh dari Natalie dan Erin, aku bisa membayangkan apa yang akan dilakukan olehnya, dia pasti mau meretas seluruh CCTV di kota ini dan melihat siapa yang terus mengikuti gadis tersebut.


Erin berkata ke arahku.


"Arta, selanjutnya."


"Oke."

__ADS_1


Aku membuka pintu dan seorang siswa laki-laki mendapatkan gilirannya.


"Sebenarnya ada game yang ingin kubeli dengan uangku sendiri, sayangnya setiap aku menabung aku tidak bisa berhenti untuk membelanjakannya, apa yang harus kulakukan?"


"Cobalah untuk menabung di bank mulai sekarang." kata Natalie sementara Erin mengusulkan.


"Aku pikir kau bisa mencari pekerjaan paruh waktu di toko game dan mencurinya saat lengah."


"Kau ingin dia ditangkap yah, lebih baik kau menjual barang yang tidak diperlukan untuk membeli game, jadi kau tidak perlu menabung," kataku memotong.


"Aku tidak punya barang yang berharga, tunggu, mungkin aku punya di rumah."


"Semoga berhasil, selanjutnya."


Setelah 30 menit, perkejaan Nurman telah selesai, dia memberi data penemuannya ke ponsel si gadis.


"Kau bisa menunjukkannya pada polisi."


"Terima kasih banyak."


"Ada kemungkinan dia akan diikuti, Arta bisa kau mengawasinya."


"Aku tidak keberatan."


Atas pernyataan Nurman, aku mengikutinya secara diam-diam, kulihat ada seseorang yang melakukan hal sama jadi kuputuskan untuk menangkap kerah bajunya.


"Menguntit itu tidak baik loh," walaupun aku juga melakukannya.


Di lihat dari usianya mungkin dia berada lima tahun ke atas dari usiaku.


"Lepaskan aku."


Dia mendorongku menjauh.


Akibat keributan itu, gadis yang sebelumnya bersama Nurman diam menatap kami berdua dengan gelisah.

__ADS_1


"Sebaiknya kau menyerah saja, gadis ini tidak menyukaimu, sebentar lagi polisi akan menangkapmu juga."


"Berisik."


Dia mencoba meninju wajahku namun aku berhasil mengalahkannya, sebelum aku datang kemari Nurman memberikanku Stun Gun, dengan begitu aku berhasil mengalahkannya dengan mudah.


Aku mendekat pada si gadis sayangnya dia langsung melarikan diri dariku tanpa mengatakan apapun.


Itu cukup membuatku terluka.


Keesokan paginya di kelas, saat aku dan Natalie saling mengobrol gadis yang kemarin tiba-tiba saja muncul lalu menyodorkanku sebuah cokelat.


"Untuk kemarin, aku minta maaf dan juga terima kasih banyak," dia membungkuk rendah.


Aku sedikit heran kemudian mengambil cokelat yang diberikannya.


"Tidak apa-apa."


"Sungguh?"


"Iya, kalau ada masalah lagi silahkan datang ke klub, kami akan dengan senang mencoba membantu."


"Baik."


Gadis itu keluar dengan terburu-buru sementara Natalie melirik ke arahku cemberut.


"Beruntung sekali mendapatkan cokelat dari seorang gadis."


Aku hanya tersenyum masam.


"Apa kau juga mau?"


"Tentu saja, tolong suapi aku."


"Ambil saja sendiri," kataku selagi memakan satu cokelat.

__ADS_1


"Muu... lain kali aku juga akan membuat cokelat yang banyak."


__ADS_2